Beberapa bulan yang lalu memutuskan untuk membuka akun Tumblr. Ternyata menarik juga banyak hal baru yang saya dapat dari Tumblr mulai dari meningkatkan minat baca lagi hingga mulai satu dua kata mencoba mengetikkan kata. Tahun 2015 menjadi tahun jarang baca, jarang sekali membaca buku-buku di luar bidang studi yang sedang saya jalani. Tentang menulis awalnya memang sulit. Lebih mudah berkomunikasi secara lisan. Jadi harap maklum bila tulisan-tulisan di akun ini masih carut-marut, saya masih belajar menulis tulisan yang enak dibaca sebagai media bercerita.
Tulisan perdana ini saya tulis untuk membunuh waktu, terinspirasi obrolan kecil kemarin sore tentang konsep kebiasaan dan waktu. Entah saya sedang memiliki waktu luang atau waktu luang yang sedang memiliki saya. Pada intinya saya ingin membunuh waktu. Kadang berharap lewat lamunan sebelum tidur. Esok hari bukan lagi Rabu, bukan lagi Minggu, bukan lagi Senin atau hari apapun itu, berharap esok pagi matahari yang menyapa, matahari dengan cerita lain, matahari dengan rutinitas lain yang bukan itu-itu saja. Saya butuh rutinitas yang dapat membunuh waktu. Hingga akhirnya saya buka catatan kecil saya yang isinya begini.
“Bogor, Mei 2012. Tulisan ngawur. Desa kecil di ujung sana, bahkan google maps pun belum mampu mendeteksinya. Kampung kecil di Kota kecil Kotabaru-Kalimantan Selatan, kami menyebutnya Desa Bakau. Desa dimana saya memulai semuanya dari sana. Terima kasih Bakau untuk cerita-ceritanya. Desa Entah saya juga kurang paham disebut Bakau. Apa karena banyak pohon bakau di sepanjang sungai atau entahlah saya tak paham sejarahnya. Saya besar disana lebih dari 13 tahun sebelum jadi anak rantau di Bogor, namun tetap saja saya belum menemukan cerita asal usul nama Bakau sebagai nama Desa itu. Catatan ini bukan cerita tentang nama desa itu. Cerita ini tentang orang yang dihormati di Desa saya. Sering disebut Kai. Kai sendiri adalah sebutan untuk kakek dalam bahasa Banjar. Kalimantan Selatan terdapat dua suku besar pribumi yaitu suku Banjar dan Dayak. Kebetulan saya hidup di lingkungan dengan mayoritas bersuku Banjar. Kembali lagi cerita tentang Kai. Kai sangat dihormat desa kami, termasuk saya. Saya sangat menghormati beliau. Terlepas beberapa hal kontroversial tapi menurut saya, saya patut tetap menghormati beliau dari dulu, sekarang dan nanti. Kai adalah penggemar catur. Saat saya SMP saya penggemar catur juga. Bermain catur memang menarik, kuda dengan langkah L-nya, sang menteri dengan kuasa berbagai langkah, pion yang dapat berubah jadi apa saja bila dapat finish di ujung papan lawan dan sang raja yang langkahnya hanya boleh satu-satu. Mungkin satu-satu langkah menunjukkan wibawa sang Raja. Hampir setiap sore bila tidak ada jadwal sepak bola atau bermain bersama teman-teman biasanya saya dengan malu-malu mengiyakan ajakan Kai bermain catur. Satu-dua papan catur permainan kami selesaikan. Kadang saya kalah dan kadang beliau menang. Hehe. Kata Kai, bermain catur itu menarik. Banyak hal yang bisa ditarik. Mulai belajar melatih logika, kesabaran hingga kekuatan prediksi langkah lawan. Pokoknya kata Kai catur bagus, menarik dan asyik. Titik. Saya hanya angguk-angguk seolah paham padahal tidak. Saya hanya bermain catur, itu saja. Tak butuh alasan gumam saya dalam hati. Di sela-sela bermain catur ada saja wejengan yang Kai ceritakan, kadang menceritakan masa mudanya, pokoknya semua diceritakan tentu dengan takaran yang masih wajar untuk anak SMP seusia saya saat itu. Ada satu cerita yang saya sukai, cerita ini Kai ceritakan berulang-ulang bukan hanya kepada saya tapi ke semua lawan bermain caturnya. Ceritanya begini. Beliau punya satu amalan, saya sebut amalan disini menirukan ucapan beliau. Saya tidak tahu secara pasti apakah itu berhubungan dengan agama atau tidak. Saya hanya mengulang cerita. Dulu beberapa tahun yang lalu Kai mempunyai masalah dengan punggungnya. Setiap bangun tidur badan terasa pegal dan punggungnya nyeri. Beliau coba berobat kesana-kemari tak kunjung sembuh, mulai diagnosa rematik hingga saraf. Mulai dari dokter hingga tukang urut. Semua sudah Kai coba. Kai tak patah arang Kai akhirnya menemukan satu amalan. Satu amalan yang pada intinya setiap pagi Kai membaca salah satu surah surah dalam Al-Quran 40x sebelum bangun dari kasur lalu mulai mengusap-usap punggungnya sembari berdoa selama 22 hari berturut-turut tanpa jeda untuk kesembuhan sakit punggungnya. Kai sembuh setelah 22 hari. Ingat kata kai harus 22 hari tanpa jeda. Bila satu hari lupa hitungan dimulai dari awal lagi, begitu katanya. Diakhir cerita beliau berpesan. Setelah kejadian itu saya percaya angka 22 hari tanpa jeda sangat unik. Bukan hanya sakit punggung. Kebiasan hidupmu bisa diubah dalam waktu 22 hari tanpa jeda. Menurut kai bila ingin membuat kebiasan baru maka lakukan 22 hari tanpa jeda. Ingat tanpa jeda beliau mengulangnya. Mau bangun jam 4 pagi, paksa dirimu 22 hari tanpa jeda maka setelah itu setiap jam 4 pagi kamu pasti bangun tanpa alarm tanpa bantuan apapun. Kebiasaan yang kamu mau lakukan paksa 22 hari tanpa jeda. Awalnya memang dipaksa, terpaksa, terbiasa dan bisa menjadi kebiasaan.”
Awalnya saya juga tak percaya. Apa uniknya 22 hari tanpa jeda? Mungkin itu kebetulan Kai? Iya kebetulan kata saya paksa untuk menolak. Entah karena saya sedang punya waktu luang atau waktu luang yang sedang punya saya. Saya coba 22 hari tanpa jeda itu. Saya mulai dengan kebiasaan satu jam membaca buku sebelum tidur. Buku apapun itu. Ini sudah hari ke-30 saya melakukannya. Ternyata benar amalan 22 hari Kai tadi. Kata saya buat menerima. Ah masa, saya coba lagi buat kebiasaan baru dengan 22 hari tanpa jeda untuk memastikan. Saya ingin membuat kebiasaan menonton film pilihan satu film per minggu lalu saya tuliskan di media sosial twitter semacam sinopsis film. Saya ingin membuat kebiasaan menuliskan buku pilihan per minggu di twitter dengan hastag #onebookperweek. Hari ini adalah hari ke 10 saya lakukan kebiasaan itu, artinya bila amalan Kai benar, saya butuh 12 hari lagi untuk membuat itu jadi kebiasaan saya. Kebiasaan yang awalnya dipaksa lalu terpaksa, terbiasa dan bisa menjadi kebiasaan. Terima kasih Kai atas 22 hari tanpa jeda. Terima kasih sudah membantu saya membunuh waktu dengan kebiasaan-kebiasaan baru yang positif. Selamat mencoba ya.