Little secrets of a sleeping baby. (di Special Region of Yogyakarta)

PR's Tumblrdome
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
almost home

Love Begins

Discoholic 🪩
cherry valley forever
🪼
ojovivo
Peter Solarz

@theartofmadeline

No title available
RMH
No title available
TVSTRANGERTHINGS
hello vonnie
macklin celebrini has autism
occasionally subtle

★
noise dept.
NASA
seen from France
seen from United States
seen from Türkiye
seen from Spain

seen from Malaysia
seen from Japan

seen from United States
seen from United States
seen from Singapore

seen from Mexico

seen from Türkiye
seen from United Kingdom
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from Mexico
seen from Mexico
seen from Mexico

seen from United States
seen from United States
@barukemarinsore-blog
Little secrets of a sleeping baby. (di Special Region of Yogyakarta)
Jatuh cinta pada sebuah tulisan yang tidak tau seperti apa rupa penulisnya, adalah hal yang sama seperti Ibu yang mencintai anaknya, bahkan sebelum Tuhan menghembuskan nyawa pada segumpal darah yang menempel di dinding rahim itu.
Aku, "Perkara Mencintai"
Aku tidak begitu ingat dirintik hujan keberapa, kala itu, di ruang 3x3 aku menangis dan berusaha pergi, kamu memohon untuk tinggal dan memperkosaku dengan beberapa bait kata, lalu aku merasakan kegetiran di telinga, dan menjalar memenuhi seluruh ruang hati. Nikmaaaat sekali puisimu, Tuan.. Aku berhenti menangis, lantas segera kulemparkan pelukan
Jangan biarkan butiran kristal itu menjadikan kopimu seperti gulali rasa kopi, terlalu manis di lidah justru adalah hal yang menghadirkan kepahitan di hati para pecandu Kopi.
Aku, mewakili pecandu Kopi.
Tak semua utang harus dibayar lunas. Seperti rindu yang tak menemui jumpa, atau ungkapan cinta yang tak kunjung diberi jawaban. Jika tak dibayar, ya sudah, lupakan, masih ada hati lain yang bahkan berhutang rasa padamu, bayarlah…
Aku, “Perkara utang piutang”
Aku tidak mahu munafik dan mengatas namakan orang lain, padahal kata-kata itu hadir untuk membicarakan diri sendiri, namun dengan bahasa bak menasihati orang lain. Ya, tatkala keadaan berubah seperti ini, baru aku merasa membutuhkan Tuhan, maaf Tuhan, kemarin, Kau terlupakan oleh rasa bahagia, yang justru kebahagiaan-kebahagiaan itu selalu datang dari-Mu.
Aku, yang tidak mahu munafik.
Tapi tak habis pikir, diantara banyaknya orang-orang keparat itu, Kau jadi satu diantara mereka.
Aku, yang sudah memafkan Kamu.
Idola.
“Kudapati wajahmu masih manis seperti kemarin, pantas saja pabila banyak wanita yang mengagumimu, bak sebuah lollipop, semut mana yang tak suka. Sedang aku, disini hanya bisa memandangimu, sebatas punggungmu saja, tak bisa kugapai.”
Memutar ke Kanan
Bagi sebagian orang, memang menjadi sebuah pertanyaan, mengapa ada setting waktu di gadget, pabila waktu tak bisa terulang kembali.
Aku mau bercerita,
kala itu, tahun dua ribu dua belas, di kota kecilku, aku bertemu dengannya.
Ya, kota kecil, memang, tapi setidaknya ditahun itu ada lebih dari satu juta jiwa disana. Dan Tuhan mempertemukanku dengannya,
Saat itu, aku masih sebiji jagung putri, yang memandang cinta hanya sebuah permainan, sedang dia, setidaknya biji jagung yang sudah mulai meranum.
Aku terbangun dari tidur siang, matahari sudah mau pulang ke asalnya, kudapati rumah tak ada sesiapa, sial! Aku paling tidak suka sendiri saat bangun tidur menjelang Maghrib, seperti biasa, segera kucari handphone-ku, berharap pesan singkat dari orang tuaku, “Teh, Mamah pergi ke rumah Pak Aceng, temen abahmu, meninggal kecelakaan, kepalanya pecah kelindas truk.”, baiklah, itu menyeramkan, tapi memang itu pesan singkat dari ibuku, lalu aku segera menulis status di BBM, entahlah, kukira bukan sebuah status, spesifiknya adalah pesan singkat yang bisa dilihat oleh orang lain, biasanya kalangan orang-orang alay sepertiku dulu, sering sekali memasang pesan singkat dikolom tersebut, kami menyebutnya “status BBM”.
