Xuebing Du
No title available

Andulka

izzy's playlists!

Love Begins
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Noah Kahan
No title available
Cosimo Galluzzi
Cosmic Funnies
Keni
No title available
Lint Roller? I Barely Know Her
hello vonnie
The Bowery Presents

bliss lane
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

Origami Around

pixel skylines
Not today Justin

seen from Netherlands
seen from United States
seen from Spain
seen from Iraq

seen from United States

seen from Türkiye
seen from Colombia
seen from United States
seen from Venezuela
seen from India

seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from El Salvador
seen from Philippines

seen from United Kingdom
seen from Dominican Republic
seen from United Kingdom
seen from Austria
seen from Georgia
@yosiawangsajaya
Ketenangan bukan tanda ketidakseriusan. Malahan, terkasang kepanikan-lah yang menjadi tanda kita tidak serius.
Contohnya sederhana. Mari kita kembali ke masa saat kita melewati proses pendidikan dasar. Ketika kita tidak belajar serius sewaktu menghadapi ujian, kita pasti panik. Sedangkan, teman-teman kita yang tenang biasanya sudah mempersiapkan diri dengan serius untuk menghadapi ujian.
Dan terkadang kita yang penuh kepanikan senang untuk membagikan rasa panik kepada orang lain.
Tapi apakah kita tidak belajar sejak kecil? Bahwa inti untuk kita mendapatkan ketenangan adalah sederhana: Kita memiliki pegangan dan sandaran yang teguh dan kokoh.
Berharap, bersandar dan berpeganglah pada TUHAN, karena hadirat TUHAN menuntun kita kepada ketenangan dan keberanian.
"Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!" —Mazmur 42:6.
Orang-orang mungkin bisa gelisah, takut, dan parno menghadapi pandemik ini. Saya tidak.
"Lihatlah sekarang, bahwa Aku, Akulah Dia. Tidak ada Allah kecuali Aku. Akulah yang mematikan dan yang menghidupkan, Aku telah meremukkan, tetapi Akulah yang menyembuhkan, dan seorang pun tidak ada yang dapat melepaskan dari tangan-Ku." —Ulangan 32:39.
Karena hidup dan mati saya ada di tangan Tuhan. Jika saya hidup, saya hidup untuk Tuhan. Dan jika saya mati, saya mati karena seizin Tuhan. Karena yang saya percaya: Hanya Tuhan-lah yang dapat menghidupkan dan mematikan seseorang.
Bertindak bijak dengan hikmat dan ketegasan itu butuh. Tertib dan menaati himbauan pemerintah itu perlu. Namun takut dan mengabaikan akal sehat itu tidaklah baik.
"Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian." —Ayub 12:13.
"Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah." —Roma 13:1.
"Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban." —2 Timotius 1:7.
"Tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi TUHAN." —Amsal 21:30.
Kalau Tuhan berkehendak, maka kehendak-Nya pasti jadi.
#itsallHim #thankyouJesus #Corona #sayatidaktakut
Kerinduanku
Tulisan ini ditujukan kepada rekan-rekan sepelayanan saya.
•
Kerinduan saya untuk kalian hanyalah sederhana: Untuk menjadikan kita sebagai penyembah-penyembah yang menyembah dalam Roh dan Kebenaran. Tidak sombong dan tinggi hati, tetapi terus mau merendah diri, diajar dan dididik meskipun hajaran-Nya keras.
•
Kerinduan saya: Supaya kita menjadi penyembah yang tidak saling menghakimi. Supaya kita menjadi penyembah yang tidak menjatuhkan orang lain.
•
Kerinduan saya: Supaya kita lebih memandang Tuhan daripada manusia. Supaya kita lebih mengutamakan kepentingan Tuhan daripada kepentingan daging. Supaya kita meninggalkan dosa dan berubah menjadi manusia baru.
•
Saya ingin kita menjadi penyembah yang memiliki talenta musik, bukan musisi yang bermain reguleran di gereja.
•
Musisi yang bermain reguleran di gereja berhenti merokok dan minum mabuk karena peraturan gereja. Penyembah yang memiliki talenta musik berhenti merokok dan minum mabuk karena dia mengasihi Tuhan.
•
Musisi yang bermain reguleran di gereja berhenti melakukan percabulan karena takut ketahuan pendeta. Penyembah yang memiliki talenta musik berhenti melakukan percabulan karena dia tahu Tuhan mengampuninya dan memberikannya anugerah demi anugerah setiap hari.
•
Musisi yang bermain reguleran di gereja berusaha mengikuti latihan dan berusaha datang tepat waktu karena aturan persembahan kasih. Penyembah yang memiliki talenta musik berusaha mengikuti latihan karena dia ingin memberikan penyembahan yang terbaik bagi Tuhan, dan berusaha datang tepat waktu, karena dia tahu dalam hidupnya bahwa Tuhan tidak pernah terlambat menepati janji-Nya.
•
Pandanglah Tuhan, dan bukan manusia. Kekecewaan bertambah ketika kita memandang manusia. Kelegaan hadir dan memenuhi ketika kita memandang Tuhan.
•
Walaupun begitu, izinkan saya untuk meminta maaf, sekiranya dalam setiap perilaku, perbuatan, perkataan, tindakan dan keputusan saya terdapat hal-hal yang memberatkan dan mengecewakan hati setiap rekan sekalian, sehingga akhirnya saya menjadi batu sandungan bagi setiap gereja-Nya dan setiap pelayanan Tuhan.
•
Mari sama-sama kita berhenti menghakimi. Mari sama-sama kita pandang Tuhan, dan bukan manusia. Mari sama-sama kita menjadi penyembah yang menyembah-Nya dalam Roh dan Kebenaran.
•
"Mazmur Asaf: Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya." —Mazmur 73:1.
•
"Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya." —Mazmur 73:27-28.
•
"Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan." —Amsal 18:12.
•
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita." —Roma 5:3-5.
•
#itsallHim #thankyouJesus #worship #trueworshipper #penyembah #roh #kebenaran
Hey, Unyil!
Nggak kerasa hampir 4 tahun jalan bareng mobil impian ini. Dari awalnya Toyota Avanza warna silver, sampe akhirnya ganti mobil dan dapet Daihatsu Ayla ini.
Mobil ini seketika mengingatkan gue akan perjuangan bokap gue. Membuat gue meneteskan air mata selama beberapa menit.
Memang, mobil ini terdaftar atas nama gue. Memang, mobil ini gue yang dipercayakan untuk menjaga dan merawat. Memang juga, gue yang menghabiskan sebagian hidup dan pantat gue di kursi mobil ini.
Tapi, nggak bisa dipungkiri: Bokap gue yang berusaha dan bekerja mati-matian untuk memberikan mobil ini.
Mobil ini ada di masa transisi dimana bokap gue beralih dari pangkat Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol.) jadi Brigadir Jenderal Polisi (Brigjen Pol.)
