Pagi sekali, saya sudah melangkahkan kaki menuju kampus, Dari asrama menuju kampus dengan berjalan kaki. Ah, saya selalu suka momen berjalan. Menghirup udara jumat pagi yang sejuk, Kota Depok yang beberapa hari ini selalu bercuaca mendung dipagi hari. Tidak ada perasaan apapun, hanya penuh dengan harapan kebaikan karena hari ini akan pulang. Melewati beberapa spot favorit, salah satunya jembatan yang menghubungkan fakultas saya belajar dengan fakultas sastra. Belum terlihat siapapun disana.
Pukul tujuh lebih beberapa menit, sudah sampai saya dikantin fakultas. Kemudian, saya melangkah ke mushollah yang lokasinya memang tidak terlalu jauh dengan kantin. Tanpa ada perasaan apapun, setelah mengirim pesan WA pada teman, biasanya tempat yang saya pilih untuk meletakkan tas adalah di depan. tepat di depan tempat untuk shalat. Namun, berbeda dengan saat itu, saya memilih menyandarkan tas dibelakang. Memulai takbir yang pertama, agak terusik dengan adanya kelebatan bayangan sebelah kiri musholla. Ada orang. Saya melanjutkan pada rakaat selanjutnya, dan mendengar ada suara dentangan terjatuh, yakin benar itu adalah suara telpon genggam saya yang terjatuh. Ah, mungkin kucing. Saat mengakhirkan salam, saya masih menemukan tas dalam keadaan utuh, namun telpon genggam yang tadi terjatuh sudah tidak berada ditempatnya. Dibagian belakang musholla jelas masih ada laki-laki paruh baya, saya menghampiri dan bertanya perkara benda hilang *tentu saja tidak ada pengakuan disana* Masih dalam keadaan berharap benda yang hilang itu dikembalikan.. nihil. Kekhawatiran lain adalah, jika saya nekat mengejar bapak itu, belum tau bagaimana kelanjutannya. Ya, mungkin itu saatnya ikhlas.
Jujur, perasaan saat itu campur baur. antara tenang, sedih, ikhlas, takut.
Saya memutuskan untuk bersikap setenang mungkin, meski sedihnya masih terasa. Saya melanjutkan duduk dikantin menunggu teman yang lain. Setelah selesai agenda, saat itu saya berjalan menggunakan jalur berjalan yang sama ketika saya pergi ke fakultas tadi pagi. Jalan yang sama namun dengan kehilangan salah satu benda. Apa bedanya.. Saya banyak berpikir, memahami, dan mecoba mencari hikmah sebanyak-banyaknya atas kejadian kehilangan itu.
Mungkin saja jika saya tidak menyimpan tas dibelakang, si pencuri akan nekat terang-terangan mengambil kehadapan saya ~
Mungkin bukan hanya telpon genggam, bisa jadi seluruh isi tas raib..*bisa jadi*
Mungkin disana saya ditegur Allah, diingatkan untuk mengencangkan infaq..
Mungkin Allah saat itu sedang memeluk saya dengan cara menghilangkan suatu barang yang selama ini terkadang sering mengalihkan perhatian saya terhadapNya *faghfirly Robb*
Mungkin atas kejadian ini saya disuruh untuk belajar menjadi orang kaya, karena orang kaya tidak akan merasa kehilangan selama ia punya Allah..
"selama yang hilang bukan Allah, tidak usah bersedih terlalu dalam.."
Mungkin..mungkin.. ada sejuta kemungkinan lain yang saya harus hadirkan dalam benak untuk mengingat bahwa memang segala yang kita miliki sebenarnya hanyalah titipan, tidak ada yang mutlak milik kita. Bahkan kita ini hanya menumpang ruh pada badan, menumpang hidup pada bumi, meminjam seluruh onderdil organ pada Allah, kita hanya tamu di bumi Allah.. Hanya saja, kita terkadang menjadi tamu yang tidak tau sopan santun, mengganggap rumah ini menjadi milik kita, padahal terserah bagaimana tuan rumah, kita akan ditempatkan dikamar mana, sampai kapan.. Itu mutlak terserah yang Punya Rumah..
Sepahit apapun kejadian yang menimpa kita, pastikan hal manis yang bisa kita petik.
Semoga Allah selalu memeluk kita erat, pada dekapan RahmatNya
Mencari Hikmah pada Musibah