Berbuat, mengajak, dan menjaga baik-baik pada siapapun temanmu :)
@merinaikata | April 2019

seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from Germany

seen from United Kingdom
seen from China
seen from United States

seen from Israel

seen from Mexico

seen from Israel

seen from Israel

seen from Israel

seen from Israel
seen from Russia
seen from Netherlands

seen from Singapore
seen from United States
seen from Israel
seen from United States
seen from Russia
Berbuat, mengajak, dan menjaga baik-baik pada siapapun temanmu :)
@merinaikata | April 2019
Sesederhana yang Bisa Kaucapai
Waktuku kian terasa melambat. Kini ada rasa yang berbeda, setelah bertemu denganmu pertama kali, setahun yang lalu. Dengan segala kebaikan yang kamu punya. Pantaskah ku kira membersamai? Tanyaku hampir setiap hari.
Bila memang kauingin mencipta langkah, mengapa kaupertanyakan? Tiada yang memastikan pantas adalah sesuatu yang kucari. Dan pertanyaanmu itu ternyata hanya mengawang di udara—mencaricari jawaban.
Aku mencoba untuk menciptakan langkah. Hanya saja langkah ini bagiku hanyalah seperti jejak pasir yang dihempas ombak. Begitu mudah terhapus, begitu mudah hilang.
Keraguan telah memeluk rasamu. Mencegahnya untuk mengerti bahwa apa yang kaubutuhkan ialah langkah maju. Bukan, tentang bertahan tanpa mencipta apa-apa.
Meski ragu merenggut jiwaku. Tapi apakah dirimu tahu tentang langkah yang kuciptakan? Perpisahan sudah di pelupuk mata, mungkin ini adalah jawaban untukku. Haruskah kini aku menyerah?
Apa pun yang kauinginkan, kau yang memutuskan. Hanya saja, jangan biarkan ingin menguap menjadi angan. Aku (masih) di sini, maju sampai di satu titik di mana aku menunggu langkah darimu.
Inikah jawabanmu? Aku masih meragu bahwa aku bisa menyamai langkahmu. Biarlah rasa ini menjadi sesalku sendiri. Aku hanya ingin melihatmu terus bergerak maju. Meski nantinya bukan aku di sana yang membersamai.
Penyesalan hanya akan menelanmu dalam-dalam; bila benar kau menginginkan perasaan yang sama, mulailah bergerak. Tinggalkan keraguan di belakang.
Benarkah kau janjikan perasaan itu untukku? Bagaimana caranya agar aku bisa menggapai uluranmu? Bahkan ragamu saja kini sudah tidak di dekatku. Semesta menjauhkannya dariku.
Jadilah sesederhana yang bisa kaucapai; hingga waktunya tiba, kauakan tahu, bahwa kita akan bertemu di satu titik yang sama; titik tempatku berdiri. Bila kauyakin, temui aku di titik ini. Dengan begitu, kauakan tahu bahwa apa yang kita inginkan adalah masa depan yang sama.
Bila memang itu benar. Izinkan ku untuk mencipta langkah yang sederhana namun pasti. Hingga disatu titik aku memilih untuk tidak kembali menengok kebelakang, dan menaruh baik-baik keraguan yang dulu sempat memeluk rasa. Bila memang benar, aku tidak takut lagi untuk berharap.
Sebuah kolaborasi antara @merinaikata dan @ariqyraihan
25 Agustus 2017 | #KolaborasiAgustus edisi 14
Aku selalu diajarkan untuk selalu sabar atas segala hal, tapi aku tak pernah diajarkan untuk menerima segala perasaan yang ada.
Tidak bisa dipungkiri manusia akan selalu diliputi dengan berbagai perasaan di sepanjang hidupnya.
Tidak ada perasaan yang salah, yang salah adalah cara kita mengekspresikannya.
Selamat bertumbuh kawan :)
@merinaikata | April 2019
Bisa melihat, mendengar, berbicara adalah lengkap. Tapi lengkap bukan berarti utuh. Orang yang lengkap belum tentu utuh.