Dan akhir-akhir ini setiap kali gue ngeliat mobil ini, gue teringat sama bokap gue. Gimana perjalanan hidupnya dan ceritanya Beliau selama menjalani pendidikan di Akpol, kemudian PTIK, kemudian Sespim, kemudian lagi Lemhanas, dan sampe akhirnya jadi Jenderal bintang satu seperti sekarang ini.
Bayangin, kalo misalkan bokap gue nggak masuk Akpol. Bayangin, kalo misalkan bokap gue nggak mau bekerja dan belajar keras untuk sekolah dan menimba ilmu. Bayangin, kalo misalkan bokap gue ele-elean dan mudah puas dengan pangkatnya yang hanya sampai tingkatan Perwira Menengah. Pasti nggak bakalan mungkin Ayla ini kebeli.
Karena jerih payah, keringat, dan usaha bokap gue: Ayla ini bisa jadi berkat buat gue.
Mobil ini jadi saksi hidup bagaimana TUHAN menyatakan perkara besar dan mujizat-Nya, perkenanan-Nya dan kasih karunia-Nya, serta menyatakan kesabaran-Nya dalam mendidik gue.
Mobil ini seringkali jadi tempat pertemuan antara gue dengan Tuhan lewat doa gue, penyembahan gue, nyanyian gue, obrolan gue, bahkan sampe perenungan gue 2-3 jam di mobil ini.
Balik lagi: Kalo nggak ada bokap gue, nggak mungkin si Unyil ini kebeli (gue manggil mobil gue ini pake panggilan "Unyil", hehe).
Mungkin banyak ayah diluar sana yang lebih sempurna dari bokap gue.
Mungkin banyak ayah diluar sana yang bisa ngasih anaknya mobil yang tipenya lebih bagus dan lebih keren dibanding dari Ayla tipe X yang gue dapet secara second pas dengan KM 7.000-an ini. Mungkin ayah-ayah diluar sana bisa kasih Fortuner ke anaknya, atau Range Rover, atau Rush, atau Mercedes-Benz S-class, atau Pajero Sport, atau Civic, atau Supra yang keren itu, ataupun mobil-mobil sekelas Rubicon, Lamborghini, Ferrari, Porsche; apapun lah itu jenisnya.
Mungkin banyak ayah diluar sana yang bisa lebih baik memberikan teguran dan pendidikan bagi anaknya, ketimbang hajaran dan teguran Beliau.
Tapi satu hal yang gue yakini: Gue bangga sama bokap gue.
Gue tau, bokap gue bukan orang yang sempurna. Bokap gue punya banyak kesalahan dan kelemahan. Bokap gue nggak sesempurna ayah-ayah dan papa-papa lain.
Tapi somehow gue bangga sama bokap gue.
Gue ada di track yang bener di hidup gue; semua karena Beliau. Prinsip hidup, karakter, bahkan cara mengatasi masalah; semua didapet dari bokap gue.
Dan si Unyil ini, Daihatsu Ayla second yang sudah penyok-penyok ini menjadi salah satu saksi bisu: Bagaimana TUHAN memakai bokap gue untuk membelikan si Unyil sebagai tempat pertemuan antara Tuhan dan gue secara pribadi.
Gue tau ini bukan hari ayah, tapi gue cuman mau ngomong (dan ini bukan omong kosong belaka): Gue bangga sama Bapa gue di Surga, dan juga papa gue yang ada di bumi.
NB: Gue ngeliat banyak orang-orang kayak udah bangga banget gitu punya kenalan, bekingan, dan foto sama jenderal-jenderal.
Nah, kalo gue mah bangga banget punya ayah jenderal yang sederhana, yang dia nggak pernah ngumbar-ngumbar kalo dirinya jenderal. Aneh sih, receh juga kadang kalo ngelawak; tapi gue bangga.
Langkah Hidup Manusia
Ada ayat yang mengatakan:
"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." —Mazmur 37:23-24 (TB).
Dalam versi New Living Translation (NLT) dikatakan dengan jelas:
"The LORD directs the steps of the godly. He delights in every detail of their lives. Though they stumble, they will never fall, for the LORD holds them by the hand." —Psalms 37:23-24 (NLT).
Ayatnya mengatakan bahwa: Tuhan menetapkan dan menuntun langkah hidup orang yang berkenan dihadapan Tuhan. Tidak hanya menuntun dan menetapkan, Dia juga menjaganya supaya tidak jatuh sampai tergeletak.
Pertanyaannya: Bagaimana dengan orang yang tidak berkenan dihadapan Tuhan? Apakah langkah orang-orang yang tidak berkenan ditentukan juga oleh Tuhan?
Jawabannya ada pada Amsal 5:21 dan Amsal 15:3.
"Karena segala jalan orang terbuka di depan mata TUHAN, dan segala langkah orang diawasi-Nya." —Amsal 5:21 (TB).
"Mata TUHAN ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik." —Amsal 15:3 (TB).
Tuhan tidak menetapkan langkah orang fasik; Tuhan hanya mengawasi langkahnya saja. Hebatnya, Tuhan melihat dan mengawasi seluruh jalan hidup orang. Mengapa demikian? Mengapa langkah orang fasik tidak ditetapkan-Nya?
Karena Tuhan yang kita sembah, adalah Tuhan yang memberikan kehendak bebas bagi manusia sejak kita diciptakan; Ia adalah Tuhan yang menghargai kehendak dan rancangan hidup kita.
Dan jelas, Tuhan tidak mau menuntun langkah orang-orang fasik. Karena mereka, yaitu orang yang nggak berkenan kepada Tuhan, seringkali lebih mementingkan kehendak bebasnya dibandingkan kehendak Tuhan.
Karena orang fasik, lebih sering menggunakan freewill untuk melancarkan jalan hidupnya. Dan Tuhan menghargai apa yang mereka lakukan.
Bahkan, kebaikan Tuhan dapat terlihat dari pengawasan Dia kepada orang fasik. Kita dapat melihat bagaimana belas kasihan-Nya kepada orang-orang fasik, menunggu orang-orang fasik yang bodoh untuk menyerahkan seluruh hidupnya kepada kehendak Tuhan.
Karena Tuhan jelas tahu bahwa hidup yang langkahnya ditentukan sepenuhnya oleh kehendak bebas akan tidak berakhir baik.
Karena Tuhan tahu, bahwa hanya tuntunan dan bimbingan-Nya sajalah yang dapat membawa kita kepada kesempurnaan, kebenaran, dan kebaikan.
Apakah kita termasuk orang-orang bodoh dan fasik?
"Orang yang memisahkan diri dari orang lain berarti memperhatikan diri sendiri saja; setiap pendapat orang lain ia bantah. Orang bodoh tidak suka diberi pengertian; ia hanya ingin membeberkan isi hatinya." —Amsal 18:1-2 (BIMK).
