Pagi hadir setelah malam semakin gelap. Saat cahaya semakin meredup. Udara dingin semakin menusuk. Nyanyian burung dan binatang malam semakin berteriak kencang. Kemudian malam pecah menjadi pagi saat sinar mentari lambat-laun menyelinap di antara gelap. Melelehkan uap yang terlanjur membeku di udara malam menjadi embun yang bulat-membulat jatuh ke ujung dedaunan.
Pada akhirnya, pagi mengubah dingin menjadi sejuk yang membuat candu. Pagi mengubah gelap menjadi cahaya terang yang menghangatkan nan dinanti banyak orang hingga mampu beri tambahan vitamin. Pagi seakan menjadi sebuah titik awal semangat baru tercipta secara alami. Bukan hanya soal hari yang baru, tapi setiap jengkal suasana pagi yang berikan sepaket lengkap dopamin dan serotonin. Setiap satuan udara, cahaya, hingga embun yang membulat-bulat seakan mengeluarkan manusia dari gelapnya waktu yang lalu.
Barangkali, begitulah hidup. Gelap akan berubah terang. Dingin akan berubah sejuk. Udara yang membeku akan hadirkan butiran embun subuh yang syahdu. Setiap takut dan cemas yang sering hadir di antara malam akan hilang dan terganti seiring hormon kebahagiaan memuncak penuhi diri yang dapati pagi di depannya.
Barangkali, begitulah seharusnya kitapun berjuang. Meski terasa patah dan terpojok dalam malam yang gelap. Gelap yang semakin terus gelap. Dingin nan bertambah terus dinginnya. Hingga takut dan cemas yang bertambah-tambah. Semua bukanlah masalah yang mesti kita ratapi hingga berlarut-larut. Pagi akan datang saat malam semakin petang. Pagi akan datang bersama cahaya yang mengubah udara dingin menjadi embun yang begitu asyik untuk disentuh di antara rerumput depan rumah.
Maka, jika pagi adalah sebuah satuan waktu yang pasti akan datang setelah malam menjelang, kenapa kita cemas jika gelap malam terus akan menjadi gelap? Pagi datang pada saat waktunya mentari muncul di ufuk timur. Tidak bisa dipaksa lebih cepat datangnya. Tidak juga akan terlambat, kecuali hari akhir sudah datang dan matahari terbit di tempatnnya terbenam. Tenang saja, bukankah Allah pun memberikan pesan bahwa hidup setiap orang bertaqwa itu pasti berakhir baik?
Pagi pasti datang. Tugas diri hanyalah menanti pagi. Tapi penantian hanyalah tentang menelusuri satu waktu dengan waktu lain. Membiarkannya berganti hingga datang dan tunai sudah janji semesta. Berbeda dalam hidup, perjalanan waktu bukan hanya soal menanti pagi datang. Sebab hal tersebut pasti akan terjadi. Tugas sebenarnya adalah membenarkan segala sikap dalam penantian pagi agar bisa menyambutnya dengan badan yang sehat lagi kuat. Dopamin dan sirotin tidak akan hadir hanya karena cuaca pagi yang menenangkan, melainkan disebabkan tubuh yang sehat dan siap membiarkan bahagia hadir dalam diri.
Begitulah dalam menanti pagi, tidak bisa hanya berdiam di atas dipan hingga matahari muncul dan menghangatkan. Menanti pagi adalah sebuah persiapan menjadi diri yang lebih baik di hari selanjutnya. Seperti halnya dalam kehidupan, perjuangan kita hanyalah sebuah upaya agar ridha Allah datang di saat pertolongan-Nya pun hadir guna menjadi diri yang lebih baik lagi. Pertolongan yang membuat hitam dan dinginnya tantangan menjadi udara yang menyejukan dan cahaya yang menyehatkan tubuh, seperti halnya pagi.