Kutulis status BBM tersebut berupa keluhan kesahku terhadap kesendirian dirumah dan kematian kerabat ayahku yang luar biasa mengerikan, berharap ada yang memberi komentar berupa perhatian.
Benar saja, banyak teman-temanku yang bertanya dan memberi perhatian berupa do’a, namun hanya ada satu lelaki di seberang sana yang menurutku menarik, oh tidak-tidak, bukan do’nya yang menarik, karena setiap do’a adalah berkah, namun, yang membuat satu laki-laki itu menarik hanyalah, lucu saja, kupikir, betapa tidak, kita tak saling mengenal, bahkan, aku benar-benar lupa bagaimana Ia bisa satu kontak denganku di aplikasi chat tersebut, namun beraninya Ia memberiku perhatian seusai do’a-do’a yang telah Ia panjatkan pada Almarhum kerabat ayahku. Yang lebih lucu, Ia menamai dirinya “Mr. Kopet”, Mister Kopet? Perpaduan kata yang menarik, bukan?
Berawal dari status BBM, beberapa hari kami melanjutkan percakapan ringan dan mainstream, entahlah, bagaimana aku bisa merasa nyaman dengan cara pendekatan seperti itu. Ya, aku nyaman, karena aku tidak pernah terus menerus chatting dengan seseorang pabila aku tak merasa nyaman. Kini rasanya ingin sekali aku pergi ke masa lalu, dan menertawakan diriku sendiri, tapi memang itu yang aku rasakan saat ini.
Hari terus berganti, tak seperti yang kupikirkan sebelumnya, kukira obrolan kami di chatting tak ‘kan terputus, ternyata kamu menghilang, tak ada lagi selamat pagi, selamat malam, sudah makan? Dan beberapa pertanyaan mainstream lainnya, tapi jujur, saat itu, aku butuh lagi pertanyaan mainstream dari seorang Mister Kopet, tapi apa daya, aku bukan seorang perempuan yang harus memulai lebih dulu, meskipun untuk membuka sebuah percakapan. Beberapa bulan berlalu.
Sampai datang suatu hari, seorang teman datang meminta bantuanku untuk menghapus luka karibnya, tak kutahui siapa karibnya itu, tapi aku masih memikirkan harga diriku, kupikir ‘tuk apa kudatang hanya untuk menghapus luka seorang lelaki.
Hidup memang penuh kejutan, ternyata karib seorang teman adalah Mister Kopet, tanpa sepengetahuan seorang teman, aku dan Mister Kopet sebelumnya sudah lama mengenal. Seorang teman tertawa mengetahui kenyataan. Dari sana, aku dan Mister Kopet kembali menjalin pertemanan di dunia chatting, sampai pada satu hari Sabtu, Mister Kopet berkata, Ia akan kerumahku. Baiklah, kupikir, kenapa tidak? Hanya seorang karib chatting yang ingin berkunjung ke karib chatting-nya. Meskipun karib chatting, entah kenapa aku gugup, Ia bilang, Ia datang ba’da Magrib, baiklah, saat mentari pulang, aku segera mandi dan merias wajah, aku masih gugup.
Aku menunggunya cukup lama, padahal, Ia bilang, berangkat di empat puluh lima menit yang lalu, sesekali aku berpaling dari arlojiku dan memandang bintang, dan pohon-pohon depan rumahku. Oh ya, depan, dan samping kanan-kiri rumahku adalah lahan kosong, entah beberapa puluh meter rumah tetanggaku berada, selain di belakang rumahku. Ah, lima puluh menit, lima puluh lima menit, enam puluh menit. Baiklah Ia datang tepat di enam puluh menit, Ia datang dengan seorang teman, entah apa yang lucu, kami tertawa, tapi aku masih canggung. Ia datang mengenakan Jaket Baseball hitam dan celana jeans pendek, sangat matching pada zamannya. Dia tampan, senyumnya bagus, pabila Ia senyum, giginya rapih dan putih, rambut sedikit ikal, dan tinggi badan kira-kira seratus tujuh puluh sentimeter, sedikit lebih tinggi dariku.
