Narasinopsis - Pasung Jiwa
Karya Okky Madasari
Sampul yang menarik, judul yang ciamik. Buku “Pasung Jiwa: Apa Itu Kebebasan?” Sengaja kupilih untuk mengawali tahun 2024. Aku enggak menyangka kalau isi bukunya akan serumit dan seberat itu. Di awal, Sasana sebagai tokoh utama muncul sebagai sosok yang ‘lurus-lurus’ saja. Aku sempat berfikir, dimana letak konflik pada novel ini? Apakah kebebasan karena kekangan orang tua, atau apa? Jujur saja, di awal aku sempat berfikir “Ah, apa sih hal buruk yang mungkin terjadi dengan Sasana?” Dan BOOM! Seperti dihantam sekontainer beras oleh Hulk, aku mendapati kenyataan yang sangat mencengangkan. Hingga pertengahan bab, aku masih enggak menyangka (dan enggak terima) kalau Sasana berubah menjadi seperti itu! Kenyataan itu dibungkus secara implisit yang membuatku harus menerka-nerka sendiri, dan ternyata, Ah, jalan ceritanya memang seperti itu. Lalu, di saat yang sama, Sasana dipertemukan dengan Cak Jek, si Tokoh utama kedua, dimana Cak Jek dipertemukan dengan Sasana hanya untuk melahirkan sisi lain Sasana. Lalu tokoh-tokoh lain yang membuat cerita semakin kompleks tapi berkesinambungan.
Kak Okky Madasari selalu sukses membuatku penasaran dalam tiap kalimatnya. Sepanjang membaca, selalu ada saja hal yang membuatku menganga, merana, bahkan menangis. Seringkali aku harus menarik nafas untuk kembali melanjutkan membaca. Ceritanya terlampau seru untuk kubaca lambat-lambat, dan terlalu memusingkan kalau aku baca cepat-cepat. Makna kebebasan yang dituang dalam 332 halaman yang rasanya sayang jika terlewatkan sedikit saja sebab ada banyak hal yang baru kusadari bahwa manusia terlampau sering dipenjara, terpenjara, dan memenjarakan dirinya dalam hal tertentu. Akhir cerita yang membuatku harus kembali menerka mereka akan kemana, tapi nyatanya cukup menerbitkan rasa lega. Dan buku ini membuatku ingin membaca kembali buku-buku mbah Sigmund Freud.
- Sastrasa












