agak sedikit terlambat membuat tulisan ini. sempat menahan diri untuk tidak menulis, tapi akhirnya dibuat juga.
kekecewaan yang lagi-lagi sama. terjadi sejak lama. ya, manusia dan egonya.
saat mendengar berita soal penembakan dalam rumah ibadah, tidak ada yang kulakukan selain berucap kasar dan mencaci manusia yang penuh dengan kesombongan itu. ya, pelakunya.
kenapa sombong? karena sebenarnya tidak ada yang dia ketahui soal hidup tapi dia mampu mengambil keputusan untuk mengorbankan orang lain. yang dia tahu mungkin hanyalah mayoritas yang paling benar.
jadi sebenarnya hidup itu apa? hidup jelas bukan milik dia. bukan milikku. bukan juga milik mayoritas. bukan pula milik minoritas. hidup jelas milik TUHAN, lengkap dengan segala ke-Maha BesaranNya.
lalu siapa kita hingga mencoba menghakimi orang lain? kenapa kita bisa yakin orang itu salah atau benar, lalu tega mencabut hak hidupnya? karena kita mayoritas? atau karena yang kita percayai adalah yang terbaik? cih! pikiran paling picik yang paling sering kutemui pada manusia.
mungkin sebelum bertingkah sebagai seorang mayoritas yang menekan minoritas, manusia harus menimbang lagi. sepantas apa untuk merasa superior, diantara begitu banyak sisi lemah yang manusia miliki? dan mungkin baiknya manusia tahu, bahwa titik lemah manusia akan tampak ketika dia menganggap lemah sesuatu. lalu, seberapa yakin kamu bahwa TUHAN menyukai perbuatan jahatmu yang mengatasnamakan kebenaran mayoritas? mengingat TUHAN sangat menyayangi manusia. siapapun itu.
agak bosan mengatakan ini. tapi, berkacalah manusia.