134.
Jangan bebal.
jika dia enggan,
usah memaksa.
Berkemaslah, sejauh yang tak terkira.
Cukuplah pastikan kelak melihatmu,
pusara sesal karena telah melewatkan orang baik sepertimu memakannya hidup-hidup.
Mendung, 15.02 | 21 Februari 2023.

seen from United States

seen from Netherlands
seen from United States
seen from Austria
seen from China
seen from Ukraine
seen from South Korea

seen from United States
seen from Russia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from China
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from China

seen from United Kingdom

seen from France
seen from China
seen from United States
134.
Jangan bebal.
jika dia enggan,
usah memaksa.
Berkemaslah, sejauh yang tak terkira.
Cukuplah pastikan kelak melihatmu,
pusara sesal karena telah melewatkan orang baik sepertimu memakannya hidup-hidup.
Mendung, 15.02 | 21 Februari 2023.
Haruskah Menutup Pintu?
Oleh @haloedwardf
Dingin seperti es batu
Menutup diri dalam tempat beku
Di penghujung waktu
Haruskah kau menutup pintu?
Seperti cahaya menembus kaca
Menyinari jiwa dan raga
Kepadamu lah diriku bertanya
Bisakah pintu itu biarkan terbuka?
Penghuni Ambang Pintu
Telah lama kubiarkan kau duduk di ambang pintu, tanpa kepastian hendak mundur ataukah maju. Kau hanya bergeming. Menggantung janji-janji semu di atas kepalamu, memastikan tidak ada celah untuk selainmu.
Sesiapa yang datang kau usir sesukamu. Berlagak kau telah menjadi penghuni tetap di hatiku. Padahal, kau masih sebatas di ambang pintu, menjadi tamu. Apa maumu?
Kau menghalangi nama-nama baru yang hendak menemuiku. Katamu, "Ini kediamanku, enyahlah segera dari depan pintu."
Sampai akhirnya, kau melihat pintu lain menganga di seberangmu. Pintu yang lebih lebar, yang baru saja menguarkan wangi keindahan. Dan, inilah kau yang sebenarnya. Kau beranjak tanpa kata, meninggalkan yang kau sebut rumah, melenggang tanpa rasa bersalah.
Teganya kau memaksaku menutup pintu dengan segera. Jejakmu yang sebatas di ambang menganga sudah kucabut, tak berguna. Walaupun hanya di ambang pintu nyatanya kau berhasil diam-diam menyelundupkan harapan palsu ke ruang terdalamku. Hingga tak ada lagi inginku membuka pintu, membiarkan ruangan itu kosong tanpa temu.
Kau ... Enyahlah dari hadapanku.
Pintu hatiku tak pernah tertutup untukmu dik, jika kau mau, kuncinya tetap sama, segenggam cinta juga segenggam rindu; darimu.
Pukul 10.04
batu pualam juga akan retak dan berlubang karna air, jua pohon yang ditebang itu akan tumbuh diselah sela batu bentuk tunas harapan dan penerimaan, lalu langit biru itu akan berubah warna hitam dan si cantik lembayung tak dipungkiri menambah takjub, lalu bagaimana aku? Kau dingin tak ubahnya ubin dilapis kristal es, angin yang menusuk kulit dan tulang, serapat itukah pintu hatimu, tuan?
Kau marah dan membatu, kau ciptakan badai dan mengutuk tiap tetes hujan yang jatuh, hatimu kau kunci dalam kebencian yang tak lain kau paksakan sendiri, kenapa begitu menutup diri untuk cinta anganmu yang tak bertuan?
Aku tidak mau kau larut dan mengunyah ampas-ampas kenangan itu, mari duduklah bersebelah tak perlu sibuk merangkai kata, aku fasih dalam kesunyian.
Aku tak mau diganggu, aku butuh waktu untuk kesendirianku.
Memilihmu
Jika hatiku sudah memilihmu, nama-nama lain menjelma kemungkinan yang kulewatkan,
sebab aku takkan membuka pintu selain darimu.
Kadang, bising yang datang perlu kita hadang, menutup pintu lalu biarkan ia pulang.
Sebab, terlalu banyak kata-katapun membuat telinga bosan.
Lalu biarkan diam menjadi tempat dalam hati ber-ruang.
Sajak ke - 21