Tapi seringkali menemukan orang yang tak lengkap namun mereka utuh. Utuh berarti menerima bahkan mencintai keadaan dan kondisi diri sendiri apa adanya.
Semoga bisa selalu..
Utuh bersama diri sendiri.
@merinaikata | 19 Februari 2019
Langit dan Jarak
Bolehkah penghuni bumi mencintai langit?
Katanya bumi dan langit itu adalah dua hal yang berbeda.
Tapi lihat meskipun mereka sangat berbeda, mereka tak pernah menjadi musuh sama sekali.
Malah sebaliknya.
Bumi tak pernah membenci langit, dan
Langit tak pernah mengkhianati bumi.
Keduanya berkolaborasi untuk melukiskan karya terindah yang Allah ciptakan.
Ya, aku manusia bumi yang mencintai langit.
Bagiku tak ada yang se-setia langit, meski jaraknya begitu jauh untuk ku gapai.
Tapi kau tahu dia akan selalu ada.
Tak apa meski jauh tapi aku yakin ia takkan pernah pergi.
Mungkin aku bisa menemukan teman di langit, adakah?
Dan ternyata Allah begitu baik, Disaat jarak rasanya mustahil untuk diluruhkan.
Ialah Hujan, ia turun sebagai alat untuk bumi dan langit bisa bercengkrama bersama.
Tanpa ada lagi jarak.
Disaat itulah akupun bisa memeluk langit, sesuka ku dan sepuas ku.
@merinaikata for @rumpunaksara | 11 Agustus 2017
Ada yang rindu, Ada yang ingin bertemu,
Langit sedang rindu dengan bumi-nya. Atau langit hanya sekedar ingin mengembalikan air yang ia pinjam dari laut bumi.
Langit bulan November selalu begitu, Selalu membuat senja kuyup. Tapi begitu teduh didalam.
Kenangan masa kecil, Bercampur dengan lumpur dan bau hujan.
Kenangan masa kini, Bercampur dengan egois dan hangatnya selimut.
Kita berubah, Tapi November tidak pernah berubah. Hujan nya tak pernah pergi.
Dan November selalu bisa membuatku utuh. Utuh bersama diri sendiri.
Mengingat bulan November seperti mengingatmu ibu, Mengingat bulan November seperti mengingatmu ayah.
Menjadi Edelweis
Kesepian, sendiri merupakan kata yang tak pernah absen dari diriku. Aku berada jauh diantara bunga lainnya. Jika tidak begitu, mungkin aku bisa saja mati. Meski kematian itu sebenarnya bisa terjadi kapan dan dimana saja.
Aku tahu mengapa aku ditaruh jauh sekali, karena aku ini sebenarnya senang sekali jika dipuji. Padahal aku sadar sebenarnya aku ini biasa saja. Mungkin itulah maksud Tuhan. Tuhan tidak mau aku menjadi sombong atau iri dan dengki pada bunga lainnya, karena ternyata mereka lebih harum dan cantik.
Aku senang menjadi sendiri Karena dengan sendiri aku tidak banyak berprasangka, yang nantinya bisa berakibat buruk pada hati Aku senang tinggal di gunung Sang gunung tak pernah merasa besar, meski sebenarnya ia beribu-ribu kali lipat besarnya dariku. Edelweis dan Gunung sudah bersama sejak beratus-ratus abad yang lalu sampai beranak-pinak, bercucu-cicit. Bisa dikatakan jika manusia bercerita tentang gunung maka artinya cerita itu pun juga milikku, begitupun juga sebaliknya.
Meski sendiri tetapi aku pun bahagia karena dapat menjadi teman bagi para pendaki. Hanya orang yang mau berjuang ditengah dakian curam yang tak jarang pula ditemani dinginnya hujan yang dapat melihat langsung diriku. Menjadi penyejuk mata bagi para penakluk sang gunung.
@merinaikata | 12 September 2017
Hujan Reda
Air hujan turun meninggalkan talang
Hujan reda, tersisa hanya genangan
Kenangan merebah, hujan pun mereda
Selalu ada alasan atas apapun
Selalu ada akhir atas segala alasan
Biarkan kini hujan reda, meninggalkan talang
Akan ada waktu untuk setiap hujan
Akan ada reda untuk setiap hujan
Semoga hatiku tetap ditempatnya
Tidak hilang teralir dalam talang