MENCARI (MENEMUKAN) JAWABAN ATAS PERTANYAAN DAN PERISTIWA DALAM HIDUPMU
Hi readers, long time no posting ya. Maaf baru sempat posting karena ada beberapa halangan dan gangguan terutama karena sudah memasuki semester 7 yang pastinya sudah harus menyiapkan satu buku sakral yang nantinya sebagai bukti untuk mendapatkan gelar sarjana huhu, untuk yang sama sama sedang mempersiapkan Tugas Akhir atau Skripsi keep fighting ya hehe.
Beberapa belakangan ini ada keinginan untuk mulai posting lagi, entah itu posting cerita – cerita yang aku lalui atau sekadar posting puisi – puisi galau yang sebenarnya entah untuk siapa xixi. Well, sebenarnya ada banyak tema yang sudah aku keep untuk bahan – bahan posting-an, mungkin sudah banyak karena tema – tema itu aku kumpulkan sejak semester lalu. Sayangnya, handphone lamaku yang notabene nya sudah berisi macam – macam dan khususnya berisi tema – tema posting-an sudah dalam kondisi mati total. Alhasil, lagi – lagi harus menggali ide untuk tema – tema posting argh, but yasudah lah ya… masih satu produk dari otak yang sama kan hehe.
Pasti banyak hal yang telah terjadi dalam hidupku, hidupmu, dan hidup kita semua. Dan pasti banyak dari kita yang mempertanyakan dan mencari jawaban mengapa hal tersebut terjadi dalam hidup kita. Baru – baru ini Tuhan memberikanku sebuah jawaban atas peristiwa yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Ya, walaupun hal tersebut tak terjadi langsung pada hidupku akan tetapi mau tidak mau peristiwa tersebut juga berhubungan dan berdampak denganku.
Apa kalian pernah menyadari suatu ketika kalian berada dalam kondisi sendiri dan tiba – tiba dalam kondisi kesendirian itu alam pikiran kalian memikirkan sesuatu hal yang tak terduga, yang tak pernah kalian sangka – sangka?
Ya, aku pernah mengalami hal tersebut, misalnya saat itu aku berada di kampus dan aku ingin pulang. Akan tetapi, yang biasanya aku pulang bersama temanku, aku harus pulang sendirian menikmati ramainya lalu lalang jalanan oleh banyaknya kendaraan. Rasanya agak miris ya di tengah keramaian tetapi merasakan kesendirian (no baper ya). Atau mungkin saat sedang berada di kamar sendirian, duduk termenung. Dan biasanya di tengah kondisi tersebut pikiranku melayang entah kemana.
Belakangan ini pikiranku sedang bermain “liar”. Dalam arti aku sering tiba-tiba memikirkan sesuatu hal yang sangat kompleks pada tahun lampau. Namun, seketika Tuhan memberikanku kemampuan mengolah dan menerka – nerka mengapa hal tersebut terjadi. Ya, dengan kata lain aku menyimpulkan hasil pemikiranku dan aku mendapatkan jawaban alasan mengapa hal tersebut terjadi.
Terkadang ketika sedang bimbang atas suatu hal atau ketika sedang mencari suatu jawaban, sebenarnya kita sudah tahu jawaban tersebut. Hanya saja hati kita sering mengelak, hati kita sering kali tidak (belum) mampu menerima kenyataan yang sesungguhnya. Dan untuk itu kita harus melakukan satu hal yaitu “berdamai dengan diri sendiri”. Berdamai pada diri sendiri untuk tidak terus menyalahkan diri ini atas sesuatu hal yang tidak kita kehendaki. Berdamai untuk dapat mengatur emosi dalam diri atas segala hal yang terjadi. Berdamai untuk tetap bersyukur atas segala kondisi yang menghinggapi. Berdamai dengan diri sendiri untuk tidak terus menerus membuat luka yang menganga pedih meratapi.
Ya, kata orang waktu yang akan mengobati luka. Waktu pula yang akan memberikan jawaban atas apa yang terjadi. Dan akhirnya aku menyadari secara langsung makna tersebut. Ada banyak cara Tuhan mendewasakan diri seseorang. Salah satunya adalah dengan memberikan kita akal dan pikiran untuk berpikir dan mengolah pemikiran kita menjadi sebuah jawaban yang memiliki arti dalam hidup.
Dan itulah kuasa dari sang waktu. Waktu mendampingi jalannya sebuah proses dari peristiwa, ketentuan, dan takdir. Sebuah proses mengajarkan dan mendidik kita untuk menggunakan akal ketika mendapatkan atau menemukan sebuah masalah, menyelesaikan masalah, dan kemudian mencari makna dari terjadinya kejadian atau masalah tersebut. Ya, waktu yang akan membawa potongan – potongan hikmah dari setiap kejadian kemudian Tuhan memberikan petunjuk kepada kita untuk mempergunakan akal yang telah Ia berikan untuk mengolah potongan – potongan hikmah tersebut menjadi satu kesatuan makna sesungguhnya.
Mungkin juga kondisi ini yang dinamakan waktu untuk bermuhasabah pada diri sendiri. Ada satu waktu dimana sebenarnya Tuhan memberikan kita waktu untuk concern pada diri kita sendiri. Satu waktu untuk mengevaluasi diri atas perbuatan yang kita lakukan agar di kemudian hari dapat lebih baik lagi atau untuk mempertemukan antara batin dan logika untuk saling berdiskusi yang nantinya membuat kita semakin mengerti akan suatu hal yang telah terjadi atau yang telah ditetapkan.
Ya, mungkin itu adalah sedikit celotehanku hari ini. Mari kita sama – sama belajar memanfaatkan waktu untuk segala hal yang positif khususnya untuk bermuhasabah diri supaya menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Sekian.