Percaya dan Yakin Semestinya Berdampingan [Moon Taeil]
"untuk yang berjuang akan mimpinya seorang diri, bahkan tanpa dukungan dan tidak ditemani oleh mereka yang disebut paling dekat; orangtua."
- Pramudya adalah kamu di sisi lainnya dunia. selamat membaca! -
Mungkin ini sudah kali ke-sekian namaku diserukan. Dipuja oleh banyak mata dan diberi teriakan nyaring oleh suara-suara yang butuh penghiburan. Ini kali ke-sekian yang seharusnya menyenangkan dan juga membahagiakan. Nyatanya demikian, meski di beberapa kesempatan tidak selalu sampai ke relung.
Terlebih ketika lampu sudah dinyalakan, namun hingga di sudut terjauh pun tak kutemukan mereka letakkan tepuk, bahkan hanya untuk sekadar duduk.
"Udah siap?" suara itu mampir di telinga diiringi dengan tepukan halus di pundak, tepat setelah aku ubah pakaian yang penuh gemerlap, jadi kaus putih yang kembalikan aku selaiknya anak yang tengah teriakkan cita-cita paling mustahil.
"Siap nggak siap, tetep harus siap bukannya?"
"Pram Pram, nggak siapnya lo itu kapan sih? Gue serius penasaran. Udah salto bahkan ngapain juga itu suara masih aja sempurna, gimana caranya?" gelengan kepalanya membuat aku tertunduk berterima kasih, seolah pujian memang hal yang kerap ingin kudengar berulang-ulang.
Seruan itu kembali mengisi gendang telingaku saat tanpa sengaja earphone kembali terlepas.
Satu hela napas mengalir lewat bibir yang sebentar lagi akan bubuhkan senyum, juga lagu paling terakhir, sebelum aku akhirnya kembali akan jadi si biasa yang tak pernah dibanggakan kedua orangtua.
Baru beberapa langkah aku menaiki tangga, setelah managerku mengusap punggung dan meyakinkan diri, sebuah teriakan menghentikan ketegangan yang sebetulnya menguasaiku diam-diam. "Mas Pram, tunggu!"
Aku menoleh. Rekah senyumnya membuatku meminta waktu sekejap agar yang lain biarkan ia mendekat. "Ada apa, Gendhis?"
"Aku bangga sama kamu! Mama Papaku juga bangga sama kamu, nanti aku teriak, 'aku tresna sama kamu' dari kerumunan penonton gapapa, ya?"
Binar matanya membuatku mau tak mau akhirnya menggelar tawa, "Boleh. Tapi emang nggak malu? Kamu emangnya di mana? Nggak gabung sama Mama Papa di VIP?"
"Enggak. Aku mau berdiri di dekat panggung aja. Aku mau teriak di tengah orang-orang, biar mereka tahu aku orang nomor satu yang sayang dan bangga sama kerja keras kamu hari ini."
Ia daratkan satu kecupan di pipi kiriku seraya lirih berbisik, "Selamanya. Dari dulu sampai besok nanti akan selalu sayang dan bangga."
Belum sempat aku memberikan respon apa-apa, ia sudah lebih dulu berlari, usai membuat semua kembali tersenyum bahkan tertawa usai mendengarnya berteriak. "Nanti di tengah panggung jangan bengong lama-lama, keburu tirainya ditutup, kamu lupa masuk lagi."
Pagelaran kisah cinta kami usai sejenak setelah disaksikan mata-mata yang begitu paham akan keseharianku. Aku tersenyum, kali ini untuk diri agar melangkah yakin serta mantap menuju tengah, untuk kembali jadi pusat rotasi orang-orang walau sebentar.
Lampu-lampu dipadamkan. Denting musik yang mengalun menemani suara langkahku yang menghentikan semua teriak, hingga menyisakan deru napas yang bersahutan antar satu sama lain.
Pelan namun pasti, sinar-sinar itu mulai menyoroti aku yang sudah berdiri tepat pada poros panggung utama.
Selama beberapa menit pandanganku menyisir seluruh ruangan. Satu persatu insan di sana menyambutnya dengan sukacita, mengalirkan rasa percaya bahwa aku tidak pernah salah memilih dan memihak. Hingga akhirnya kedua netraku temui binar paling terang milik Gendhis, juga empat bola mata yang kupastikan tengah doakan kesuksesanku malam ini.
Doa dari mereka yang tidak membesarkan tapi beri kepercayaan dengan penuh. Yang nyatanya tak pernah kudapatkan dari dua sosok yang tak pernah sudi injakkan kakinya di tempat aku merasa hidup dan juga cukup.
Malam ini berbeda, lagu terakhir kali ini aku persembahkan untuk keduanya. Yang mungkin masih selipkan doa di antara sujudnya. Yang mungkin masih harapkan aku pulang di tiap pagi harapan kembali dilangitkan.
'Mas sudah sudah buktikan, Bu. Mas sudah buktikan kalau ini hidup yang akan selalu mau untuk Mas jalani, bahkan sampai nanti tua. Meski mungkin Ibu dan Ayah masih belum juga mau untuk percaya, tapi Mas akan selalu beri percaya dan yakin pada diri. Maaf tidak bisa jadi anak yang tunduk dan patuh pada pinta. Tapi malam ini Mas buktikan, jika percaya dan dukungan semestinya jadi milik yang katanya tercinta.'