~ Behind the scenes GJBN, part 3 ~
Banyak cerita dan inspirasi yang hadir saat bersama para gurunda. Kali ini kuceritakan tentang satu sosok, darinya aku belajar menemukan potensi diri, leadership, dan mental baja.
Sosok sederhana, tangguh, menjadi Abi di tempat saat ini aku tengah menempa diri. Abang, begitu aku memanggilnya. Kalau bilang yang lain, suka lama jawab. Pas tanya alasannya, biar muda terus katanya, kalau di panggil Abang. Qiqiqi...
Oke, back to our topic. Lagi-lagi bertemu dengan guru MK Sensing. Belajar mengamati di lapangan secara langsung. Sempat terjadi sesuatu hal di luar dugaan di titik kedua penyaluran nasi box untuk para korban banjir.
Masyarakat setempat menyerbu, meminta-minta dengan paksa, bahkan ada yang berbohong agar mendapat jatah lebih.
Di adakan rapat dadakan sebelum melanjutkan perjalanan. Saat rapat berlangsung, aku menyimak perkataan abang. "Hal yang harus dimiliki saat menjadi Relawan, mampu bersikap tegas, memiliki jiwa leadership agar mampu kordinasi dengan baik dan menghindari sifat masyarakat agar tidak memiliki mental pengemis dan berbohong."
"Kalau orang sudah memiliki mental pengemis dan berbohong, maka penyaluran bantuan tidak akan merata." Tutur Abang.
Terbayang, jika menjadi team relawan ke tempat bencana lebih extreme. Tidak memiliki kemampuan leadership, mental baja serta keilmuan lainnya akan kesulitan ketika di lapangan.
Saat itu karena ada dua titik lagi yang belum dituju, maka team sepakat memecah menjadi dua grup. Beruntungnya, aku tergabung di team untuk menemani abang.
Yang menarik di titik ketiga itu, abang mengubah strategi, meskipun penduduk terbilang ramah. Semua terlihat lebih tertata. Turun ingin coba membantu abang menyiapkan nasi box yang tersedia di mobil kemanusiaan, dan daging sapi kemasan dari PPA Siaga.
Penawaran bantuan itu ditolak secara halus. Abang bilang, "Hana pegang banner sama foto saja."
Memang begitu abang. Dari awal ketemu, tiap mau bantu selalu ditolak. Bilangnya begini kalau kita mau bantu, "Udah duduk manis saja, biar gak cape. Kalau mau bawa barang punya sendiri aja." Berasa seperti inces kalau gini tu... qiqiqi
Nasi box gak bakal nyampe 1 kg. Tetep aja gak boleh, yang boleh pegang banner dan foto. Padahal Intuiting itu makhluk gak suka foto, kecuali kalau urgen.
Next, nasi box dan daging di tata rapih. Masyarakat di kondisikan dengan baik. Bisa foto dengan tenang plus penyaluran merata. Jempol dua pokoknya, sedikit mulai memahami starteginya. Walaupun tetep, makhluk kek aku butuh latihan berkali biar bisa bener-bener paham.
Dari rangkaian acara, aku mengambil simpul besar. Memberi itu boleh, tapi jangan terus diberi ikan. Terus diberi ikan membuat mereka memiliki mental pengemis bahkan bisa berbohong untuk mendapatkan hak lebih. Berikan mereka kail pancingnya, agar kelak mereka bisa mandiri dan mampu bertahan tanpa terus meminta.
PR besar team relawan, bagaimana menyalurkan bantuan, sambil mendidik mereka agar tidak bergantung pada bantuan.