Marilah kita menjadi orang yang berkenan pada Tuhan, yang tunduk dan taat akan setiap kehendak-Nya, karena didalam Dia ada hikmat dan pengertian yang selalu menuntun dan membimbing setiap langkah hidup kita menuju kebenaran dan kebaikan, melalui pribadi Tuhan Roh Kudus.
"Tidak ada hikmat dan pengertian, dan tidak ada pertimbangan yang dapat menandingi Tuhan." —Amsal 21:30 (TB).
"Tetapi pada Allahlah hikmat dan kekuatan, Dialah yang mempunyai pertimbangan dan pengertian." —Ayub 12:13 (TB).
"Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." —Roma 8:28 (TB).
"Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera." —Roma 8:6 (TB).
Haleluya.
Menjaga Kekudusan, Itu Mutlak
Beberapa kali merasakan sulitnya menjaga kekudusan, tapi kali ini adalah kali yang tersulit.
Sulit bukan ketika menahan nafsu yang datang dari diri sendiri, tapi karena gue melihat orang lain (baca: Hamba Tuhan) masih melakukan kenajisan, sehingga gue kerap kali membandingkan hidup gue dengan orang lain.
Gue berpikir dalam hati: "Ngapain gue menjaga kekudusan gue, kalau misalkan hamba-hamba Tuhan lainnya juga nggak menjaga kekudusannya? Toh, nggak ada bedanya: Kita sama-sama bisa melayani Tuhan."
"Nggak ada yang ngeliat kelakuan gue dibawah mimbar, kok. Nggak ada yang peduli dengan apa yang gue kerjain diluar gereja. Jemaat dan orang banyak juga nggak bakalan tau apa yang gue lakuin; sama seperti jemaat dan orang banyak juga nggak bakalan tau sebanyak apa kebejatan yang dilakukan hamba-hamba Tuhan lainnya."
"Pelayan Tuhan lain; mereka bisa ditengah melayaninya masih berada dibawah pengaruh alkohol, rokok, bahkan narkoba. Mereka bisa melayani tapi masih suka main cewek. Mereka bisa kok pelayanan tapi pacarannya aja nggak kudus, masih raba sana-raba sini, cium sana-cium sini, bahkan sampe tidur bareng-pulang pagi. Mereka juga bisa nilep uang gereja ditengah pelayanan full-time mereka; semuanya dilakukan atas nama "pelayanan" dan berdalih dengan ayat-ayat Alkitab."
Pertanyaan gue ke Tuhan dan diri sendiri, adalah: "Kenapa gue nggak bisa? Gue juga boleh, dong."
Suatu kali gue berdiskusi tentang "menjaga kekudusan ditengah pelayanan" dengan salah seorang temen baik gue.
Akhirnya, tibalah di satu kesimpulan dimana gue beropini kalo gue berhak penuh untuk bisa ngelakuin dosa ditengah pelayanan gue.
Sedangkan temen gue berpendapat bahwa: Nggak peduli apapun pelayanan dan seberapa besarnya kasih karunia Tuhan, kita sebagai pelayan Tuhan harus tetep mencoba sekeras mungkin menjaga kekudusan.
Gue membela diri: "Mereka aja masih berdosa, masih hidup dalam dosa, masih nggak menjaga kekudusan hidup mereka, tapi mereka malah dipake Tuhan dengan sangat; malahan makin maju pelayanannya, malahan banyak jiwa-jiwa yang mereka bawa ke Tuhan. Tapi, gue yang mencoba sekuat tenaga gue menjaga kekudusan, cuman begini-gini aja pelayanan. Nggak adil dong!"
Akhirnya, temen gue cuman ngebales gini: "Belom tentu. Tuhan kita Hakim yang Adil. Lo nggak bisa mengukur keadilan Tuhan, Yos."
Gue terdiam sejenak.
Dia ngelanjutin: "Yesus bilang kok: Kepadanya banyak diberi, kepadanya banyak dituntut pertanggungjawaban. Makin tinggi Tuhan bawa mereka, makin banyak tanggungjawab yang dituntut; dituntut baik oleh Tuhan maupun Iblis."
"Menjaga kekudusan, nggak berhubungan sama perkembangan pelayanan lo. Menjaga kekudusan, berhubungan dengan keselamatan yang lo udah dapet lewat Kristus Yesus. Keselamatan itu bisa hilang seketika, kalo lo main-main."
"Banyak nanti orang berseru pas penghakiman terakhir: "Tuhan, aku udah menginjil demi nama-Mu," tapi Tuhan kan bakalan ngomong: "Enyahlah, hai engkau pembuat kejahatan! Aku tidak mengenal engkau.""
"Hanya karena lo nggak menjaga kekudusan lo, lo bisa masuk neraka. Bukan karena lo banyak melayani, tapi justru karena lo banyak melayani itulah, lo berpeluang besar masuk neraka. Karena lo seharusnya tau, bahwa hidup dalam dosa selagi bekerja dalam ladang pelayanan adalah kesalahan besar."
Gue makin terdiam, akhirnya gue merenung.
Dan muncullah ayat ini:
"Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka." —Ibrani 10:26-27.
"Betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas dia, yang menginjak-injak Anak Allah, yang menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan yang menghina Roh kasih karunia?" —Ibrani 10:29.
Gue, dengan temen gue ini, akhirnya sependapat:
Menjaga kekudusan dalam pelayanan, itu mutlak.
Kalaupun ada hamba-hamba Tuhan yang lalai dalam menjaga kekudusannya, biarkanlah. Biar itu menjadi urusan mereka dengan Tuhan.
Tapi kita, termasuk kita semua para pembaca: Menjaga kekudusan dalam pelayanan itu mutlak. Karena kita telah mengerti kebenaran. Dan kita dituntut Tuhan untuk menerapkan kebenaran.
Menjaga kekudusan dalam pelayanan, itu mutlak.
Nimrod, Pahlawan Pencari Nama
Babel seakan memiliki cara terbaik untuk bertemu dengan Tuhan, tapi memiliki niatan terburuk.
Tuhan mengaruniakan bangsa Babel dengan hikmat, akal budi, dan kepintaran. Babel dipenuhi dengan keturunan Ham, dan berada dibawah kepemimpinan Nimrod.
Alkitab mencatat dan kita dapat melihat, bahwa keturunan Ham dan kepemimpinan Nimrod adalah orang yang pintar, kuat, pandai menyusun siasat, dan dan handal berstrategi.
Kejadian 10:8-12 menulis bagaimana Nimrod adalah pahlawan yang gagah perkasa pertama di bumi (NIV/NLT: First heroic mighty warrior on the Earth). Dia yang pertama kali membangun kerajaan Babel (Shinar) dan mengekspansinya sampai ke daerah Assyria (Asyur), dan Alkitab menamai daerah kekuasaannya sebagai tanah Sinear.
