Pacaran Kita Membuat Surga Mengetuk Pintu Rumah
Harapan tanpa iman adalah kekecewaan yang menunggu waktu
Kebahagiaan tanpa barakah bagai bayang-bayang tanpa cahaya
Menjaga kesucian dengan pernikahan
Menjaga pernikahannya dengan kesucian
Hari ini, satu lagi teman saya menyempurnakan separuh agamanya. Alhamdulillah tanpa ada pacaran sebelum adanya akad. Menyenangkan sekali rasanya memiliki teman-teman yang menjaga kesuciannya dengan begitu teguh. Saya harap saya juga bisa setangguh mereka yang selalu menjaga interaksinya dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. Semoga saya juga segera menyusul mereka yang telah menyempurnakan separuh agamanya, menambatkan hati pada seorang lelaki shalih yang juga mencintai saya karena Allah, menjadi istri yang shalihah, juga menjadi seorang ibu pintar bagi jundi-jundiNya yang selalu dirindu bahkan sejak sekarang. Aamiin.
Pernikahan. Ada yang berubah dari saya jika bicara soal pernikahan. Ya, banyak yang berubah, bukan hanya raut wajah yang jadi malu-malu saat ibu, mamas, dan adik saya membahas soal pernikahan saya kelak, tapi juga soal cara pandang saya tentang sebuah pernikahan. Dulu di masa lalu―sebelum saya kuliah dan mengenal organisasi keislaman serta aktif di sana―tak pernah terbesit di kepala saya untuk menikah di usia muda apalagi menikah dengan proses ta’aruf. Tentu saja, dulu saya mana tahu soal ta’aruf, wong istilah itu saja masih sangat asing bagi saya.
Lucu rasanya, kalau mengingat-ingat bagaimana saya dan teman-teman saya―yang dulu sama-sama belum kenal dengan yang namanya pengajian rutin, hijab syar’i, ta’aruf, serta hal-hal lainnya yang diwajibkan dalam Islam―kami mulai mengikuti BBQ (Bimbingan Baca Qur’an) yang diwajibkan pihak kampus bagi seluruh mahasiswa muslim di semester satu.
Mulai dari sanalah kami belajar―mengerti, memahami, dan mempraktikkan―bagaiman menjadi seorang muslimah yang seharusnya. Perlahan kami menambah lapisan khimar kami yang masih menerawang, mengulurkannya sampai menutupi dada, mengganti pakaian yang ketat dengan yang lebih longgar, dan menaggalkan celana jeans menggantinya dengan rok yang waktu itu tak banyak kami punya, serta memakai kaus kaki yang bermacam-macam warnanya.
Kami juga belajar soal bagaimana muslimah bersosialisasi, berinteraksi dengan lawan jenis. Sebagian dari kami pun jadi begitu kikuk jika harus bersama laki-laki, bingung harus bagaimana. Ghazul Basor atau menundukkan pandangan menjadi hal yang amat kami ingat, jadilah kami dipandang aneh karena sering menghindari teman-teman kami yang laki-laki, ataupun jika harus berbicara dengan mereka kami tak pernah menatap ke wajah mereka.
Kikuk, kaku, aneh! Begitulah kami dulu, sekarang juga sepertinya masih begitu walaupun tak seaneh dan sekaku dulu. Kami sungguh belajar pelan-pelan. Menjaga izzah dan iffah kami sebagai muslimah.
Dan tiba saatnya kami pada bahasan pernikahan, ta’aruf menjadi hal yang membikin kami yang baru ngaji kemarin menjadi baper. Murobbi-murobbi kami dulu sering bercerita soal kisah ta’aruf mereka. Ya, kami belajar soal ta’aruf secara langsung lewat cerita beliau-beliau itu.
Manis dan romatis sekali sebuah pernikahan yang dilakukan dengan proses ta’aruf sebelumnya, ketika untuk pertama kali perempuan dan laki-laki yang tak pernah dekat sebelumnya duduk begitu dekat di pelaminan dengan debar-debar bahagia, serta wajah yang menyiratkan rasa malu-malu. Dan yang paling membuat tentram adalah status halal yang sudah diperoleh, alhamdulillah! Saat itulah para malaikat bertasbih dan mendoakan sebuah pernikahan penuh barakah karena diniatkan karena Allah.
Hari-hari ini saya yakin istilah ta’aruf tak lagi menjadi bahasa langit yang hanya diketahui oleh para aktivis dakwah, masyarakat umum pun sangat familiar dengan istilah tersebut. Ta’aruf yang dimaknai sebagai sebuah proses perkenalan dengan tujuan pernikahan ini pun seringkali menjadi tema yang diangkat dalam film-film islami Indonesia. Selain itu, banyak public figur yang menikah dengan proses ta’aruf.
Alhamdulillah, sebuah proses yang islami seperti ta’aruf menjadi semakin tak tabu lagi di masyarakat kita. Namun, ada hal yang disayangkan soal pemahaman masyarakat kita kebanyakan. Sebagian besar mereka hanya sampai pada pemahaman bahwa ta’aruf itu adalah perkenalan menuju pernikahan, perkenalan yang bukan pacaran.
Ya, memang ta’aruf adalah perkenalan yang bukan pacaran, tapi masyarakat kebanyakan beranggapan bahwa ta’aruf bukanlah sebuah pacaran dengan hubungan yang melulu―melulu berduaan, melulu ketemuan, dan hubungan melulu lainnya―tetapi melupakan soal menjaga interaksi. Jadi, seringkali pada praktiknya ta’aruf bisa sampai enam bulan bahkan bertahun-tahun, belum lagi dihiasi dengan sms-sms perhatian yang saling dikirim tanpa alpa sehari pun.
