Belajar Menaklukan Versi Al Fatih
(Sumber foto : dokumen pribadi / Dhita)
Sultan Mehmet II atau yang lebih dikenal dengan nama Muhammad Al Fatih merupakan tokoh yang dikenal karena berhasil menaklukan Konstantinopel. Ibukota kekaisaran Romawi Timur yang dipimpin oleh Konstantinus XI itu berhasil ditaklukan oleh pemuda berusia 21 tahun. Peristiwa penaklukan tersebut membuat Mehmet II mendapatkan gelar Al Fatih atau The Conqueror yang berarti Sang Penakluk. Kehebatan Mehmed II ini tidak lepas dari pengaruh ayah dan gurunya dalam menanamkan misi kehidupan yang kuat di dalam dirinya. Ada beberapa hal yang bisa dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan apabila kita ingin menjadi seorang penakluk sebagaimana Mehmet II. Sebelum berhasil menaklukkan Konstantinopel, Al Fatih sudah dilatih dan terbiasa menaklukan dirinya sendiri. Penaklukan apa yang dilakukan Mehmed II sehingga bisa merebut wilayah Konstantinopel yang saat itu memiliki penjagaan ketat, simak uraiannya bersama yuk.
1. Penaklukan diri dari kebodohan
Berbeda dengan anak-anak pada umumnya, masa kecil Al Fatih dihabiskan untuk belajar. Al Fatih kecil yang masih berusia dua tahun dikirim ke Amasya, kota tempat keluarga kerajaan mempelajari pemerintah. Karena sifatnya yang keras membuat beberapa ulama kewalahan menghadapinya. Sultan Murad II memahami bahwa sifat keras anaknya adalah bekal yang baik bagi seorang pemimpin sehingga beliau memberikan guru terbaik untuk mendidik Al Fatih yaitu Syaikh Ahmad Al Kurani dan Syaikh Aaq Syamsudin. Pada usia kurang dari 17 tahun, Al Fatih telah menguasai 8 bahasa, selain itu dia juga memiliki ketertarikan pada ilmu geografi, syair, puisi, seni serta teknik terapan. Jauh sebelum penaklukan Konstantinopel, Al Fatih telah membuktikan bahwa penaklukan kebodohan menjadi bekal utama seseorang untuk mencapai misi hidupnya. Hasil jerih payah Al Fatih dalam menaklukkan kebodohan terbukti dengan jelas dalam serangkaian strategi yang dirancangnya untuk membebaskan konstantinopel. Pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa ini adalah pentingnya kesungguhan dalam mempelajari ilmu. Kesungguhan tersebut diperlukan agar ilmu yang didapat tidak hanya berupa teori namun juga berbuah manfaat.
2. Penaklukan diri dari hawa nafsu
Misi penaklukan Konstantinopel yang kuat dalam diri Al Fatih digabung dengan sifatnya yang keras membuatnya fokus mencari cara mewujudkan keinginannya tersebut. Mehmed II melakukan cara yang tidak banyak dilakukan oleh pemuda saat ini dalam mengejar impiannya yaitu, mendekatkan diri pada Allah. Menyadari bahwa pasukan, strategi maupun senjata bukanlah kekuatan yang besar, Al Fatih memilih cara mendekatkan diri pada Allah sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan impiannya. Dia adalah panglima perang yang tidak pernah masbuq dalam sholatnya bahkan selalu menunaikannya berjamaah. Dia bahkan tidak pernah meninggalkan sholat malam dan sholat rawatib sejak baligh hingga dia meninggal. Betapa banyak dari kita di jaman sekarang ini mengaku ingin mewujudkan impiannya namun alih-alih meminta pada Allah, kita justru menjadikan Allah alternatif terakhir. Bukankah setelah kita kehilangan jalan, baru mengadu ke Allah? Maka tidak mudah sebetulnya untuk menaklukkan hawa nafsu, apalagi jika itu berkaitan dengan pencapaian-pencapaian urusan dunia.
3. Penaklukan diri dari rasa menyerah
Setelah pertempuran Varna, Mehmed II diminta untuk kembali memimpin Utsmani sebagai Sultan. Namun Mehmed yang belum populer sebagaimana ayahnya membuat perhitungan yang salah hingga akhirnya diminta mundur dan ditempatkan sebagai gubernur di Kota Manisa, sementara Kesultanan Utsmani kembali diambil alih oleh ayahnya, Murad II. Hal tersebut tidak lantas menjadikan seorang Mehmed II putus asa, ia mempelajari semua yang menjadi sebab kegagalannya baik dalam memerintah, menjalin hubungan dengan pasukan maupun aparat termasuk mempersiapkan strategi untuk menaklukkan Konstantinopel. Hingga akhirnya pada usia 19 tahun dia memegang kendali penuh Kesultanan Utsmani menggantikan ayahnya yang telah wafat. Penaklukan diri dari rasa menyerah juga terlihat saat pembebasan Konstantinopel, teluk tanduk emas yang dikelilingi oleh rantai membuat kapal pasukan Al Fatih kesulitan untuk melancarkan serangannya. "Bila kita tidak dapat memutuskan rantainya, maka kita akan melewatinya", begitu ucap Al Fatih. Kombinasi kecerdasan dan rasa pantang menyerah Al Fatih membuatnya mengerahkan kapal perangnya agar diseret melalui Bukit Galata menuju ke Tanduk Emas (Golden Horn). Sehingga, serangan dilakukan dari laut agar lebih efektif. Dengan bantuan kayu bulat yang dihaluskan menggunakan lemak sapi, satu landasan diwujudkan guna memudahkan kapal itu diseret menaiki bukit. Peristiwa kapal yang berlayar di daratan itu merupakan salah satu peristiwa kunci yang membuat pasukan Al Fatih berhasil mengambil kendali Konstantinopel. Layaknya Al Fatih, sebagaimana manusia hendaknya kita memiliki daya juang yang kuat serta tidak pernah malu untuk melakukan evaluasi diri. Pentingnya evaluasi diri membuat kita menyadari kelemahan supaya bisa memperbaikinya, sehingga meminimalisir celah kesalahan yang mungkin kita lakukan.
Membaca uraian di atas rasanya kita, masih jauh ya dari karakter kebaikan Al Fatih, seringnya diri ini masih terbelenggu oleh hal-hal yang sebetulnya tidak perlu. Maka jangan lelah untuk terus memperbaiki diri, karena kebaikan layaknya pisau, jika tidak sering dilatih akan terkalahkan oleh keburukan. Bagaimana mungkin mampu menaklukkan misi, sementara kita masih sering takluk pada hal lain ketimbang takluk pada diri sendiri.
Disclaimer :
Tulisan bukan review/resensi buku yang ada di gambar. Apabila dalam tulisan ini terdapat kekeliruan mengenai kisah Muhammad Al Fatih, tolong bantu koreksinya ya.
Referensi:
Siauw, Felix Y. Muhammad Al Fatih 1453. Alfatih Press : Jakarta. 2013.
#TantanganRabu adalah tantangan yang dilakukan untuk melatih kemampuan menulis saya. Dilakukan setiap hari Rabu dengan cara meminta tolong teman supaya mengirimkan satu gambar apapun yang akan dibuat menjadi sebuah tulisan. Tantangan minggu ini diberikan oleh teman saya bernama Dhita, isteri dan ibu yang ingin putranya bernama Fatih kelak bisa mewarisi keberanian dan kesalihan Muhammad Al Fatih.