Kita dapat melihat bagaimana Nimrod dan seluruh keturunan Ham, dengan hikmat dan akal budi mereka dapat membangun kerajaan yang memiliki daerah terbesar pada saat itu. Sampai pada satu cerita, dimana mereka memiliki ide terbaik untuk "berjumpa dengan Allah".
Kejadian 11:1-4 menceritakan tentang bagaimana pembangunan Babel dicanangkan. Mereka sangat pandai, menemukan teknologi untuk membuat bahan dasar batu bata, juga mortar (sejenis tanah liat) untuk merekatkannya, disaat semua orang masih menggunakan batu dan alat-alat tradisional untuk membangun sesuatu.
Dan betapa pintarnya mereka—mereka memiliki pemikiran untuk mensentralisasikan seluruh pusat pemerintahan kenegaraan mereka, dengan membangun suatu menara di Babel, agar dengan menara tersebut entitas negara mereka semakin kuat.
Kita terheran-heran akan visi mereka yang ingin membangun menara mencapai langit, mencapai Surga (Surga dikaitkan dengan langit, karena pada saat itu seluruh manusia tidak memiliki pengetahuan tentang adanya konsep Heliosentris dan bumi bulat—konsep bumi datar masih dianut oleh seluruh manusia), untuk bertemu dengan TUHAN Sang Pencipta.
Tapi, apakah hanya "bertemu dengan TUHAN Sang Pencipta" tujuannya?
Sepertinya tidak.
Kejadian 11:4 menjelaskan dengan gamblang tujuan mereka membangun menara Babel. Dan tujuan merekalah yang merupakan letak kesalahan mereka.
Berdasarkan versi New King James Version (NKJV):
"And they said, "Come, let us build ourselves a city, and a tower whose top is in the heavens; let us make a name for ourselves, lest we be scattered abroad over the face of the whole earth."" —Genesis 11:4 (NKJV).
Berdasarkan versi New International Version (NIV):
"Then they said, "Come, let us build ourselves a city, with a tower that reaches to the heavens, so that we may make a name for ourselves; otherwise we will be scattered over the face of the whole earth."" —Genesis 11:4 (NIV).
Berdasarkan versi New Living Translation (NLT):
"Then they said, "Come, let's build a great city for ourselves with a tower that reaches into the sky. This will make us famous and keep us from being scattered all over the world."" —Genesis 11:4 (NLT).
Berdasarkan versi The Message (MSG):
"Then they said, "Come, let's build ourselves a city and a tower that reaches Heaven. Let's make ourselves famous so we won't be scattered here and there across the Earth." —Genesis 11:4 (MSG).
Berdasarkan versi Terjemahan Baru (TB):
"Juga kata mereka: "Marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dengan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit, dan marilah kita cari nama, supaya kita jangan terserak ke seluruh bumi."" —Kejadian 11:4 (TB).
Tujuan mereka tidak hanya mensentralisasikan seluruh pusat pemerintahan saja, tetapi juga mencari nama dan kemuliaan untuk diri mereka sendiri lewat "pencapaian mereka ke Surga". Mereka ingin nama Babel dan Nimrod terkenal sampai ke ujung bumi: Terkenal karena mereka memiliki menara terbesar dan tertinggi di seluruh bumi, terkenal karena memiliki daerah kekuasaan terbesar dengan struktur pemerintahan yang rapi dan terkendali, terkenal karena teknologi terbaru mereka untuk membangun menara; bahkan terkenal karena mereka dapat menyentuh Surga.
Kesalahan Babel terletak tidak hanya pada kesombongan diri, tapi kepada pencurian kemuliaan Tuhan dan sikap hati untuk terkenal dan mencari nama dan muka. Bagaimana mereka menggunakan nama Tuhan dan Kerajaan Surga untuk mengagungkan nama mereka sendiri.
Pelajarannya adalah: Terkadang kesatuan hati (dalam hal menara Babel adalah kesatuan bahasa, budaya, visi dan tujuan) dapat berbuah hal yang mengerikan. Dalam pelayanan kita, bukan hanya kesatuan hati dan visi yang diperlukan, tetapi kesatuan arah pandang kita.
Kemana arah pandang kita dalam kehidupan dan pelayanan kita? Apakah kepada kemuliaan diri sendiri? Kepada cara-cara agar kita terkenal? Kepada cara-cara agar nama kita mashyur? Kepada kehebatan diri kita menyusun struktur organisasi? Kepada takutnya berserakkan massa yang telah kita bawa dalam suatu komunitas dan organisasi? Kepada ketakutan akan runtuhnya segala sesuatu yang telah kita susah-payah bangun? Kepada hancurnya komunitas, organisasi, pelayanan, dan pekerjaan yang ada sekarang? Ataukah kepada TUHAN dan TUHAN saja?
Kesatuan hati, visi, dan roh, harus diperlengkapi dengan kesatuan arah pandang; yaitu kesatuan hanya memandang kepada Tuhan Yesus Kristus sendiri, Sang Raja Agung dan Mulia.
Ingatlah, ketika arah pandang dan sikap hati kita berubah dan berpaling dari TUHAN, kehancuran menara Babel pasti akan terjadi dalam kehidupan dan tim pelayanan kita.
Beyond blessed. Music enthusiast. Keyboardist @glowfellowshipcentre. Worship Director @the.holyground.
Don't forget to watch, like, and subscribe!
“Hadirat-Mu Mengubahkan” composed by Yosia Wangsajaya. Arranged by Richard Felix, Deo Dominico, and Yosia Wangsajaya.
©2017, Yosia Wangsajaya/Berlima Project. Unauthorized copying, reproduction, hiring, lending, public performance and broadcasting is strictly prohibited. Not for commercial use. All rights reserved.
Dilarang keras memperbanyak, menggandakan, memamerkan, mengedarkan, dan menyiarkan untuk keperluan komersial tanpa seijin pencipta. Hak cipta dilindungi oleh undang-undang.
Menjadi Salomo, atau Yedija?
Malam ini, gue dipercayakan Tuhan untuk sharing di komunitas @transpose.life, di deket kampus gue, UMN.
Gue sharing tentang seorang tokoh di Alkitab yang menginspirasi banyak orang pada zamannya, bahkan menginspirasi raja-raja dunia dan ratu Syeba: Raja Salomo. Dan bahan sharing-nya akan gue tulis besok di Tumblr gue pastinya.
Tapi, yang meremukkan hati gue adalah ayat penutup sharing gue malam ini, yaitu di 2 Samuel 12:24-25. Bunyinya begini:
Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini, dan dengan perantaraan nabi Natan, Ia menyuruhnya menamakan anak itu Yedija, oleh karena TUHAN.
Ada sesuatu yang ngeganjel di hati gue ketika baca ayat ini. Seakan ada perbedaan pendapat antara kemauannya TUHAN, dengan kemauannya Daud. Daud pengennya nama anak ini: "Salomo", tapi TUHAN pengen nama anak ini: "Yedija".
