Kamu berdiri di sepanjang malam yang sunyi. Hujan menyeruak, membungkus peluh dan rasa, pula cipta yang mengada-ada. Semua keliru, kecuali jika ada pemuja lautan yang berdiam di dalam sepi. Meski setidaknya kamu adalah angin yang kamu ciptakan sendiri. Mungkin kamu lupa, tapi tidak mengapa, karena dalam ragu, manusia menduga-duga pada yang Kuasa. Tak ada pula manusia yang berkelit, di kala lara menyapu suka dan cita. Namun, kata siapa pula semua yang terluka akan terlupa pada kisahnya. Saat jemariku terhenti, aku tak peduli pada apa yang akan aku jumpai. Tak peduli pada nyanyian separuh gubahan puisiku. Aku sekilas terkesima saat semua berkata, ada yang lain. Tapi aku tak pernah kuasa pada setiap sepi semacam apa yang terlupa.
Mungkin kamu juga tahu bahwa hujan telah mereda sedari lama. Namun, apakah kamu tahu jika masa yang ada akan berlalu, seiring dengan kelembaman pemacu jiwamu..