Hari ini diajarkan Tuhan hal penting tentang penyembahan. Nyembah Tuhan itu, harus dengan hati yang tulus.
•
“Allah itu Roh. Jadi siapapun yang ingin menyembah Dia harus menyembah dalam roh dan kebenaran.” -Yohanes 4:24.
•
Ayat ini mungkin terdengar biasa di kepala gue; udah biasa dibawain pendeta-pendeta di gereja. Bahkan, ayat ini yang gue baca tiap kali Alkitab gue pertama dibuka, karena kadang gue males buka ayat lain. Hehehe.
•
Tapi, Tuhan bawa gue dalam sudut pandang yang berbeda. Penyembahan yang “ngeroh” mungkin udah biasa di lingkungan gue. Tapi, penyembahan dengan landasan “kebenaran”? Sebagai anak yang rasa ingin tahunya gede (baca: sotoy), gue pun nanya Bapa gue, apa artinya menyembah Dia dalam kebenaran.
•
Tiba-tiba, ayat Roma 10:17 keluar.
•
“Sebab iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan firman Kristus.” -Roma 10:17.
•
Apa hubungannya? Simple. Firman dan perkataan Tuhan, adalah sumber kebenaran. Lewat salah satu hamba Tuhan, gue dibawa ke ayat: Mazmur 119:105; Mazmur 119:160; dan Yohanes 17:17; yang menjelaskan bahwa kebenaran bisa kita dapat dari firman dan perkataan Tuhan.
•
Ternyata untuk menyembah Dia, gue harus hidup dalam roh dan kebenaran. Untuk hidup dalam roh, gue harus bangun hubungan dengan Dia setiap hari lewat doa. Untuk hidup dalam kebenaran, gue harus mendengarkan firman Kristus.
•
Permasalahannya, kalo dalam menyembah kadar salah satunya terlalu banyak (baik roh atau kebenaran), bisa bahaya. Di pendengaran Tuhan, bisa-bisa kita kedengeran cuman jadi penjilat. Lah, kok bisa?
•
Kalo kebanyakan nyembah dengan “roh”, setiap penyembahan yang keluar dari mulut kita bakalan gaada power-nya, gaada maknanya, gaada esensinya. Karena perkataan yang keluar dari mulut kita ga dikuatin dengan firman Tuhan. Kalo kebanyakan nyembah dengan “kebenaran”, lama-kelamaan penyembahan bukan dari hati, tapi dari logika. Roh berbicara tentang dunia supranatural. Kebenaran berbicara tentang dunia logika. Buktinya? Coba baca Matius 22:29; Markus 12:24.
•
Apalagi (gue sering sih yang ini), nyembah Tuhan tapi berharap minta sesuatu. Nyembah Tuhan tapi berharap Tuhan promosiin. Nyembah Tuhan tapi berusaha mencuri kemuliaan Tuhan. Nyembah Tuhan, tapi entar abis itu ada maunya. Namanya kan penjilat.
•
Nah, jangan sampe Tuhan negor gue lagi, sama kayak waktu Dia negor bangsa Israel, dan bilang gue itu penjilat yang sering ada disekitar-Nya.
•
“Orang-orang ini seakan memuliakan Aku dengan kata-kata, tapi hatinya menjauh dari Aku. Mereka seakan-akan menyembah Aku, tetapi sebenarnya tidak sama sekali.” -Yesaya 29:13 (MSG, BIMK).
•
Gue hari ini diajarin Tuhan, untuk jadi penyembah yang tulus buat bener-bener nyenengin hati-Nya, dan nggak cuman sekedar ngejilat Tuhan doang.