Setelah gue baca-baca beberapa referensi, akhirnya gue menemukan arti kedua nama ini. Salomo artinya: "Damai sejahtera turun atas orang ini," sedangkan nama Yedija artinya: "Yang dikasihi oleh TUHAN," atau "Kekasih kepunyaan-Nya TUHAN."
Tiba-tiba ayat ini seakan meremukkan hati gue, dan Tuhan berbicara.
Nak, dalam hidupmu, kamu ingin menjadi Salomo, seorang yang hidup dengan rasa penuh damai sejahtera dan tidak pernah mengalami masalah seumur hidupnya; atau kamu ingin menjadi Yedija, seorang yang dikasihi oleh-Ku?
Ketika Aku mengasihi dan mencintai kamu, dan memberikanmu nama: "Yedija", kamu mungkin seakan-akan tidak merasakan damai sejahtera. Seakan masalah terus-menerus datang, rintangan hidup yang berat terus menghadang, bahkan iblis selalu mencoba untuk menjatuhkan engkau. Ketika kamu menjadi pribadi yang Kukasihi, Aku selalu memproses engkau dengan berbagai pelajaran dan masalah. Mungkin rasanya berat dan keras. Tapi satu hal yang dapat menjadi jaminanmu: Dimanapun engkau berada, Aku selalu berada disampingmu dan memegang engkau; karena engkau adalah milik kepunyaan-Ku, dan Aku sangat mengasihimu.
Terlihat sekilas, untuk menjadi Salomo itu mudah, nak. Ia penuh dengan damai sejahtera, serta rasa aman dan tenteram. Ia tidak harus mengarungi rintangan. Ia tidak harus merasakan proses dan pelajaran yang Kuberikan. Hidupnya penuh dengan ketenangan. Tapi, itu tidak menjadi jaminan bahwa Aku selalu berada disampingnya.
Jadi, pilihlah sekarang. Apakah kamu ingin menjadi seorang Salomo, yang penuh dengan damai sejahtera dan rasa aman; atau Yedija, yang dikasihi TUHAN, namun diproses TUHAN dengan didikan dan hajaran?
Gue sontak ngomong: "TUHAN, aku mau jadi Yedija. Aku mau jadi kekasih-Nya TUHAN. Aku mau jadi seseorang yang dikasihi oleh TUHAN."
Suara Tuhan, atau Suara Nabi?
Setiap hamba Tuhan yang dipakai Tuhan sangat luar biasa, berpotensi untuk menjauh dari Tuhan. Nggak terkecuali. Mau dia pendeta, pelayan Tuhan, penatua gereja, bahkan penginjil hebat yang keliling dunia sekalipun, pasti punya celah kecil untuk menjauh dari Tuhan. Celah kecil itu terbuka lebar, ketika kita lebih mementingkan perkataan manusia ketimbang perkataan-Nya Tuhan. Dan hebatnya, Alkitab punya contoh konkretnya, yaitu dalam 1 Raja-raja 13:1-32. Sebaiknya dibaca sekilas ceritanya, supaya lebih gampang memahami pesan Tuhan lewat artikel ini.
Sewaktu cerita dalam 1 Raja-raja ini terjadi, kerajaan Israel terpecah dua; yaitu Kerajaan Utara yang disebut Kerajaan Israel, dan Kerajaan Selatan yang disebut Kerajaan Yehuda. Kerajaan Utara dipimpin oleh Yerobeam bin Nebat, sedangkan Kerajaan Selatan dipimpin oleh Rehabeam bin Salomo bin Daud (bnd: 1 Raja-raja 12:1-24).
Diceritakan dalam perikop ini, ada abdi Allah yang datang dari Kerajaan Yehuda. Abdi Allah ini dipakai Tuhan untuk menegur Kerajaan Israel, terutama Yerobeam, yang telah melaksanakan cara penyembahan kepada Tuhan yang salah. Setan menggunakan Yerobeam dan membawa seluruh bangsa Israel menuju cara penyembahan yang salah. Bangsa Israel saat itu mungkin memberikan persembahan atau pengorbanan kepada subjek "Allah", tapi dengan cara yang sangat tidak tepat dan tidak berkenan kepada Allah, sehingga penyembahan mereka pun tidak berkenan kepada Allah.
Yerobeam saat itu memulai cara penyembahan yang salah dan sesuka hatinya. Ia mengajarkan pengajaran dan penyembahan yang sesat. Ia menipu ratusan ribu umat Israel dengan cara penyembahan yang tidak berkenan kepada Tuhan (bnd: 1 Raja-raja 12:25-33). That's why, Tuhan mengirimkan abdi-Nya dari kerajaan Yehuda untuk mengecam bangsa Israel dan membawa mereka berbalik kepada TUHAN.
Perikop ini menyoroti kisah hamba Tuhan dari Yehuda, yang menjadi pengantar pesan Tuhan untuk bangsa Israel. Dengan apiknya, hamba Tuhan ini memberikan isi hati Tuhan kepada Raja Yerobeam dan segenap bangsa Israel (ayat 1-2).
Pada ayat ke-3 sampai ke-6, diceritakan bahwa abdi Allah ini pun melakukan tanda-tanda dan mujizat seperti yang dilakukan kebanyakan hamba Tuhan. Ia membuat tangan Yerobeam kaku dan tidak bisa kembali menekuk. Ia juga membuat mezbah pengorbanan yang sesat menjadi pecah dan abu sisa pengorbanannya tercurah. Ia juga bernubuat dan nubuatannya benar-benar terjadi saat pemerintahan zaman Raja Yosia (bnd: 2 Raja-raja 23:15-16). Semua ia lakukan dengan tepat dan menakjubkan. TUHAN, seakan-akan memakai dia dengan heran dan luar biasa.
Tetapi, ada dua hal penting yang TUHAN ingin dia untuk melakukannya, sebelum ia berangkat ke Kerajaan Israel: Pertama, ia tidak boleh singgah untuk makan dan minum di kota itu, yaitu Betel. Kedua, ia tidak boleh kembali melalui jalan yang sama yang ia lalui ketika ia datang (ayat 7-10).
Kita melihat seakan-akan semua hal baik terjadi. Sampai akhirnya ia melakukan kesalahan yang sangat kecil, yang akhirnya membuat dia mati sia-sia.
Ada seorang nabi tua yang tinggal di Betel. Ia mendengar dari anak-anaknya tentang kehebatan yang dilakukan abdi Allah itu. Karena kekaguman dan keingintahuan nabi tua ini (mungkin kalo saat ini, ibarat orang ingin duduk bareng minta impartasi kuasa Tuhan), akhirnya nabi tua ini pengen ketemu sama abdi Allah yang hebat ini.
Perlu dicatet bahwa mereka sama-sama hamba Tuhan. Dipake Tuhan. Yang satu adalah nabi (meskipun nggak dikasih tau dia bener atau nggak, tapi legalitasnya sah dia nabi). Yang satu lagi adalah abdi Allah. Ibarat si nabi ini mau duduk-duduk bareng ketemuan sama abdi Allah, mau belajar-belajar. Sharing lah, ibaratnya.