Tak lama, kupersilahkan mereka masuk, kami di ruang tamu pada saat itu, lalu aku pamit sebentar untuk membuatkan teh manis hangat. Malam itu, kami banyak berbincang segala hal, aku suka, tidak, maksudnya, aku nyaman berbincang dengan mereka. Terutama Mister Kopet, menurutku, Ia lebih tidak mainstream pabila di dunia nyata, maksudnya, obrolannya tidak semainstream di dunia chatting, yang hanya ; “De, lagi ngapain, udah makan belum” Kau tahu, seberapa basinya cara pendekatan seperti itu, entahlah, aku memang sudah berpikir bahwa itu adalah sebuah pendekatan.
Beberapa jam berlalu, Ia meminta seorang teman untuk meninggalan kami, karena ada hal yang akan Ia bicarakan empat mata denganku. Singkat, seorang teman keluar bersama adik kecilku. Aku hampir lupa, selama kita berbincang tadi, seorang teman banyak bergurau dengan adik kecilku, dengan gaya bicara seperti anak kecil, seorang teman seperti kembali ke usia empat tahun.
Baiklah, kembali pada kami, setelah seorang teman dan adikku keluar, Ia mulai membuka pembicaraan, dan mulai mengutarakan isi hatinya, kaget bukan main! Ini adalah alur yang sangat cepat! Tapi, memang beginilah adanya, Mister Kopet memintaku untuk jadi kekasihnya, entah mengapa, mungkin karena jiwaku yang memandang bahwa cinta adalah permainan, bukan untuk konsumsi hati, aku mengiyakan. Sembilan Juni dua ribu dua belas, kami mulai merajut kasih, ada binar bahagia di sorot matanya yang sipit, kupandang wajahnya meranum dibawah remang lampu tidur yang terletak diruang tamu rumahku. Aku masih canggung, kami berdua canggung, untunglah, ada handphone-ku yang memecah kecanggungan kami, segera kuputar lagu A Thousand Years milik Christina Perry, agar suasana bahagia memenuhi seisi ruangan.
Beberapa menit kemudian, seorang teman dan adikku kembali datang, seorang teman tersenyum masam dan meledek kami, meminta pajak jadian, entahlan generasi sembilan puluhan kalau mau menjalin kasih memang harus bayar pajak kepada temannya berupa traktiran.
Kami bertiga kembali berbincang, adikku sudah masuk kamar, ngantuk, katanya. Sesekali perbincangan jadi berbeda, aku dan Mister Kopet yang saat itu jadi kekasihku, sesekali berjumpa mata, lalu tersenyum dan canggung. Celaka! Aku ta pernah merasa secanggung ini dalam sebuah permainan, bagaimana tidak, ada seseorang yang baru kukenal, pada pertemuan pertama sudah mengajakku bermain dengan hati, sudahlah, terima saja, mungkin satu atau dua minggu lagi, jalinan kasih kami juga berakhir. Itulah yang saat itu kupikirkan.
Kubiarkan malam itu seperti air yang mengalir, hatiku yang bahagia, dan pikiranku yang seburuk itu. Biarkan saja. Sampai larut malam kami banyak perbincangan, tak terasa pikiran burukku mulai memudar, yang ada hanya bahagia yang memenuhi ruang hatiku, aku sesak oleh bahagia, bak paru-paru yang mengembung terisi udara segar, seperti itulah bahagiaku.
Jarum jam benar-benar tidak terasa sudah menunjukkan tengah malam, aku tak merasa bosan, pun tak mengantuk, hanya merasakan aku lebih mengenal kekasih baruku, Jangan berprasangka buruk, dia bertamu sampai tengah malam, wajar saja, orang jatuh cinta lupa memandang waktu, lagipula, aku tak punya tetangga. Kemudian, aku memintanya untuk pulang, untungnya ayahku sudah tidur, hanya ada ibuku yang sama cerewetnya. Baiklah, mereka pamit untuk pulang, lalu yang tersisa disini adalah bahagia. Ah, sungguh bahagianya aku, pernahkah kau merasakan kebahagiaan seperti ini?