Lantas, apa beda ta’aruf dengan LDR? Ya, itulah yang disayangkan. Kemesraan meski dibatasi jarak telah terjadi sebelum adanya akad. Saya selalu merasa pertemuan dan menyatunya dua hati seharusnya terjadi ketika ijab kabul dibacakan, dan kata SAH! menjadi semacam penekanan akan ikatan yang kuat dan suci. Maka, ta’aruf bukanlah perkenalan yang selama prosesnya malah saling memberi perhatian, bukanlah perkenalan yang memberi cela pada laki-laki dan perempuan untuk goyah dalam menjaga interaksinya.
Meski tujuannya adalah menikah tapi tetap saja laki-laki dan perempuan yang mengikuti proses ta’aruf harus tetap memiliki batasan dalam berinteraksi, toh ta’aruf itu bisa berhenti di tengah jalan karena suatu hal, bukan? Jadi, seharusnya dalam prosesnya tersebut kedua pihak harus semakin meningkatkan penjagaan mereka, jangan sampai setan berhasil menghasut keduanya.
Ta’aruf seharusnya juga tak sampai berbulan-bulan, perkenalan yang dilakukan seharunya tentang kominten apa yang dijadikan alasan untuk menikah, jika sama lanjutkan dan segeralah menikah, jika ternyata berseberangan ya segera hentikan. Jangan malah keasyikkan! #ups
Pernikahan memang soal komitmen karena pernikahan umpama sebuah kendaraan yang lain untuk menuju tujuan hidup sebagai seorang muslim, maka komitmen adalah bahan bakarnya. Soal rasa cinta, saya ingat dalam buku Barakallahu Laka Bahagianaya Merayakan Cinta yang ditulis Salim A. Fillah, beliau mencatut apa yang ditulis Ustadz Mohammad Fauzil Adhim dalam Agar Cinta Bersemi Indah: Ketika R.J Stenberg mengemukakan teori segitiga cinta―bukan cinta segitiga―dalam A Triangular Theory of Love, ia memasukkan empty love (cinta kosong) sebagai salah satu jenis cinta yang terpenting.
Bagaimana sebuah cinta yang kosong menjadi salah satu yang terpenting? Nah, cinta kosong ini diartikan sebagai cinta yang tumbuh setelah adanya kesamaan komitmen, bukan sekadar paras yang membuat debaran atau hal lainnya yang bisanya ditemukan pada orang yang pacaran sebelum menikah. Komitmen menjadi pengikat hati yang lebih kuat dari apa pun.
Inilah bekal bagi orang yang belajar mencintai. “Nikahkanlah anakmu,” kata Hasan bin Ali, “dengan orang yang bertakwa kepada Allah. Sebab bila ia mencintainya, ia akan memuliakannya. Sementara jika ia tidak―atau belum―menyukainya, ia tidak akan menyakitinya.”
Cinta yang tumbuh karena komitmen lebih mampu membangkitkan kesetiaan dan kasih sayang meski yang bersangkutan ‘tidak tahu’ bahwa itu adalah cinta. Tetapi seperti iman yang menumbuhkan jihad, komitmen inshaa Allah menumbuhkan ikhtiar. Seperti iman berkonsekuensi amal, komitmen terwujud dalam upaya. Karena sejatinya cinta adalah sebuah kata kerja, ada niat, ada upaya, dan ada doa yang terucap dalam tiap sujud yang tak pernah alpa.
Bagi saya yang sekarang, pernikahan menjadi sesuatu yang terlalu berharga jika diusahakan dengan hubungan pacaran sebagai sebuah jenjang perkenalan sebelum menikah. Nyatanya, pacaran sebelum menikah tak pernah cukup untuk benar-benar saling mengenal. Perkenalan yang sebenar-benarnya adalah pernikahan itu sendiri.
Pernikahan juga soal menerima, menerima bahwa dia yang kelak menjadi penyempurna separuh agama memang telah Allah pilihkan untuk saya, maka jika ternyata dia yang hadir menjemput saya bukanlah orang yang selama ini saya sangka maka ada tempat khusus baginya yang saya siapkan untuk ia isi, yaitu empty love yang siap bertumbuh menjadi cinta yang saling mendewasa untuk mencapai komitmen kami dalam hidup saling berdampingan mengharap ridha Allah.
Bagi saya tak ada pacaran sebelum menikah, karena saya sedang menyiapkan banyak hal romantis yang akan saya lakukan setelah menikah. Maka pacaran setelah menikah menjadi begitu menggiurkan―ketika tiap sentuhan bernilai pahala, ketika jenuhnya menunggu menjadi pahala, ketika makanan yang dimasak di tiap pagi-pagi menjadi tabungan amal di akhirat kelak, dan ketika-ketika berpahala lain.
Padamu yang semoga sedang sibuk menjadi pribadi yang shalih dan sukses, segeralah datang. Mari menenun jalinan cinta yang hanya bisa dilakukan oleh kita berdua. Agar cerah berbagi harapan, awan bersulam rahmat, hujan menyanyi rezeki, badai mengeratkan peluk, dan surga mengetuk pintu rumah kita. Bandarlampung, 16 Juli 2016