Tapi cara ngajak si nabi Betel ini salah. Dia berbohong kepada abdi Allah. Dia bilang:
"Tenang, aku ini hamba Tuhan juga. Malaikat kok yang suruh aku untuk ngundang kamu makan dan minum. Toh Tuhan juga tau kamu perjalanannya jauh, butuh makan, butuh minum kan."
Seakan-akan pesan ini datengnya dari Tuhan, padahal sekedar cuman omong kosongnya si nabi doang, supaya abdi Allah ini dateng ke rumahnya dan mau sharing sama dia. Dan akhirnya abdi Allah ini percaya (ayat 13-18).
Hal diatas mungkin jadi keberuntungan buat nabi Betel, tapi nggak dengan si abdi Allah. Kenapa? Karena abdi Allah ini udah nggak taat sama Tuhan. Dia lebih mementingkan perkataan orang ketimbang firman Tuhan. Dia lebih suka dengerin perkataan Tuhan lewat manusia, ketimbang firman dan perkataan-Nya Tuhan sendiri. Karena perintah Tuhan kan bilang: “Jangan singgah dan makan-minum di kota Betel,” tapi malahan dia singgah untuk makan-minum di Betel, hanya karena “sepotong kalimat dari seorang nabi”, yang kebenarannya belum teruji.
Lucunya adalah, Tuhan negor ketidaktaatan abdi Allah ini lewat si nabi Betel. Lewat mulut nabi Betel itu sendiri, Tuhan bilang bahwa ia pasti mati sia-sia setelah pulang dari rumah si nabi Betel ini (ayat 20-22). Mulut yang sama yang berbohong, mulut yang sama juga yang menyampaikan kebenaran dan pesan Tuhan. Watch out.
Dan akhir cerita ini adalah, Tuhan membuat abdi Allah ini mati sia-sia dicabik sama singa, tapi ngebiarin mayatnya terkapar di tengah jalan dan nggak dimakan sama singa. Anehnya lagi, keledainya nggak diapa-apain sama singanya. Dan akhirnya juga, nabi Betel ini nguburin abdi Allah di kuburan yang harusnya jadi kuburan nabi Betel ini dan meratapi mayatnya, sebagai tanda penyesalan dia.
Rhema Tuhan dari ayat ini sangat sederhana buat gue. Gue harus lebih mentingin firman TUHAN dan setiap rhema yang keluar dari hati gue, daripada mentingin firman TUHAN yang keluar dari mulut pendeta-pendeta dan orang lain. Karena yang keluar dari mulut orang lain sulit untuk kita uji, tetapi rhema yang keluar dari Alkitab dan Firman-Nya lewat hati kita, pasti berasal dari TUHAN sendiri.
Yuk, mari kita belajar untuk terus mendengar TUHAN secara langsung, ketimbang menunggu TUHAN memakai orang lain untuk berbicara kepada kita. Sama seperti hati dan keinginan Maria yang duduk mendengarkan dibawah kaki Yesus, seperti itu juga hati keinginan kita mendengar langsung suara-Nya.
Watch and like my new music video on YouTube: “Ella Beltra - Kau Buatku Terpesona”. Drums: Clay Nethanel. Bass: Bayu Ricky. Guitar: Atma Mamesah. Keyboards: Richard Felix. Piano: Yosia Wangsajaya. ©2017, Atmosphere Productions/Berlima Project.
"Bagi-Mu Pujian" written by Ps. Mario Verona. Arranged by Yosia Wangsajaya. Directed by Richard Felix. Recorded live at Practice Room Studio. Vocal: Ella Beltra. Drums: Clay Nethanel. Guitar: Atma Mamesah. Bass: Richard Felix. Keyboards: Yosia Wangsajaya. Videographer: Joshua Prawiro, Casey Rebecca, Felina Lustan. ©2017, Berlima Production. All right reserved.
The Laws: Part 1
Kemaren dapet sesuatu yang keren banget dari hasil pembelajaran gue dari Tuhan.
By the way, hal-hal yang gue tulis ini akan mengarah ke hal-hal yang agak anti-mainstream, berbau supranatural, dan ngomongin hal-hal yang mungkin nonsense buat otak dan agak nyeleneh. So, gue saranin untuk kalian yang nggak terlalu tertarik dengan hal-hal seperti itu sebaiknya nggak membaca lebih lanjut. Tapi untuk temen-temen yang tertarik, boleh banget baca tulisan gue dengan meminta hikmat dan pengertian dari Tuhan.
Tuhan ngajarin ke gue hal yang menarik, yaitu tentang "the law". Gue belajar, bahwa kita sebagai manusia, hidup berkaitan dengan tiga alam (tiga dunia), dan tiga sistem hukum yang berbeda. Tapi kita, manusia, maksimal hanya bisa hidup dibawah dua sistem hukum. Maksudnya apaan seh?
Nah, okay gue jabarin. So, basically, Alkitab kita mengajarkan bahwa ada tiga sistem hukum utama yang berkaitan dengan hidup kita:
Hukum Kerajaan Surga (Hukum Roh),
Hukum Maut (Hukum Dosa),
Hukum Alam (Hukum Bumi).
Tau darimana? Begini sejarahnya.
Gue belajar, bahwa sejak dulu sebelum manusia dan dunia diciptain, hanya ada satu alam, yang namanya alam roh, yang kita kenal dengan nama “Surga”. Alkitab mencatat bahwa alam ini punya sistem bernama Kerajaan, yang dimana setiap Kerajaan tentunya punya pemerintahan dan hukum. "Kerajaan" inipun selalu diberitakan Yesus pada masa hidup-Nya (bnd: Matius 4:17; Matius 6:33 ; Matius 10:7; Markus 1:15; Lukas 4:43; Lukas 8:10; Yohanes 3:3-5; Kisah Para Rasul 1:3).
Kerajaan ini punya pemimpin, yang kita kenal sebagai ALLAH atau Bapa (bnd: Matius 6:13), dan salah satu makhluk yang kita kenal adalah para malaikat. Sistemnya adalah Kerajaan, dan semua wujud atau bentuk dari makhluk disana adalah roh. Kenapa bentuknya roh? Karena Alkitab bilang:
"Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." -Yohanes 4:24.
Dan, beberapa tokoh Alkitab mendapatkan penglihatan tentang Kerajaan Surga ini, contohnya adalah Nabi Yesaya, Nabi Yehezkiel, Daniel, Rasul Yohanes, dan banyak lagi. Jadi, Alkitab mencatat bahwa segala sesuatunya dimulai dari ALLAH--yang Yesus kenalkan dengan nama “Bapa”--dan dari alam ciptaan-Nya bernama Kerajaan Surga. Kedepannya, kita akan menyebut Kerajaan Surga sebagai "alam roh", karena wujud seluruh makhluk di Kerajaan itu adalah roh.
