Bismillahirrohmanirrohiim..
Mengayun ayunkan kaki menatap ke atas langit. Membiarkan angin membelai lembut wajahnya, karena ia tak punya siapa-siapa untuk melakukannya. Hatinya sudah tak jelas bentuknya. Ketika air mata sudah terlampau kering untuk dikeluarkan. Kosong. Ia kembali merasakannya dengan skala yang jauh lebih besar.
Lamunannya terhenti ketika sosok itu datang bersama dua kurcaci kecil yang saling berkejaran. Tak lupa juga rombongan sapi yang mengikutinya dari belakang. Padang rumput itu kini menjadi riuh dengan tawa yang bersautan dan kumpulan sapi yang merumput dengan khusyunya.
Sosok itu menghampirinya, seperti biasa. Dengan topi jerami dan cemeti yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Ikut memandangi langit tanpa kata-kata. Ketika ia menengok ke arahnya, barulah ia angkat bicara.
“Lama gak kesini, tau-tau muncul. Ada kabar buruk apa?” katanya dengan nada bicara khasnya.
“Kosong. Anyway, don’t you miss me?” jawabnya sambil kembali menatap langit.
“Hmm.. I do miss you. Tapi setiap lw kesini, pasti ada hal buruk yang terjadi. Jadi, gw lebih memilih menggigil rindu tapi tau kalau lw baik-baik aja disana. Daripada lw disini, di samping gw, tapi ternyata lw lagi dalam kondisi yang buruk.”
“Kenapa kembali kosong?”
Sosok itu menawarkan botol air mineral kepadanya. Ia hanya menggeleng dan tetap dalam posisi yang sama. Mendongak ke atas sana.
“Tuhan gak adil sama gw” jawabnya lirih.
Tiba-tiba kepalanya basah kuyup. Air mengalir membasahi rambutnya. Langit saat itu sangat cerah, dan tidak ada tanda-tanda hujan datang.
Ternyata sosok itu menuangkan air mineral ke atas kepalanya. Sampai seluruh tubuhnya pun ikut basah.
“Kok lw nyiram gw sih!” Teriaknya dengan nada tinggi.
Sosok itu terlihat tenang. Meminum sisa air mineral yang baru saja ia tuangkan. Mengelap mulut, dan bersiap untuk berbicara.
“Otak lw itu perlu didinginin. Daripada nanti lw cerita dengan emosi membara dan makin ngaco, mending gw siram dulu. Gw gak mau denger cerita yang isinya mencela Tuhan. Gw gak suka Tuhan gw dicela kayak gitu.”
“Gw mau dengerin cerita lw, asal lw janji jangan kayak tadi lagi. Kalo lw gak bisa janji, sorry, gw mendingan main sama sapi-sapi. Lw silahkan deh mandangin tuh langit sampai malem ya..”
“Oke..gw janji gak akan gitu lagi..” jawabnya sambil memeras rambutnya yang basah.
Sosok itu mengambil handuk dari dalam tasnya dan memberikan kepadanya. Kemudian meminta dua kurcaci kecil untuk membawakannya dua gelas coklat hangat.
“Gw ngerasa kayak tadi karena apa yang gw sayang selalu diambil. You know my parents, right? Dan hal-hal lain yang gw suka selalu gak bertahan lama. Selalu. Ketika gw udah susah payah, berusaha, doa, dan akhirnya setelah bertahun-tahun gw dapetin, tiba-tiba diambil. Baru sebentar gw ngerasa bahagia. Sebentar. Selalu yang gw milikin dengan susah payah diambil”
“Kita emangkan gak pernah memiliki apa-apa. Kita aja yang ke GRan ngerasa punya hak milik. Kita cuma punya hak pakai doang. Bahkan diri kita sendiri juga bukan milik kita”
Sahut sosok itu sambil memainkan topi jeraminya.
Dia diam. Kehabisan kata untuk membalas pernyataan sosok itu. Ia tahu itu, namun belum mampu menerima.
“Sabar.. Itu tandanya Tuhan sayang sama lw. Tuhan mau supaya lw cuma melihat dia, mungkin lw terlalu fokus sama hal-hal yang lw suka sampai-sampai lupa sama Tuhan”
Kepalanya kembali basah. Kali ini bukan karena sosok itu menyiram air mineral, namun karena hujan tiba-tiba datang. Hujan mengguyur padang rumput hijau. Sosok itu menggiring sapi-sapinya untuk berteduh di bawah pohon rindang sambil memandang ke arahnya yang masih saja mendongak ke atas langit.
Kali ini matanya terpejam. Airmatanya mengalir, menyatu bersama hujan. Ia membiarkan hujan memeluk tubuh ringkihnya, sambil berbisik lirih.
Dan hujan mengantarkan doanya mengangkasa, menuju kepada singgasanaNya.