Mereka pulang dan berlalu meninggalkan jejak-jejak kebahagiaan, kupikir ini akan menjadi suatu bahan materi ‘tuk para penghuni alam mimpiku, terima kasih Mister Kopet, sejak saat itu, alam mimpiku selalu bahagia, pun alam nyataku, “MIster Kopet, aku mencintaimu.”
Malam yang indah, Tuhan, aku suka. Sayang, di persimpangan jalan aku diperkosa ramai-ramai oleh sang hujan. Jujur saja, aku suka hujan, tapi aku benci basah kuyup. Karena, kalau aku sakit, aku harus mahu terpenjara dalam kamar, lalu tak bisa melihat hal yang lebih aku sukai dibandingkan hujan, Kamu
Yasmin, “Enigma Tentang Kamu”
Satir Meracau dari Jalanan
Perkenalkan! Aku adalah seenggok daging berjalan Bersahabat setia dengan kardus lusuh penopang mimpi Berdua berpindah dari satu tempat ke tempat lain Kadang juga ada rongsokan bekas, atau dompet hasil curian Aku berusaha menerima pedih Menikmati luka yang tak kunjung sembuh Hingga aku merasa candu Sementara kudapati mereka di balkon atas gedung mewah Entahlah, imajiku berkelumut selimut maut Pantas saja, gumamku Mereka manusia hebat dengan jas dan dasi menggantung dari tepi leher Ada yang hebat menuturkan janji-janji, ada yang hebat menuturkan kata-kata indah Ada pula yang ahli menyembunyikan senyum kecut penuh kemunafikan dibalik layar televisi Lalu apa lagi? Oooo, jiwa-jiwa dahaga akan rupiah Penghamba gemerlap dan dunia fana! Lihatlah aku, bukan kah kita ini sama Sama-sama memiliki kesemakinan Ya, aku semakin miskin, dan kalian semakin kaya Lantas, salah siapa pabila aku terlahir miskin? Salah Ibuku, Ayahku? Atau Tuhan? Jangan katakan Tuhan, aku muak! Sudah lama aku tak mengadu pada-Nya Aku lelah mencari keberadaan-Nya yang tak kudapati jawaban Kembali pada mereka, aku seperti mengenal mereka Sebab kita sama-sama seenggok daging Bedanya, mereka seenggok daging yang bersahabat dengan tahta, saham, obligasi, tai! Sedang aku, Si Miskin yang hanya menengadah mengemis pada mereka Meskipun yang mereka beri adalah kotoran mereka, siapa peduli?
-Yasmin S. Zahra Yogyakarta, 31 Mei 2017
Bumi; Merindukan Bulan
Aku Bumi, yang masih mengitari Matahari, untuk mencari keberadaan Bulan.
Terdengar bodoh.
Persis sama dengan perpisahan orangtuaku, yang kupikir dulu, karena aku menangis meminta mereka merayakan ulang tahunku. Tapi tidak sebodoh itu, alasannya. Semua ternyata sudah dimulai di tahun 1995, waktu itu umurku lima tahun. Jakarta terasa panas, dengan ratusan orang-orang yang turun ke jalan minta disejahterakan, termasuk ayahku. Dia dipecat dari perusahaannya. Saat itu, kurang lebih, jumlah pengangguran tercatat sebanyak 6,3 juta jiwa. Setidaknya itu data dari artikel yang kubaca.
Yang kuingat, Ibu sering mengeluh kelakuan Ayah yang sudah tiga tahun tidak bekerja, dan semakin hari semakin malas. Bila keluar rumah, Ayah akan pulang dalam keadaan mabuk. Saat itulah, aku akan melihat Ayah memukul Ibu.
Sampai suatu hari, aku menangis meminta Ibu merayakan ulangtahunku. Saat itu Ibu hanya menatap ayah dari kejauhan, dengan wajah memelas. Dan hari itu juga Ayah pergi. Tepat di tanggal aku dilahirkan.
Sampai ketika aku mengenal Ulan, gadis berponi dan berkuncir kuda, yang pindah tepat di sebelah rumah.
Dua tahun aku mengenal Ulan. Dua tahun pula aku menyimpan mimpi di permukaannya. Gadis lugu yang mengatakan dirinya petualang sejati. Sebab memang, sebelumnya dia tak pernah lebih dari setahun tinggal di satu kota, dikarenakan pekerjaan ayahnya. Ulan atau yang sering kupanggil bulan, kini berada di posisi paling jauh dariku; Bumi. Namun kupercaya, dia ada, meski tak terlihat.
