seen from Rwanda

seen from United States
seen from China

seen from Switzerland

seen from United States
seen from United States
seen from Italy

seen from United States
seen from Türkiye
seen from Germany
seen from Germany

seen from Germany

seen from Maldives
seen from Canada
seen from Germany

seen from Canada
seen from Netherlands

seen from United Kingdom
seen from Russia

seen from Türkiye
Berita
Ustad tadi bercerita mengenai Berkah Al-Quran kepada seorang anak di Bogor, yang belakangan ini sedang viral di media.
Ia membawa kantong putih, dan terlihat duduk di emperan toko sembari memegang mushaf Quran.
Setelah dicari dan ditelisik, ternyata ia sudah tidak mempunyai ayah dan ibu. Ia dirawat oleh kakek dan neneknya.
Setelah lulus, ia hanya ingin mencari pekerjaan. Ia mengatakan bahwa ia boleh keluar dari rumah dan mencari pekerjaan, asalkan tidak boleh meninggalkan sholat dan membaca Al-Quran. Itu komitmen yang ia jalani dari kedua kakek dan neneknya.
Dan ia akan membaca Al-Quran hingga lapar yang ia rasa hilang.
Ya Allah.
Begitu banyak pertanyaan dan pernyataan di benak saya.
Seperti, bagaimanakan pendidikan karakter yang ditanamkan oleh kedua kakek neneknya? Sehingga anak tsb mempunyai komitmen yang kuat terhadap janji untuk tetap sholat dan membaca Al-Quran.
Lalu kemudian, saya tetap berusaha muhasabah. Apakah saya sudah seperti anak tersebut di hari-hari ini?
Apakah hanya mengejar kebutuhan dunia, dan meninggalkan mushaf tertumpuk diatas alasan lelah pulang kerja?
It is note to my self.
Tangsel, 07-Nopember-20
Harap Tak Sampai
Hari ‘lah hampir berlalu
Di sudut pematang, pengamen cilik duduk beralas debu
Matanya mengawang angkasa
Merapal harap dalam pelupuk sukma
Betapa pintanya sederhana
Tak hendak berharta berbenda
Inginnya bercengekarama sekawan baya
Letakkan gelayut beban kendati sekejap mata
Apalah daya, nyata lain dari pinta
Takdir kuasa rampas masa kecilnya
Seiring senja yang dilahap gulita
Setengah hati ia kemasi harapnya
GK, di awal tahun 2020
How do you write?
Pertanyaan ini cukup surprising. Kukira fitur ask di Tumblr sudah tidak populer? Still, it’s nice tho. Jadi bisa mengingat kenangan-kenangan lama di Tumblr, sejak.. 2014.
Well. Selain karena kaget masih ada yang pakai fitur ask Tumblr, aku juga kaget sama pertanyaannya. It kinda make me blush, and ask myself, “is there something special with my writings? xoxo”. Die you narcissist!
Beberapa hari yang lalu ada juga seseorang yang berkata dia menyukai tulisanku. Katanya tulisanku mengalir, kadang bisa menggambarkan dia sampai hal-hal yang dia sembunyikan, bahkan bikin nangis di salah satu tulisan. Hmm, dia sekarang sedang menghindari aku, though. Ngeblock tumblr & WA-ku.
I really want to make things up with her. She’s one of my few precious friend I can talk to.
I really hope you’re her lol. Even the chance is that slim.
First thing first. Aku termasuk tipe orang yang kesulitan mendeskripsikan diriku sendiri, termasuk opiniku, cara ini ituku, dan lain lain. What a lame excuse. Ya, sebelum mengecewakan kan? I’m kinda fragile, you know..
Jujur, aku sedikit kaget dapat pertanyaan semacam ini, sekaget saat temanku yang di atas tadi bilang aku berbakat menulis, dan dia suka tulisanku. Soalnya, penulisnya sendiri, aku, baru suka sama tulisan-tulisanku sejak Maret tahun ini, diawali sama tulisan judulnya Sebuah Opera.
Saat dengar perkataan temanku, aku teringat semua tulisanku, bukan hanya yang akhir-akhir ini. Tulisan-tulisan dari tahun 2014. So random dan out of the blue. Kadang-kadang bahas hal-hal Islami, kayak, bersyukur saat melihat marseyside blind fc, Kenapa Babi Haram, etc. Kadang juga nulis soal sains, kadang soal insight random, kadang ngode cewek, etc.
Post-post random itu, kalau dilihat vibenya serasa ngeliat share-sharean WhatsApp grup keluarga besar. Tapi, ada beberapa tulisan yang aku suka juga sih, setelah baca-baca ulang. It’s kinda cheesy, but makes me smile, Thankyou me!, Bibit depresi yang kuabaikan, cough!
Periode 2014-2015 ini bisa dibilang periode awalku nulis, masih pure, masih nulis semua yang ingin ditulis.
Periode 2016 itu aku kehilangan identitas & kesepian. Kalau ga salah di masa-masa ini aku jarang nulis lagi di Tumblr, kadang cuma posting masalah iseng kalau lagi liburan, kadang juga nulis hal yang sampai sekarang aku masih suka. Hal-hal ketika pulang dari kampung halaman ke Jogja lagi. one of the best is Bisakah aku diabetes karena kebanyakan makan cokelat?.
Tapi, di akhir tahun, sampai 2017 akhir, aku mendapat identitas baru. Ahlussunnah wal jamaah. Kalian biasa menyebutnya salafy, wahaby, ekstrimis, dll. Di periode ini tulisan-tulisanku berubah jadi dakwah. Aku nulis semua insight yang aku dapatkan setelah kajian. I write because I want to spread my belief. Cukup membantu masalah kesepianku waktu itu, karena aku jadi punya circle baru. Circle islami.
