AL-AWAA'IQU ATH-THALAB (Kendala Bagi Para Penuntut Ilmu)
Pemateri : Ustadz Abu Haidar As-Sundawy (Hafizahullah)
Tempat : Masjid Raya Cipaganti (Jl. RD.A Wiranata Kusumah No.8, Bandung)
Hari/Tanggal : Selasa, 2 Jumadil Awwal 1438 H. /31 Januari 2017 M.
Ada 2 Kendala para penuntut ilmu yang sudah di bahas :
2. Tidak Mengamalkan Ilmu
Beberapa penuntut ilmu hanya bersandar hanya kepada kitab, tidak belajar kepada para Ulama dalam memahami berbagai masalah syari. Hanya menelisik buku/kitab secara otodidak, terutama kitab penerjemah yang belum tentu terjemahannya benar.
Hal ini merupakan hal yang berbahaya jika orang membaca langsung dan membaca dari terjemahan. Sebagian para penuntut ilmu merasa dirinya punya kemampuan untuk mengambil ilmu tanpa perantara ulama. Dan inilah yang dimaksud "Over Confident". Dan dikhawatirkan banyak kesalahan dalam memahami, jauh dari pemahaman yang benar dan banyak terjadi kontradiksi.
Berkata Imam Syafi'i Rahimahullah, “Siapa orang yang memahami agama, langsung dari isi kitab dia akan banyak menyia-nyiakan hukum.”
Sebagian ulama menyatakan, “Diantara bencana yang besar adalah para pembaca bersikap so' tahu atau so' ke syaikh-syaikhan.” Itu termasuk bencana terbesar menurut para ulama.
Berkata Al-Faqih Sulaiman bin Musa Rahimahullah (Perkataan yang semakna juga diucapkan oleh Imam said bin ‘abdil ‘aziz At Tanukhi Rahimahullah), “Janganlah mereka mengambil Qur'an dari Mushafiyyin (orang-orang yang mempelajari Qur'an langsung dari mushaf, tanpa berguru langsung kepada Ulama) dan jangan mengambil ilmu dari shohafin (Orang-orang yang hanya mengambil ilmu hanya dari tulisan-tulisan di dalam kitab).”
berkenaan dengan mushafiyyin, ketika abad-abad awal al-Quran dibukukan tidak ada tanda baca yang membantu membedakan beberapa huruf dalam al-Quran. Sehingga akan banyak kesalahan bila dibaca dan dipahami oleh diri sendiri.
Para ulama menetapkan suatu QOIDAH:
"Siapa orang yang menjadikan gurunya adalah kitabnya, maka kesalahannya akan lebih banyak daripada benarnya".
Syaikh Ali Hasan, beliau menjelaskan ada beberapa contoh:
1. Manuskrip, tulisan asli para Ulama di kulit-kulit binatang, di kayu-kayu dan di daun-daun yang masih bertahan. Lalu hilang tertimbun dan ditemukan sekumpulan kitab-kitab ulama itulah yang disebut manuskrip. Dan cara penulisan (khot) setiap zaman berbeda-beda. Sehingga perlu dipelajari ilmu yang membahas tentang perbedaan dan tata cara membaca dari setiap zaman tersebut.
2. Ungkapan para Ulama begitu tinggi nilai sastranya (Balagoh), jadi banyak tidak terjangkau oleh orang-orang awam. Akhirnya salah paham dan keliru, lalu saat diamalkan salah dan saat diajarkan pun salah.
Dari kedua contoh diatas, menunjukan akan munculnya banyak kesalahan dari pemahaman makna yang terkandung didalam suatu kitab bila hanya menjadikan kitab sebagai gurunya. Sehingga para ulama membuat kaidah tersebut. Itu jika kitab asli, apalagi terjemahan yang belum tentu pas terjemahannya.
“Orang-orang bodoh menyangka bahwa kitab-kitab bisa memperoleh ilmu yang bisa dipahami dengan benar.
Orang bodoh tersebut tidak mengetahui bahwa di dalam kitab-kitab tersebut banyak perkara-perkara samar yang dapat membingungkan akalnya.
Jika kamu belajar agama tidak melalui guru, maka kamu akan termanipulasi, sehingga kamu akan lebih sesat dibanding hakim yang bingung. “
Itulah bait syair yang diungkapkan oleh para ulama terhadap menuntut ilmu secara otodidak.
Para penuntut ilmu wajib menuntut ilmu dari para mulut ulama, tidak melalui tulisan, tidak melalui kitab. Karena ada banyak hal yang hanya mampu diucapkan secara lisan.
Banyaknya perkara dalam suatu kitab yang dapat menghalangi dari keutamaan lain, diantaranya:
· Adanya ilmu yang tidak dituliskan didalam kitab-kitab tersebut
· Adanya beberapa huruf-huruf penulisan dan pelafadzan berbeda (Dalam semua bahasa).
· Adanya Kesalahan dalam membaca kitab tersebut
· Adanya koreksi dalam kitab tersebut
· Adanya tulisan yang tidak terbaca
· Adanya bagian yang tertulis
· dan banyak lagi pemahaman yang dapat mempengaruhi para pembaca.
Dan itu diakibatkan dari belajar langsung tanpa guru.
Bila keadaannya seperti yang tadi digambarkan, kita baca langsung di depan para ulama dan di koreksi jika ada kesalahan, itu lebih utama dan lebih afdhol dibandingkan kita membaca kitab untuk diri kita sendiri.