#31. Catatan Kelana [2]
Pada titik tertentu, perjalanan merengkuh soal permulaan.
Untuk berani merangkul sebuah kekuatan, sekali lagi. Mempasrahkan sebuah keadaan; hancur, tidak utuh, berantakan, porak-poranda, ya, memang itulah adanya. Tidak bisa mengelak, tidak bisa diganggu gugat.
Ada hal-hal yang tidak bisa kita paksakan untuk menuju dalam arti lebih.
Lebih baik, maju, makmur, sejahtera, apalagi tenang.
Semakin jauh perjalanan kian usia bertambah, hidup seperti merengkuh sebuah pemahaman. Tidak untuk lebih dan lebih, jleb, untuk menyadari bahwa kita perlu tangguh. Tanpa alasan, tanpa tapi, tanpa terkecuali.
Sedang suka pun duka, bertahan dan terus berjalan apapun keadaannya adalah sebuah keharusan. Boleh jadi, belum saatnya, boleh jadi, masih perlu ikhtiar sedikit lagi, boleh jadi, perlu bersabar lagi, boleh jadi, perlu muhasabah banyak-banyak akan segala khilaf dan salah akan-Nya.
Menyerah, bukanlah jalan keluar terbaik. Hari ini, kita telah sampai sejauh ini, berkat segala jatuh-bangun yang telah dipilih untuk diambil resikonya. Walau saat itu sedang di titik terendah, mungkin seperti saat ini.
Makna permulaan yang perlu diisi terus-menerus dengan daya keyakinan.
Yakin akan Allah yang masih setia mewarnai hari-harimu kedepan.
Yakin akan do'a orang-orang terkasih yang melangit tanpa perlu ditagih.
Yakin akan do'a dari orang-orang yang sengaja pun tidak sengaja kamu temui lalu kamu tolong tanpa pamrih atau ingatkan dalam kebaikan sekecil apapun, ternyata melangit tanpa terbilang.
Satu yang juga penting,
Yakin akan dirimu sendiri yang setia menemanimu walau suka-duka yang seringkali kita lupa untuk mengutamakan dan merawatnya.
Banyak hal yang terjadi dalam hidup kita sendiri, tetapi tidak semua dari kita menyadari bahwa:
Tidak ada yang kebetulan, adanya serangkaian kebetulan yang perlahan menjadi jalan takdir. Allah tunjukkan sebuah validasinya lewat banyak hal, maka tidak ada cara ampuh selain untuk terus yakin akan segala ujian yang meramu jadi sebuah kejelasan dalam ketidakjelasan.
Misteri yang hanya Allah, Sang Maha Kuasa, memiliki hak penuh dalam menentukan. Terus ikhtiar tanpa batas, ditambah sabarnya dan dikurangi ekspektasinya.
Katanya ingin dipilihkan yang lebih baik sesuai versiNya?
Masih setia untuk terus teguh dan tangguh, sekali lagi?
Selamat bertumbuh bersama semesta!
[c] Muhammad Sarifin | @muhsarifin











