Hujan dan bukan tentang kenangan.
Saya suka melihat bulir air di jendela. Yang tersisa saat hujan mulai reda. Saat suara hujan di luar rumah hanya tersisa gemercik saja. Tahukah kamu cerita tentang mereka?
Saya merasa mereka adalah air penerjun dari langit, dengan tanah pekarangan rumah tujuannya. Mereka mengemban misi untuk membasahi rumput, atau menjadi pelepas dahaga untuk mahluk mahluk Tuhan di luar sana yang tak punya kuasa untuk mencari sendiri minummya seperti manusia.
Tak semua air penerjun itu jatuh mulus langsung menghadap tanah. Ada yang jatuh di pohon lalu turun melalui dahan, ada yang jatuh di atap rumah lalu melewati saluran. Sebagiannya lagi terdampar di jendela rumah, dan mereka tertahan di sana. Sebagai buliran hujan yang berserakan, mereka harus kembali menyatu agar cukup berat untuk bisa meluncur ke bawah. Apa daya, mereka tak punya kuasa untuk berjalan ke atas, ke kiri, atau ke kanan tak peduli jarak antara bulir satu dengan bulir lainnya mau sedekat apa. Oleh Tuhan mereka hanya diperintahkan untuk terus ke bawah, mencari permukaan yang lebih rendah dari posisinya semula.
Dan sekarang, bulir-bulir hujan itu, tidak ada harapan selain sedikit keajaiban. Entah dengan bantuan angin, entah dengan bantuan apa. Untuk bulir yang cukup besar, ia masih punya sedikit kekuatan tersisa.
Berjalan perlahan, mengalir dan bersatu dengan bulir-bulir kecil lain yang ada bawahnya hingga kemudian membentuk menjadi butiran yang lebih besar, lebih kuat dan akhirnya bisa terjun bebas melewati jendela.
Untuk bulir-bulir kecil lainnya, bagaimana? yang sudah tak punya kekuatan sama sekali dalam berusaha?. Mereka tidak akan pasrah, tentunya. Mereka punya tugas dari Tuhan, untuk menyerah, bagaimana bisa? Mereka akan menanti suasana cerah. Sabar menanti, hingga matahari kembali menjatuhkan sinarnya. Saat panas sinar matahari cukup untuk meleburkan mereka, mereka akan menguap, menjadi partikel, menyatu dengan udara, menjadi cukup ringan untuk bisa diangkat kembali ke atas awan sana. Berkumpul lagi, menanti waktu yang pas untuk turun lagi, sebagai hujan, mencoba lagi, dan seterusnya.. dan seterusnya.
Begitulah ceritaku. Entah kalian mau memaknainya apa, terserah. Toh aku sekedar berkhayal sembari menghabiskan waktu suatu sore selepas hujan. Daripada membiarkan ingatan memantik kenangan tentang seseorang dari masa lalu.
Pict source : @aksarannyta