Dua tahun sudah, semenjak Ulan pindah ke Kalimantan. Dan saat ini, aku kuliah di salah satu perguruan tinggi di Jakarta, karena nasib baik memberiku sebuah beasiswa. Dan nasib baik itu juga yang membuatku akhirnya memiliki Artari, si Matahari.
Awalnya semua berjalan seperti yang diharapkan. Artari memberiku pelangi hampir setiap hari. Gelak tawanya mampu memberi nyawa pada penghuni tubuhku. Namun semakin hari, aku merasa Artari terlalu tinggi untuk di raih. Aku memilikinya, namun tidak pernah merasa meraihnya. Entah. Namun itulah yang kurasa. Artari banyak bicara tentang kemewahan. Tentang kehidupan yang layak. Tentang kebesaran, yang mungkin bila kunekat mendekat, seketika aku akan melebur.
Dan malam ini, hujan jatuh, pun tak ada kabar dari Artari. Tak ada satu pun pesan masuk darinya. Dan aku hanya bisa menunggu, berharap ketika pagi, dia kembali menyapa, seperti biasa.
Dan seperti biasa, aku hanya bisa berharap dengannya.
Aku duduk termangu, di depan meja belajarku. Malam ini, aku merasa ingin menulis sesuatu tentang rindu. Tapi entah untuk siapa, aku tak tahu. Secarik kertas yang kusobek dari bukunya, berserakan di lantai. Tanda bahwa aku banyak gagal dalam mengartikan sebuah keinginan. Hingga pada akhirnya, tak ada satu kata pun yang kutulis.
Kututup bukuku, dan kumasukan ke dalam laci. Tapi belum sempat kumasukan, aku melihat selembar kertas yang terlipat empat di dalamnya. Kuambil dan kubuka, ternyata surat dari Ulan dua tahun yang lalu.
Ketika hujan sedang derasnya, Bumi merindukan Bulan.
“Aku Bumi yang terlalu lelah berlari dengan matahari, hingga telat menyadari kehadiran Bulan.” Sebuah kata yang kutulis di belakang surat Ulan.
Bumi, 2017 andhikahadip
Yang justru mahal itu terkadang bukan biaya hidup, melainkan biaya pergaulan.
(via miftahulfikri)
Kamu adalah kucing pertama yang aku pelihara, inget banget dulu kamu gak ndut, kamu kurus, kucing nakal suka maling makanan di meja makan, apapun kamu makan (😛) Tapi meskipun kamu maling makanan, kamu sulit banget disentuh, sulit banget diakrabin, disamperin malah kabur. Tiap kamu naik ke meja makan, orang rumah selalu cerewet hahaha sampai akhirnya aku mohon ke orang rumah untuk ngebiarin kamu maling makanan, aku pengen kamu kepancing dulu (titik) Semakin lama, kamu disamperin, diliatin makannya, disentuh, digendong, dan disayang (yeeey aku berhasil!) Akhirnya kamu semakin nurut dan deket sama aku, kamu semakin gendut, tiap hari bersih, dan pastinya gak pernah maling lagi karena makanannya selalu siap sedia(very happy). Akhirnya aku harus berangkat kuliah ke jogja dan harus ninggalin kamu, sedih banget, gak ada pendengar sebaik dan selembut kamu disini. Tiap mama nelpon, aku gak lupa nanya kabar kamu, kamu selalu sehat kata mama, tapi suka sering mau nangkep tikus oh no! Sampai akhirnya kemarin tanggal 22 mama nelpon dengan keadaan yang sangat berbeda, kamu udah ninggalin kita, kamu meninggal!😢😢😢 Betapa kagetnya aku bukan main, menyakitkan banget. Udah berkali2 kamu mau makan tikus kecegah melulu meskipun tikus sehat, maaaffff kita gak mau kamu makan tikus, kita cuman mau kamu sehat dgn makanan2 kamu, kali ini emang udah takdir, kena yah tikusnya yang. Sekalinya dapet, tikusnya yg udah diracun tikus. Rest in peace, Milo. We ❤ you big baby.
Kadangkala kita ingin berhenti sejenak, sampai kita sadar kita harus tetap naik, menikmati tahap demi tahap. Pahit, manis, telan saja lah.. Tong riweuh ceuk #DadangKonelo ge.
Seseorang yang membenci kita tidak akan pernah peduli kebaikan apapun yang telah kita perbuat.
Mengingatkan yang sudah basi.
“Anggap saja udara yang kau hirup dan kau embus itu aku, sesuatu yang kau ambil kemudian kau buang demi bertahan hidup”
-edoyaa-