Tulisan : Sebuah Perenungan
Sebuah utasan di twitter menyentak hati saya. Pembahasannya soal tujuan manusia beribadah, berbuat kebaikan, melaksanakan perintah Tuhan dan sunatullah.
Dari utasan yang panjang itu saya sampai kepada titik poin tentang surga yang begitu didambakan oleh semua umat. Alasan beribadah, berbuat kebaikan, melaksanakan perintah Tuhan dan sunatullah tidak lain dan tidak bukan ialah mengharap surga-Nya. Begitukah?
Tapi sebuah pernyataan menghantam hati saya sampai terasa begitu sesak. "Kamu beribadah dan berbuat baik menggunakan fasilitas yang Tuhan kasih. Kamu pakai nikmat tubuh sehat untuk sholat, kamu gunakan nikmat harta untuk sedekah, kamu mengajarkan ilmu dengan anugerah akal pikiran yang kamu punya. Dimana semua nikmat dan anugerah itu asalnya dari Tuhanmu, dan kamu masih minta "dibayar" dengan surga atas itu semua hanya karena kamu merasa nikmat-nikmat itu sudah kamu manfaatkan di jalan yang benar?"
Tek. Rasanya bener-bener nusuk sampe saya hampir nangis. Yaa Tuhan, jadi manusia kok maruk banget yaa?
Kalau boleh diumpakan seperti seorang anak yang dikasih makan enak, jajan cukup, rumah mewah, pakaian bagus, kendaraan keren, kebebasan dan kasih sayang sama orang tua tapi masih minta digaji dengan nominal fantastis oleh orang tuanya atas kenyamanan hidup yang bahkan tidak pernah keluar modal sama sekali. Alasannya karena tidak pernah menyalahgunakan semua fasilitas tersebut dan telah memanfaatkannya di jalan kebaikan. Layakkah?
"Bagi manusia, surga telah menjadi tujuan. Tuhan dijadikan figuran." Demikian penutup utasan yang saya baca tersebut.
Lalu, apa sebenarnya tujuan manusia beribadah, berbuat kebaikan, melaksanakan perintah Tuhan dan sunatullah?
Rumah, 4 Juni 2020. 22.01 WIB.