Pemikiran atau hikmat tentang sistem kerajaan yang dipakai oleh manusia sejak penciptaan Adam dan keturunannya, adalah sebenernya berasal dari hikmat ALLAH sendiri. Hanya saja, pengaplikasiannya tidak sesempurna Kerajaan Surga yang Bapa pimpin (bnd: Kolose 1:15-17). Jadi, dari Alkitab--dan juga Yesus sendiri--, manusia mengenal adanya Kerajaan Surga, atau alam roh (spiritual realm).
Diceritakan di Alkitab, berdasarkan penglihatan nabi Yesaya (bnd: Yesaya 14:12-15), ada suatu saat dimana gerakan pemberontakan sangat hebat terjadi di Kerajaan itu, dimana kegerakan tersebut dipimpin oleh malaikat bernama Lucifer. Lucifer sebenarnya adalah pemimpin puji-pujian di Kerajaan Surga. Di Surga, para malaikat memuji ALLAH, karena di alam itu, sepatutnya-lah Pribadi ALLAH disembah. Lucifer, atau yang kita kenal sebagai Iblis, digambarkan sebagai malaikat yang tinggi kedudukannya, sangat mulia, dan diciptakan sempurna. Tapi, dia dikuasai oleh kesombongan dan iri hati sehingga dia menuntut hak dari penyembahan, yang dimana harusnya hanya boleh diberikan kepada ALLAH. Karena dosanya ini, kedudukan dan kuasa yang dipunyainya akhirnya diambil oleh ALLAH. Akhirnya, Iblis beserta sepertiga malaikat lain dicampakkan ke bumi (bnd: Yehezkiel 28:17; Lukas 10:18; Wahyu 12:3-9). Semua cerita ini bisa kita lihat dari penafsiran penglihatan nabi Yesaya dan nabi Yehezkiel (bnd: Yesaya 14:12-15; Yehezkiel 28:1-19), dan juga hikmat dari pengajaran beberapa rasul (bnd: 1 Timotius 3:6; 2 Petrus 2:4; Yudas 1:6-9).
Hebatnya, ALLAH dengan hikmat dan kehebatan-Nya menciptakan alam bernama “Kerajaan Maut" sebagai bentuk hukuman buat Lucifer dan para malaikatnya, serta untuk segala makhluk yang bertentangan dengan Kerajaan Surga. Kerajaan Maut diciptakan untuk setiap makhluk yang memberontak terhadap Kerajaan Surga, untuk setiap makhluk yang tidak mau hidup berdasarkan hukum Kerajaan Surga; untuk setiap makhluk yang tidak layak untuk hidup dalam Kerajaan Surga (bnd: Matius 25:41-46). Alam Maut, yang kita biasa kenal dengan “Neraka”, digambarkan dengan api. Tapi, itu hanya gambaran. Nggak ada manusia yang bisa menggambarkan Neraka, sama juga seperti halnya manusia tidak bisa menggambarkan Sorga, karena dua dunia tersebut bentuknya adalah roh, yang dimana beda banget dari wujud dunia kita yang adalah daging. Tapi satu hal yang kita bisa simpulin: “Neraka adalah suatu keadaan atau tempat dimana kita terpisah jauh dari ALLAH.”
Sampai paragraf ini, gue pribadi belajar bahwa ada dua alam (atau dua dunia), yaitu Kerajaan Surga (alam roh) yang dipimpin oleh ALLAH dan Kerajaan Maut (alam maut) yang diciptakan untuk Lucifer dan para pengikutnya. Tapi, ada satu alam yang penting yang ALLAH ciptakan. Itulah alam yang kita jalani saat ini; alam dimana kita hidup saat ini.
Hmm, stereotype makhluk yang bernama manusia ini adalah egosentris, dimana manusia merasa dirinya adalah pusat dari segala sesuatu. Hehe. Jadi, gue hanya dalam posting ini, akan menamakan alam kita sebagai "alam manusia", atau "alam nyata". Alkitab mengajarkan bahwa dasar dari penciptaan alam kita dimulai dari kehendak ALLAH sendiri. Dan hebatnya, kitab pertama dalam Alkitab, yaitu kitab Kejadian, mengajarkan tentang asal-usul alam kita. Kita mengenalnya dengan kata "Alam Semesta" (The Universe) yang adalah langit, dan "Bumi" (Our Earth) adalah bagian yang menjadi tempat tinggal kita.
Kejadian 1-2 dengan mudah menjelaskan bagaimana ALLAH menciptakan alam semesta, termasuk bumi dan segala isinya; termasuk manusia. Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan ALLAH (bnd: Kejadian 1:26-30). Dia memberikan kita setiap atribut-Nya, serta kuasa dan otoritas untuk menaklukkan bumi. Uniknya, sama seperti Dia menciptakan Lucifer dan mempercayakan dia untuk mengatur Kerajaan Surga, begitupula kehendak dan tujuan ALLAH menciptakan manusia, yaitu untuk mengatur bumi dan segala isinya. Kepercayaan ALLAH yang sangat besar ini diemban oleh Adam, dan teman barunya, Hawa (bnd: Kejadian 2:18-24).
Gue belajar juga, bahwa manusia sebelum jatuh dalam dosa, bentuk luarnya adalah daging, tapi di dalam kita adalah roh (bnd: Kejadian 2:7). Kondisi manusia saat itu adalah roh sangat berkuasa terhadap daging. Hal ini terlihat dari ayat Kejadian 2:25, dimana manusia bisa mengontrol dagingnya untuk tidak berbuat hal-hal yang bertentangan dengan hukum Kerajaan Surga, yaitu "hawa nafsu" dan "keinginan birahi". Manusia tidak merasa malu bukan karena ALLAH menutupi mata hati kita, tetapi karena sebelum manusia jatuh dalam dosa, roh di dalam diri kita memiliki kemampuan untuk menguasai daging kita.
TUHAN Allah menjadikan semuanya itu baik, sampai akhirnya Iblis membuat kacau (lagi) semuanya. Kejadian 3 menceritakan semuanya, dimana kita jatuh dalam dosa yang sama seperti Lucifer: "Mencoba menjadi sama seperti ALLAH" (bnd: Kejadian 3:4-6). Gue diajarin TUHAN, bahwa pada saat itu manusia nggak sebodoh yang kita selama ini kira. Disaat kejadian ini terjadi, manusia adalah makhluk yang dijadikan serupa dengan gambar-Nya. Artinya, manusia punya hikmat, sekaligus juga punya freewill (baca: kehendak bebas). Hawa dan Adam disaat itu pasti mempertimbangkan dan mikirin dengan mateng apa yang akan mereka lakukan. Mereka pasti nggak dengan gampangnya mereka memakan buah itu, ibarat kayak anak bayi dikasih permen dan langsung ngambil gitu aja. Tapi, mereka memakan buah itu karena Iblis dengan kecerdikannya menipu dan membujuk manusia, dan juga karena freewill mereka. That's why kenapa Alkitab selalu menekankan kalo Iblis adalah bapa segala dusta; dia penipu yang cerdik, tapi juga licik (the deceiver).
