Belajar Memaknai Rasa Sakit
(Sumber foto : dokumen pribadi / Gana Malinda)
Belajar dari kawanku pecinta kucing. Dia berkali-kali dicakar kucing kesayangannya. Anehnya dia tetap menyayangi kucing yang telah memberikan luka padanya.
Kenapa ya kira-kira temanku itu tetap menyayangi kucing yang sudah menyakiti dirinya? Sebelum mencari tahu jawabannya, kita pahami dulu yuk apa itu sakit.
Sakit dalam bahasa Inggris terbagi menjadi tiga kategori yaitu diseases, illness dan sickness.
Diseases memiliki dimensi biologis. Apa saja yang mengalami kerusakan dalam tubuh seperti tangan yang berdarah, tulang yang patah, bibir sariawan. Karena kaitannya dengan organ tubuh, diseases harus di sembuhkan dan di obati
Berbeda dengan diseases, kata illness memiliki dimensi psikologis. Kata illness digunakan untuk mendeskripsikan pengalaman, persepsi atau perasaan seseorang terhadap rasa sakit. Jika diseases perlu disembuhkan, maka illness perlu di kelola dan di atur karena berhubungan dengan apa yang dirasakan oleh seseorang. Secara fisik, seseorang terlihat sakit, namun jika dia memiliki pengendalian yang baik terhadap sakit yang dialaminya maka perasaannya tidak ikut terlarut dalam sakit yang di deritanya.
Sementara sickness memiliki dimensi sosiologis. Konsep sosial budaya yang berkembang di masyarakat mengenai konsep sakit itu sendiri. Bagaimana seseorang dikatakan sehata atau sakit berdasarkan kesepakatan atau aturan yang berlaku di lingkungan sosial tersebut. Contohnya seseorang yang depresi adalah orang yang sakit, lingkungan masyarakat yabg masih kental dengan hal-hal mistis bisa saja menganggap depresi sebagai bentuk gangguan jin.
Ada beberapa persepektif dalam memandang rasa sakit. Salah satunya adalah instrumentalisme. Persepektif ini hanya memandang rasa sakit berdasarkan illness. Berfokus pada cara seseorang mengelola rasa sakit serta memandang seberapa jauh dia melihatnya sebagai bentuk penyimpangan.
Salah satu contoh perspektif instrumentalisme adalah rasa sakit yang dirasakan temanku pecinta kucing. Secara diseases, seseorang yang di cakar kucing akan berdarah dan menimbulkan rasa sakit. Akan tetapi, saat seseorang memiliki kemampuan yang baik untuk mengelola rasa sakitnya, maka dia tidak akan merasa sakit.
Kemampuan mengelola rasa sakit ini salah satunya dipengaruhi karena perasaan sayang dan cinta. Sama halnya saat kita bercanda dan di cubit oleh saudara, secara diseases seharusnya sakit. Tapi secara illness kita tidak merasakan sakit.
Dari kisah kucing dan pengertian akan rasa sakit bisa diambil sebuah kesimpulan. Sakit atau tidaknya seseorang dipengaruhi oleh bagaimana cara pandangnya terhadap rasa sakit. Perasaan cinta bisa mengubah cara pandang seseorang akan rasa sakit yang dialaminya. Bentuk rasa cinta yang dapat dilakukan adalah dengan mencintai diri sendiri. Dengan mencintai diri sendiri, kita akan bisa memaknai rasa sakit. Saat seseorang mampu memaknai rasa sakitnya, dia akan lebih mudah menemukan tujuan hidupnya.
Seperti kata Nietzsche, "Dia yang memiliki 'mengapa' untuk hidup bisa menghadapi hampir semua 'bagaimana'."
Hal ini juga bisa diterapkan saat menghadapi "sakit" dalam kehidupan. Apabila ada orang yang memfitnah, menjatuhkan atau membicarakan keburukan di belakang kita, tentunya akan menyakiti hati. Namun, pengelolaan yang baik terhadap rasa sakit tersebut, tidak akan membuat kita berlarut dalam kesakitan.
Nampaknya kita harus banyak belajar ya dari pecinta kucing. Belajar tangguh, meski disakiti berkali-kali, tetap bersabar bahkan malah semakin sayang. Sebagaimana kata mutiara dari Ali bin Abi Thalib, "Jadilah bunga yang memberikan keharumannya, bahkan kepada tangan yang telah menghancurkannya."
#TantanganRabu adalah tantangan yang dilakukan untuk melatih kemampuan menulis saya. Dilakukan setiap hari Rabu dengan cara meminta tolong teman supaya mengirimkan satu gambar apapun yang akan dibuat menjadi sebuah tulisan. Tantangan minggu ini diberikan oleh kakak tingkat saya, Mba Gana yang sedang merindukan kucing milik kakaknya. Usut punya usut, kucing yang ada dalam gambar di atas begitu peka dalam memahami suasana hati Mba Gana. Itulah yang membuat Mba Gana merindukan kucing berbulu coklat tersebut.