Sayangnya, sekarang jadinya beberapa celanaku jadi terpaksa kuberikan orang karena sudah dipotong cingkrang hmm.
Tapi, fase Islami ini berakhir di awal tahun 2018. Awalnya cuma terserang syubhat flat earth (so cute, I know.), waktu itu aku yakin banget bumi bulat, tapi temenku yang Islamist parah maksa buat buktiin bahwa bumi itu flat, dengan argumen “kalau bumi datar, kita jadi bener ngadep sholat ke kabah, tapi kalau bulat jadinya ke luar angkasa”. Fuck me. Argumennya malah backfired, bukan aku jadi percaya flat earth, malah aku jadi menanyakan kredibilitas Islam.
Waktu itu aku masih bisa memaklumi dan memberi banyak apology soal syubhat flat earth (that’s why I hate flat earther so much in my early 2018 writings). Tapi, akhirnya pertahananku runtuh karena omnipotence paradox. Aku jadi agnostik. Aku tetap takut Allah, tapi sedikit tidak beriman. Makanya tulisan-tulisanku waktu itu kebanyakan soal science.
Waktu itu aku lonely lagi, circle islami yang selama ini aku depend kepadanya, hilang karena beda paham. Ini berlangsung sampai April 2018. Saat mulainya babak kedua turbulensi identitas Almas Rausan Fikri. Waktu itu aku sering nulis hal-hal yang precious. Kenangan-kenangan yang gak pengen aku lupakan.
Aku KKN. Aku bertemu dengan seorang gadis, dan menyukainya. Pertama kalinya aku menangis karena cinta, ps, it hurts so much. Aku mulai suka puisi setelah lihat puisi ayah. Dan semenjak itu, aku jadi suka write my feelings sampai sekarang.
Dulu awal menulis 2014, I want people to know what I think. Berkembang jadi I want to know what I feel. Pemicunya adalah, puisi, dan bumbu-bumbu pengalaman hidup yang membuatku jadi labil & fragile.
What I want to say is. Writing is a journey. It takes me 4 full years for me to write something that I love to read.
It kinda sucks sometimes. Rasanya di awal perjalanan kita bisa nulis apapun yang kita mau. Orang masih belum memperhatikan kita, kita masih belum memperhatikan kita. We’re just newbies. Di tengah perjalanan itu, setelah kita mulai sadar akan tulisan kita sendiri, kadang kita merasa malu untuk bahkan menunjukkan apa yang sudah kita tulis. But, trust me itu cuma salah satu bagian dari prosesnya. Kalau kamu sudah sampai bagian ini, jangan berhenti. Sampai di proses ini, artinya kamu sedang berkembang, stick with it! Enjoy the process, write what you love, love what you write.
Dan sebagai bumbu penyempurna. Find yourself. You can write something you love to read, when you know yourself. Even it’s just a little bit closer to the truth.
You can’t really find yourself you know. The process of finding yourself is a journey for a lifetime.
Still, if you know a little bit more about yourself. Slowly but sure, you will come to love your writings. I bet my left kidney on it!
So, for you anon. My last message is, don’t worry. I maybe broke my promise about my left kidney, but, just like your fated someone, your love for writing will surely find the way, just, believe in it.
Thanks for asking!
"Sedikit lelah aku memilih rebah Dalam detak merindui masa kanak-kanak"
Waktu yang kuhabiskan dalam hidup, percuma terbuang begitu saja Apa yang kudapat dari semua ini? Rasa-rasanya sungguh tak ada selain kata sia-sia
Aku terjerembap pada pola ketidakteraturan hidupku sendiri Berpura bahagia dalam siksa kemelut hati yang entah karena apa Aku gila
Tuhan, mengapa aku begini? Apakah aku kurang bersyukur kepadaMu? Ataukah aku terlalu bodoh untuk mengerti semua teka-tekiMu ini?
Terkadang aku iri pada seorang bocah Yang dapat dengan mudahnya tertidur pulas dipangkuan ibunda Yang tanpa malu memungut kembali permen yang jatuh dari kepalan tangannya Yang tanpa ragu menangis kencang di keramaian saat merasakan sesuatu yang tidak ia suka
Terkadang aku merasa lelah Menerus hidup seperti ini Bagai seonggok sampah yang terseret ombak Tak tahu arah Mengganggu mata Menderita
Namun Tuhan jelas tidak menciptaku tanpa tujuan Tuhan tentu tidak melepasku tanpa arahan Oleh itu aku diberiNya kesadaran
Bahwa aku bukanlah sampah Bahkan aku terlahir dengan ribuan kasih yang tercurah Ini berarti benar bahwa aku hanya kurang bersyukur sehingga sulit menemukan hal-hal yang indah Aku hanya rindu masa bocah Ketika air mata tak harus sembunyi jika ingin tumpah
Ayah di Toba Ditangkap Polisi Usai Diduga Cabuli Anak Kandung Berusia 3 Tahun
TOBA, kedannews.co.id – Seorang pria berinisial LS (39) di Kabupaten Toba, Sumatera Utara, ditangkap polisi setelah diduga melakukan pencabulan terhadap anak kandungnya yang masih berusia tiga tahun. Pelaku diamankan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Toba pada Minggu (8/3/2026). Kapolres Toba AKBP Vinsensius Jimmy Parapaga melalui Kasat Reskrim AKP Erikson David…