𝐓𝐞𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠 𝐒𝐞𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐍𝐨𝐦𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐚𝐬𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐓𝐚𝐤 𝐓𝐞𝐫𝐮𝐜𝐚𝐩
Untuk kamu,
yang mungkin tak pernah tahu bahwa sebuah permintaan sederhana mampu mengguncang semesta kecil di hatiku.
Hari itu, kau bertanya tentang sesuatu yang tak kusangka: nomor temanku. Sekilas saja, namun cukup untuk membuat jantungku tercekat. Aku tersenyum saat itu, entah untuk menutup gugup atau menyembunyikan getir. Tapi sejujurnya, dalam benakku bergema satu tanya, "apakah kau jatuh pada pesonanya?"
Aku tahu, aku tak punya hak atas perasaanmu. Tak ada ikatan, tak ada janji. Tapi rasaku padamu meski diam dan sunyi, nyatanya hidup, tumbuh dalam setiap tatap yang tak berbalas, dalam setiap percakapan yang tak pernah sempat dimulai.
Saat itu aku cemburu, dan cemburu itu sunyi. Tak bisa kuteriakkan, tak bisa kupeluk, hanya bisa kupendam seperti api kecil yang tak pernah padam. Aku hanya seseorang yang duduk diam di balik layar cerita bukan pemeran utama, bahkan mungkin hanya figuran yang muncul sesekali.
Dan tetap saja, meski tak bisa kuucap, aku berharap kau tahu, ada seseorang yang diam-diam menyimpan luka kecil dari tanya yang kau ajukan, luka yang anehnya kurawat dengan cinta.
𝙳𝚊𝚛𝚒 𝚊𝚔𝚞,
𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚝𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚍𝚒𝚙𝚊𝚗𝚐𝚐𝚒𝚕 𝚗𝚊𝚖𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊, 𝚝𝚊𝚙𝚒 𝚍𝚒𝚊𝚖-𝚍𝚒𝚊𝚖 𝚖𝚎𝚗𝚌𝚒𝚗𝚝𝚊𝚒 𝚍𝚊𝚕𝚊𝚖 𝚓𝚎𝚍𝚊.













