Sore itu Rinai sedang berdiam diri di suatu halte bus, menunggu bus biru menuju jatinangor.
Buku bertema self-help tak pernah absen dari tasnya, menjadi senjata terampuh agar tak mengantuk plus menghindari orang lain yang suka tiba-tiba mengajak bicara. Tapi ia tetap menanggapi jika pertanyaan dari stranger memang penting, jika mengarah ke yang lain siap-siap keluarkan senjata (buku).
10 menit sudah Rinai menunggu. Halte tak ramai. Hanya ada Rinai dan beberapa anak berseragam putih abu-abu berbincang disertai ketawa renyah, entah mereka benar-benar sedang menunggu angkutan umum atau memang mencari tempat gratis untuk berkumpul.
Rinai terusik tapi memilih kembali tenggelam dalam bacaannya.
"Nai?" Panggil seseorang dengan suara berat dari salah satu ujung halte.
Rinai masih tenggelam, tak sadar ada yang memanggilnya.
Kemudian seseorang itu pun mendekati Rinai karena merasa panggilan nya tidak digubris. Orang itu mengibaskan tangannya di depan mata Rinai yang menatap lurus pada buku yang dibacanya.
Rinai pun kaget, siapa orang yang tidak jelas tiba-tiba mengibaskan tangan di depan matanya, tanyanya dalam hati.
"Loh Samudra, ngapain disini?" Tanya Rinai spontan. Tidak menyangka akan bertemu seseorang yang ingin dihindarinya.
"Haha kebetulan ya." Jawab Samudra diiringi ketawa khasnya.
"Kebetulan itu mitos, yang nyata itu takdir." Ucap Rinai spontan.
"Haha iya oke kalau gitu takdir. Lagi baca apa? Serius amat."
"Pertanyaan nya sangat tidak relevan ya, biasanya orang kalau ketemu akan bertanya, sedang apa disini? Mau kemana?" Rinai hanya merasa aneh dengan basa-basi ini.
"Karena saya sudah tau jawaban dari kedua pertanyaan itu, pertama kamu sedang menunggu bis, kedua tujuanmu adalah jatinangor." Ucap Samudra jelas.
"Walaupun sebenarnya pertanyaan diawal kamu juga pasti sudah tau jawabannya kan." Rinai mengangkat buku yang sudah dari tadi ia tutup dan ia yakin Samudra juga sudah melihat judul dari buku itu sendiri.
"Haha oke kamu benar. Itu cuma pertanyaan basa-basi." Samudra kalah telak.
"Jadi pertanyaan saya diawal belum dijawab." Rinai mengingatkan kembali pertanyaannya tanpa basa-basi. Dan pertanyaan nya bukan pertanyaan basa-basi karena ia memang ingin tau untuk apa Samudra ke halte sedangkan ia punya kendaraan motor sendiri.
"Ahh itu saya sedang mengantar teman." Jawab Samudra. Rinai baru menyadari ternyata daritadi ada seorang perempuan berdiri disamping Samudra. Cantik, Rinai mengakui dalam hatinya. Tapi ada sesuatu yang sepertinya sedang ditutupi, muka perempuan itu murung.
Kata teman yang diucapkan Samudra tanpa sengaja kembali menyayat hati perempuan disampingnya itu.
"Hai, aku Rinai." Rinai memperkenalkan diri kepada perempuan itu.
"Mentari." Ucap perempuan itu singkat disertai senyum tipis dan terdengar lemah.
Rinai merasa dirinya serba salah, ada hawa yang tidak biasa antara Samudra dan perempuan itu. Dan sepertinya bila ia masih terus menunggu di halte itu dirinya akan merasa canggung dan seperti menghambat sesuatu yang harusnya diselesaikan antara Samudra dan perempuan itu.
"Samudra, saya kayaknya harus segera pergi. Lupa ada barang yang lupa dibeli tadi." Rinai tak suka berbohong, tapi mau bagaimana lagi Rinai tak bisa berlama-lama di halte ini.
"Loh kok bisa?" Tanya Samudra terdengar nada khawatir.
"Biasa saya suka lupa orangnya. Dah saya duluan ya. Assalamu'alaikum." Rinai segera menjauh dari halte dan memutuskan untuk menunggu bis di tempat lain.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Samudra, dan kata 'hati-hati' hanya sempat terucap dalam hatinya. Rinai sudah lebih dulu menghilang dari hadapannya. Dengan langkah yang terburu-buru.
20.03 Waktu Indonesia bagian Jatinangor.
Sebuah pesan masuk. Dari Samudra.
Alhamdulillah sudah. Kenapa?
Tipikal pesan Rinai, ia tak suka basa-basi. Ia selalu bertanya langsung soal maksud dari orang-orang yang bertanya lewat pesan. Sudah lelah ia dipermainkan basa-basi.
Mungkin kamu bertanya-tanya. Tadi saya baru putus.
Jawab Samudra to the point.
Doa Rinai. Rinai tidak tau respon apa yang harus diberikan pada orang yang baru putus. Karena ia tak pernah mengalaminya.
Doain ya semoga saya bisa ketemu jalan kembali, saya sudah terlampau menjauh.
Jawab Rinai singkat namun sungguh.