Fikrah Mahasiswa Dipertanyakan
🗃
Fikrah Mahasiswa Dipertanyakan
Kampus bukan hanya menjanjikan pendidikan, organisasi, karier dan hal intelektual lainnya. Mahasiswa ketika awal beraktivitas di kampus, memiliki fikrah (ideologi) yang masih ia yakini sejak kecil. Namun, lambat laun fikrahnya akan berbeda. Jika tak sejak kecil memiliki fikrah yang kuat, akan ada serangan dari arah mana saja. Hitam dapat tampak putih dan putih akan tampak hitam. Abu-abu. Fikrah yang dipahami sejak kecil belum tentu dapat bertahan ketika menjadi mahasiswa. Suatu ketika temanku bercerita bahwa, mahasiswa di kampusnya ada yang beragama Islam, namun ia tak menjalankan syariat. Menjalankan ajaran Islam hanya di rumah, untuk menghormati orang tuanya. Ia menyebut dirinya sebagai agnostik.
Agnostik dapat didefiniskan orang yang skeptis terhadap tuhan (dan agama), tetapi tidak menepis adanya tuhan. Jika ia diberi bukti yang kuat dapat saja percaya mengenai tuhan. Bagi orang agnostik, tak mau percaya agama dan tuhan jika tanpa bukti. Ada pula mahasiswa yang awalnya beragama menjadi ateis. Ateis dianggap orang-orang yang tak percaya tuhan apalagi agama. Ada juga mahasiswa yang awalnya ia berjilbab, ketika kuliah ia melepas jilbab. Sebab keyakinannya berubah bahwa, jilbab bukan kewajiban bagi perempuan. Hal-hal tersebut terpengaruh dari lingkungan mahasiswa. Lingkungan yang tak mendukung fikrahnya sejak kecil. Lingkungan yang tak mampu diubah, dan mahaiswa harus mengikuti lingkaran pertemanan. Jika mengalami perbedaan, tetap jalin pertemanan. Berbaur tetapi tak melebur. Seperti yang dicontohkan Mohammad Natsir, ia seorang pemimpin partai Masyumi, tetapi bisa berbincang-bincang dan minum kopi bersama D.N Aidit. Padahal D.N Aidit pentolan PKI (Partai Komunis Indonesia). Meski tetap adu argumen ketika berada di dalam gedung parlemen. Betapa perbedaan fikrah tak membuat keduanya saling membenci.
Keyakinan kita ketika kecil dapat berubah sering waktu, apalagi ketika menjadi mahasiswa banyak hal yang belum dipahami. Bahkan aku yang beragama Islam mengalami gejolak perbedaan. Di awal menjadi mahasiswa akan ada organisasi atau orang-orang yang mencoba mengubah fikrahmu. Hal yang sudah dipahami atau diyakini akan kamu pertanyaan.
Jika pertanyaan dalam benakmu, mampu dicari tahu dan menemukan jawabnnya. Selamat kamu tetap bertahan pada fikrahmu, terutama tuhanmu. Imanmu kokoh! Jika tak mampu kamu akan menjadi sosok yang berbeda dari sebelumnya. Karena pertanyaan itu tak berkesudahan. Menjawab gejolak pertanyaan tak melulu dengan buku. Membaca buku kadang belum menjadi jawaban tentang pertanyaan yang timbul. Diskusikan hal yang tak mampu dinalar atau sesuatu yang tampak asing. Karena kebuntuan ada, sebab kamu diam.















