Jangan salahkan semesta, karena telah menimbun utopia yang pernah kita cipta. Karena pada hakikatnya, cinta adalah bintang yang sempurna. Dan kitalah supernova yang hanya bisa merusaknya.
Anna Azzahra
seen from Germany

seen from Singapore
seen from China

seen from Iraq
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Dominican Republic
seen from China
seen from Libya

seen from Singapore
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from China
seen from China

seen from United Kingdom

seen from Italy
seen from Japan
Jangan salahkan semesta, karena telah menimbun utopia yang pernah kita cipta. Karena pada hakikatnya, cinta adalah bintang yang sempurna. Dan kitalah supernova yang hanya bisa merusaknya.
Anna Azzahra
Hazırlarken zorlandığım bir gönderi oldu. Konu biraz karışık gelmiş olmalı. Nedeni gayet açık bence :) Bu konuyu şu şekilde izah edelim. Einstein örneğinden devam edecek olursak zaman yolcusu Einstein'a teoriyi anlatıyor. Fakat burada şöyle bir sorun var. Zaman yolcusu zaten Einstein'dan öğrenmişti. Fakat Einstein bu teoriyi kendisinden öğrenen birinden öğreniyor. Yani işte Paradoksal döngüye burada giriyoruz :) İlk olarak sorulması gereken soru zamanın ne olduğudur. Zaman, çoğu insan için sabitken, ünlü fizikçi Albert Einstein, zamanın göreceli olduğunu ve uzaydaki hızımıza göre değişebileceğini göstermiştir. Einstein’a göre, uzay üç boyutlu bir yerdir, zamansa dördüncü boyuttur. Yani uzayda uzunluk, genişlik ve derinlik gibi koordinatlarla bulunduğumuz yeri belirtiriz. Zaman ise başka bir koordinat veya yöndür ve sadece ileri doğru hareket eder. Lakin Einstein’ın Görelilik Teorisi’ne göre zamanın yavaşlaması veya hızlanması, bizim başka bir şeye göre ne kadar hızlı olduğumuzla alakalıdır ve bir cisim hız kazandıkça zaman genişler. Zaman genişlemesi, cisim için zamanın daha yavaş akmasıdır. Örneğin ışık hızına yaklaşan bir uzay gemisindeki bir kişi, dünyadaki ikizine göre daha yavaş yaşlanır. İnterstellar filmini izleyenler bu cümleyi kafalarında hemen Murp ve babasına uyarlayarak somutlaştırıp anlayabilirler. Yani aslında astronotlar birer zaman yolcusudur. Bu teoriye göre, belirli şartlar altında zaman bükülebilir. Bu da zaman yolculuğu fikrine kapıları arar. İşte tüm bu yazarlar, senaristler bu teoriden yola çıkarak zamanı bükerek, zamanda yolculuk temasını hayata geçirmişlerdir. Devamına web sitemden erişebilirsiniz (Link Bio'da) • Hazırlayan ve düzenleyen:@_ysnplt • Kaynaklar: http://www.astronomytrek.com/the-bootstrap-paradox-explained/ • https://www.dictionary.com/e/pop-culture/bootstrap-paradox/ • Etiketler #paradoks #paradoksal #paradokslar #bootstrap #bilimadamları #bilimşenliği #bilimdünyası #bilim_akimat #bilimfuarı #bilimteknik #bilimselçalışmalar #bilimveteknoloji #ilginç #ilginçfikirler #ilgincvideolar #i̇lginç https://www.instagram.com/p/CCvutDNFq_P/?igshid=18n277xmmqhs5
Mosi Bertoleransi
Sekelompok manusia hidup bersama di bumi. Mereka beranak-pinak, bertumbuh dan berkembang, tersebar dalam berbagai keyakinan dan kepercayaan. Mereka terlahir sebagai manusia, dengan perbedaan sebagai fitrahnya.
Suatu ketika, sekelompok manusia merayakan hari besar dalam agamanya, kepercayaan yang diyakininya. Lantas sebagian manusia di luar kelompok lekaslah menoleh, membuang muka, dan tidak peduli. Sebagian dari mereka bahkan mengganggap kelompok yang berbeda tersebut tak pernah ada. Sebagiannya lagi mendakwa dan memfatwa bahwa haram hukumnya mengucapkan 'selamat' pada mereka.
Selamat bagi mereka adalah gerbang dosa yang akan menjadi pengantar menuju neraka.
Selamat bagi mereka adalah suatu keburukan yang tidak boleh dilakukan.
Selamat bagi mereka adalah pelarangan untuk menghargai dan bertoleransi terhadap perbedaan.
Ah, aku rindu sosok pemimpin yang selalu menjadi pelita dalam semesta. Meski kini beliau telah tiada, bukan berarti cahayanya tidak terlihat. Telah banyak perilaku toleransi dari beliau yang berhasil diejawantahkan di bumi, salah satunya adalah Perjanjian Madinah (Medina Charter/Constitution of Medina). Dokumen tersebut merupakan hasil musyawarah mufakat umat Muslim di Madinah dengan beberapa suku minoritas termasuk kaum Yahudi. Beliau berupaya menentukan kebijakan-kebijakan yang adil dan sama rata bagi mereka. Persamaan hak dan kewajiban, perlakuan, penyelesaian persoalan hukum hingga ekonomi diatur dalam Perjanjian Madinah, dituangkan menjadi kurang lebih 57 pasal.
Sekarang, kita terlalu sibuk oleh persoalan surga dan neraka artifisial buatan manusia, klaim atas pahala dan dosa yang dikuasai oleh kaum yang serakah dan kelompok-kelompok pembuat resah. Mengucapkan 'selamat' divonis menjadi sebentuk dosa terhadap pelecehan agama, mengganggu kepercayaan, dan menggoyahkan keyakinan.
Benarkah? Benarkah sedangkal dan sepicik itu?
Padahal, apabila kita pahami lebih dalam esensinya, hal-hal picik seperti ini tak mungkin terjadi. Tidak ada salahnya turut bersuka cita di kala saudara kita sesama manusia merayakan hari rayanya. Tidak berdosa memberikan selamat pada apa yang mereka percayai dan yakini. Tentunya, memberikan selamat tidak sama dengan mempercayai dan turut meyakini.
Jikalau seorang khalifah besar saja sanggup menerapkan mosi bertoleransi, mengapa kita tidak?
Bagimu agamamu, bagiku agamaku.