Pasti ada masanya, di mana tak terlintas sedikit pun apa yang mau ditulis. Tak terpikirkan sama sekali apa yang hendak dituangkan. Ditambah lagi rasa ingin berhenti kian meronta-ronta. Memaksa. Mengais-ngais mutiara untaian kata. Ke mana pun perginya, rasanya setiap jalan selalu buntu.
Pasti ada masanya, di mana jalan ini sepertinya cukup sampai di sini saja. Tak ada harapan lagi. Segala daya dan upaya telah terkuras habis. Diri hanya bisa tenggelam. Kian terbenam dalam kebuntuan. Tak ada motivasi untuk bangkit. Tak tentu ke mana arah ingin dituju.
Tak ada ide. Tak tahu ingin menulis apa. Tak tahu arah ceritanya bagaimana. Rasanya konflik dalam cerita terlalu biasa. Tak ada jalan lagi. Tak tahu bagaimana melanjutkannya. Tak tahu pula bagaimana mengakhirkannya.
Maka pada masa-masa itu, ketahuilah. Sesungguhnya hal itu lazim terjadi. Bukan hanya pada saat menulis. Tapi, pekerjaan apapun itu, pasti akan ada masanya mengalami jenuh, segala api semangat di awal perlahan padam, segala ide seakan tak bisa lagi utuh.
Maka nikmatilah. Nikmati waktu dengan diri sendiri. Istirahat sejenak. Sembuhkan segala hal menyesakkan yang mengganggu. Boleh berhenti, tapi bukan untuk selamanya. Coba renungkan lagi, apa alasan untuk kemudian memilih jalan ini? Apakah telah sepenuh hati mengerjakan semuanya?
Pelan-pelan, ya. Jangan terlalu laju berlari, hingga hanyut, dan akhirnya kehilangan diri sendiri.
Pelan-pelan. Coba bangun lagi. Mulai lagi.
Kan, berapa kali sudah saya sampaikan ini kepada Puan. Janganlah seperti orang linglung karena tak punya bahan. Lihatlah. Jadi juga, kan, apa yang Puan tulis. Berawal dari bingung, jadi juga satu tulisan. Mantap sekali.