Salah satu bentuk sanksi dari pelanggaran norma sosial yaitu sindiran.
Ketika seseorang melanggar nilai-nilai dalam norma sosial, dia tidak dihukum pidana/perdata, tidak di denda, tidak di strap apalagi dijewer. Pelanggaran yang ia lakukan berupa tingkah laku yang tidak sesuai dengan cara pandang atau budaya masyarakat setempat. Misalnya, seorang remaja yang "terlalu bebas" dalam bergaul, sehingga jadi bahan omongan, padahal dia anak kepala desa yang seharusnya menjadi contoh yang baik untuk remaja lainnya. Sanksi dari pelanggaran ini tidak tertulis jelas. Lalu apa bentuknya? Yup, sindiran. Sindiran mampu membuat si pelanggar merasa baper, dan berkhir jera, tidak mau mengulangi perbuatannya lagi. Sayangnya, sindiran jaman now bukan lagi alat yang dijadikan senagai sanksi untuk pelanggaran norma sosial, sindiran mulai berubah fungsi sebagai alat untuk saling menjatuhkan. Menentang sebuah ide atau gagasan yang notabene bisa disanggah dengan cara yang lebih lebih hormat, tidak memperuncing konfik, solutif dan jelas secara tersirat menampilkan kualitas dari seorang yang tertata dalam bersikap, mengelola diri dan emosi.
Jagan rendahkan dirimu dengan sindiran-sindiran tidak berkualitas gaes. The way you speak up, describe who you really are.














