Dalam pangkuan Al-Quran, Pantjasila akan hidup subur.
Di mata seorang Muslim, perumusan Pantjasila bukan kelihatan apriori sebagai satu "barang asing" jang berlawanan dengan adjaran Al-Quran. la melihat dalamnya satu pentjerminan dari sebagai jang ada pada sisinja. Tapi ini tidak berarti bahwa Pantasila itu sudah identik atau meliputi semua adjaran2 Islam. Pantjasila memang mengandung tudjuan2 Islam, tetapi Pantasila itu bukanlah berarti Islam. Kita berkejakinan jang akan kundjung kering, bahwa diatas tanah dan iklim Islamlah, Pantjasila akan hidup subur. Sebab Iman ke pertjajaan kepada Tuhan Jang Maha Esa itu tidak dapat di tumbuhkan dengan se-mata2 hanja dengan kata2 dan istilah "Ketuhanan Jang Maha Esa" itu saja didalam perumusan Pantjasila itu.
Berlainan soalnja, apabila sila Ketuhanan Jang Maha Esa itu hanja sekadar buah bibir, bagi orang2 jang djiwanja sebenarnja sceptis dan penuh ironi terhadap agama; bagi orang ini dalam ajunan langkahnja jang pertama ini sadja Pantjasila itu sudah lumpuh. Apabila sila pertama ini, jang hakikatnja urat-tunggal bagi sila2 berikutnja, sudah tumbang, maka seluruhnja akan hampa, dan amorph, tidak mempunyai bentuk jang tentu. Jang tinggal adalah kerangka Pantjasila jang mudah sekali dipergunakan untuk penutup tiap2 langkah perbuatan jang tanpa sila, tidak berkesusilaan sama sekali.
Mohammad Natsir dalam Capita Selecta, Djilid 2, pada Ramadhan 1373/Mei 1954.