Setiap hari melihat pemandangan ini. Ntah dr depan komplek rumah, di jalan menuju angkot, di dekat stasiun bahkan di tempat-tempat yang tidak terlalu ramai penduduk. Mereka ada dimana2. Seperti menjadi sebuah perkumpulan di saat nominal sebuah kendaraan menjadi lebih terjangkau, di saat cara pembayaran untuk mendapatkannya menjadi lebih bervariasi sebagai cara menggoda pelanggan agar memilikinya, di saat populasi manusia semakin membludak tetapi peluang pekerjaan semakin sulit. Para supir kendaraan bemotor roda dua, sering disebut tukang ojek/ojeg. Saat saya SMP pernah mendengar ojeg itu singkatan basa sunda. Ojeg = Ongkos ngaJEGang. Bisa diartikan ongkos ngangkang klo di bahasa Indonesia. Ya rata2 orang duduknya menghadap depan & ngajegang, mungkin ada beberapa orang yg senang duduk menyamping karrna lebih nyaman atau karena memakai rok atau membawa barang (mungkin). Dari yang saya lihat, ojeg2 sekarang lebih teratur & tersistem. Mungkin sudah ada manajemennya, mungkin ada bayaran per bulan juga (ntah lah), jadi tidak akan berebutan penumpang. Semua menunggu giliran. Di depan gerbang daerah kosan di kampus saya dulu, mereka memiliki perkumpulan dengan banyak kegiatan. Bahkan mereka mempunyai mading dr kayu yg dipasang di pinggir jalan. Setiap orang dapat melihatnya. Mading berbahan dasar kayu itu berisikan foto2 & kegiatan mereka. Keren lah menurut saya mah, ga cuma ngerokok, main gaplek & minum kopi sambil nunggu penumpang, tapi juga ada kegiatan sosial & silaturahmi, macam gathering klo di kantor mah. Cuma ada yang saya kesel dr abang ojek. Nawarin ongkos suka selangiiit klo keliatannya si penumpang belum tau lokasinya dimana, bahkan udah tau pun tetep keukeuh harga segitu, malah dioper ke temennya. Yaa suka ada aja yg nolak rejeki. Oiya satu lagi, suka gemes klo bawa motornya lambat anteng banget. Seringkali saya naik ojek karena udah kepepet bakal telat soalnya. :p Ya aman sih tapi terlalu alon alon jg kan bikin gemes, pengen ngomong tapi malah takut cilaka klo abangnnya ngambek atau ga konsen, pengen gantiin bawa motornya juga kan ga mungkin. Untuk sekelompok besar ojek seperti di stasiun, terbagi2 menjadi beberapa daerah. Karena motornya setia berjejer di sepanjang jalanan dr ujung ke ujung yang memakan lahan untuk kendaraan lain lewat & pastinya bikin tambah macet. Biasanya ojek yg ada paling deket pintu keluar stasiun itu yg sering kasih harga paling mahal. Jadi,, sebaiknya klo mau jalan dulu sedikit supaya dapat abang2 yg lbh murah. :D Dari dalam jemputan, kami biasa sebut mobil elp, terkadang saya memperhatikan para abang2 itu. Mereka selalu tersenyum, tertawa, bercanda, jarang yg sedang cemberut apalagi bersedih. Membuat saya berpikir dan selalu percaya 'bahagia itu sederhana'. Saat mendapatkan penumpang mungkin itu menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi mereka, apalagi klo pertama kali narik ojek yang artinya penghasilan pertamanya kan. 'senyum itu ibadah' selain ibadah juga bisa bikin lebih sehat ke muka. otot2 yang bekerja di wajah lebih sedikit dibanding cemberut. Mungkin salah satu faktor yang bikin orang2 keliatan lebih tua itu jarang senyum juga. Tapi tetep dalam konteks yang wajar senyumnya, klo terus2an mah disangka kurang waras. Mereka selalu semangat menawarkan tumpangan ke setiap orang yang lewat, dan seringkali menggoda klo itu perempuan. Bahkan sudah ditolak,baik secara halus maupun judes, oleh orang tsb masih saja mereka tetap keukeuh menawarkan ojeknya dengan melambaikan tangan. Mengayunkan stang, memajumundurkan motornya. Tapi tetap tidak berselisih berebut penumpang. Ya karena ujung-ujungnya penumpang lah yang punya keputusan untuk memilih ojeknya. Dengan rapi menggeserkan kendaraannya saat tetangganya mendapatkan penumpang. Semua pun bergeser ke kanan sampai ujung. Kemudian menanti & mulai menawarkan jasa antar trasnportasi ke penumpang lainnya. ~ichtins, dalam KRL Serpong - Tanah Abang - Serpong.