Wahai Muslimah, Hari Gini Masih Baperan? Oh, No!
Kita mungin sudah tak asing dengan kata "baper" atau "bawa perasaan". Istilah yang sudah kekinian ini ternyata menurut tulisan pakar Romansa memiliki beberapa arti, antara lain menjadi lebih peka (sensitif), terhanyut oleh keadaan/suasana, merenung dalam kegalauan atau kesedihan, dan tumbuhnya perasaan berlebih (dari yang awalnya biasa tidak ada).
Semua orang pun tahu bahwa istilah baper sendiri tak hanya dikenal di kalangan ABG, bahkan pada usia matang bahkan kelanjutan dari matang. Dan baper sendiri ternyata bukan menjurus tentang cinta saja. Karena menurut pakar Romansa tersebut, fase baper adalah fase dimana seseorang mulai 'tertarik' atau 'tergoda' atas sesuatu, sehingga orang tersebut rela untuk berinvestasi lebih agar mendapatkan yang dia mau.
Perhatikan salah satu ayat dari Kalamullaah berikut,
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah." [Q.S. Adz Dzaariyaat : 49].
Tapi pada kenyataannya masih banyak wanita muslimah yang lebih terseret perasaan akan hawa nafsu akan cinta perihal jodoh. Untuk itu, berikut tips untuk mengatasi rasa baper berlebihan itu agar menjadi baper positif.
Seberapa sering sih pikiran kita dipenuhi oleh si ‘doi’? Sehari tiga kali kah kaya aturan minum obat, atau bahkan lebih jarang atau parahnya malah tiap apa yang kita lakukan keinget ‘doi’? Coba sekarang setiap keinget ‘doi’ alihkan pikiran pada hal-hal yang mengingat Allah, dzikir misalnya, atau kalau mau lebih mantep lagi, cobalah sering mengingat mati. Bukan mendoakan cepat mati, tapi dengan mengingat kematian tentu membuat pikiran dan hati kita kembali menimbang sudah siapkah menghadapi kematian.
Sambil mengubah mindset kepikiran doi, mulailah mencari majelis ilmu, datang dan resapi setiap ilmu yang ada. Tak hanya teralihkan, pikiran dan hati kita akan perlahan membuat batas baru akan hal-hal yang mendatangkan manfaat dengan yang tidak.
Pernahkah berencana untuk menyibukkan diri di jalan Allah? Nah, ini adalah saatnya memetik sebanyak-banyak pahala dengan berlomba-lomba berbuat kebaikan di jalan Allah. Dengan menyantui fakir miskin, dhuafa, bahkan musafir akan lebih membuat diri menjadi lebih peduli dengan orang lain.
Tidakkah menakjubkan jika ternyata baper negatif bisa menjadi baper positif dengan berlelah-lelah di jalan Allah?