Akhirnya, manusia melakukan dosa yang persis sama dengan Lucifer (baca: Iblis) dan sepertiga malaikat: "Ingin menjadi sama dengan ALLAH". Dan hukum Kerajaan Surga-nya adalah: "Setiap orang yang menentang ALLAH dan kerajaan-Nya, harus dihukum."
Yang kita harus bersyukur, sekaligus kita cermati sebagai manusia, adalah perbedaan sikap hati TUHAN ketika menghukum kita; perbedaan kehendak-Nya ketika Dia menghukum kita: Dia memberikan kesempatan kedua bagi manusia. Dia nggak langsung ngirim kita ke neraka, tapi Dia memberikan kita "the second chance", supaya kita bisa tetep terus mengenal TUHAN lebih dalam, dan menikmati indahnya punya hubungan yang intim dengan TUHAN.
Dia nggak mau kita jauh dari-Nya. Dia nggak mau kita dihukum sangat berat. Dia nggak mau kita (yang adalah ciptaan terbaik-Nya) menjauh. Mungkin sebagian dari kalian pasti nanya: "Bodoh dong TUHAN kalo gitu membuat kita jatoh lagi dalam dosa!?"
Sebenernya, nggak kok. Bukan Dia yang bodoh; manusia yang bodoh. Karena kehendak bebasnya kita (sekaligus tipu daya Iblis), manusia jatuh. Hawa saat itu sebenernya bisa nolak. Adam saat itu juga bisa nolak. Mereka punya kehendak bebas, mereka punya freewill. Tapi, adalah kesalahan terbesar Adam dan Hawa, ketika dia pake freewill mereka untuk mencoba menjadi seperti Allah.
Mungkin kalian berargumen: "Nggak! TUHAN bodoh dong. Kalo gitu, kenapa Dia masih nyiptain manusia dengan freewill, sama seperti Dia menciptakan Lucifer? Kenapa Dia nggak ngambil freewill-nya kita dan bikin kita taat aja sama Dia?"
Hmm. Itu yang manusia coba buat, kan? Kita menciptakan makhluk yang namanya "ROBOT". Dia nggak punya freewill; dia cuman jalan berdasarkan perintah dan protokol sistem yang kita buat. Enak, nggak? Enak. Dia bisa bantu kita, bisa melakukan segala yang kita suruh. Tapi apakah dia sifatnya dinamis? Apa dia bisa ngebantu kita ketika hal-hal yang dinamis terjadi? Apa dia bisa ngeresponin setiap cerita lo, ketika lo lagi curhat sama dia? Hmm, I don't think so. Even lo bisa pun nyiptain robot yang sifatnya "dinamis", tapi pasti nggak se-dinamis yang bisa kita lakukan. Kalopun kita kasih dia freewill, yang kita takutkan pasti terjadi: "They will taking over our world and controlling us; mereka bakal menguasai dan menjadi sama seperti kita".
Itu yang Tuhan rasain ketika Dia menciptakan kita. Dia nggak mau kita seperti "robot", yang sifatnya statis. Dia mau kita dinamis. Dia punya hikmat yang luar biasa; Dia membuat wujud "daging" sebagai tempat tinggal wujud "roh", supaya kita punya tempat yang nyaman di bumi, tetapi juga bisa deket dengan Dia secara roh. Dia (dulunya sebelum kita jatuh dalam dosa) memberikan kita freewill dalam roh kita, tetapi juga disaat yang bersamaan menciptakan wujud daging sebagai pembatas freewill.
Sekarang, karena kejatuhan kita, daging lebih berkuasa dari roh. Dan, sama seperti sebelumnya Dia menghukum Iblis, TUHAN harus menghukum kita juga. Bedanya adalah, bukannya menciptakan hukum yang baru sebagai hukuman; Dia malahan memperbaharui "hukum alam" (law of nature) untuk mengatur manusia. Memperbaharui? Yup. Dulu kita hidup "nyantai". Hukum alam awalnya bilang: "Semua pohon dalam taman ini boleh kamu makan buahnya dengan bebas; manusia akan mengusahakan bumi tanpa bersusah-payah" (bnd: Kejadian 1:28-30, 2:16). Sekarang, malahan akhirnya: "Manusia akan mengalami kesakitan dan kesusahan yang sangat besar dalam mengusahakan bumi" (bnd: Kejadian 3:16-19).
Nah, dari paragraf ini, gue secara pribadi tau sejarah hukum-hukum itu lahir, dan bisa nyimpulin bahwa hukum itu ada dan berkaitan (connected) dengan dunia kita. Tapi, kita hanya bisa hidup maksimal dibawah dua hukum utama diatas. Kenapa? Hmm.
Pembahasan ini akan gue lanjutin di postingan berikutnya. Lebih seru. Lebih menarik (untuk orang-orang yang penasaran pastinya).
Menyenangkan Hati Manusia?
Topik ini udah menjadi headline dalam pelayanan gue. Topik ini jadi bahan diskusi gue yang berkepanjangan, baik dengan Tuhan, maupun sesama pelayan Tuhan. • Kenapa bisa jadi bahan diskusi? Hmm. Jadi, ada suatu saat dimana gue diomongin sama orang banyak–terutama pelayan Tuhan–karena kelakuan gue yang cukup anti-mainstream dalam pelayanan. Anti-mainstream disini bisa sesuai dengan etika dan juga bertentangan dengan etika (sikap, perilaku, perbuatan). Misalkan, mereka nyindir tentang ketawa gue agak keras, cara duduk gue yang nggak tegak dan slengean, cara ngomong gue yang ceplas-ceplos, dan banyak lagi (maklum saya manusia dengan 1001 kekurangan, hehe). • Latar belakang gue adalah anak pejabat tinggi kepolisian, yang dimana dari kecil gue “disuapin” untuk selalu bersikap sopan dengan orang yang gue temuin (highlight kata “sopan”). Sopan disini artinya menjaga tutur kata, perilaku, sikap, perbuatan, gerak-gerik, bahkan raut wajah. Bokap dan nyokap gue ngajarin gue tentang gimana caranya bersikap baik (bahasa sekarangnya menjaga manner) di depan banyak orang. • Gue diajarin dari A sampe Z tentang etika. Sama kayak gue ikut kelas John Robert Powers, atau Table Manner Class kayak yang di hotel-hotel tuh, gitu juga nyokap gue ngajarin gue. Mereka ngajarin semua itu tentang gue, supaya gue nggak malu-maluin di depan orang-orang ketika diajak jalan, atau rapat, atau lunch, atau dinner, apalagi di depan para petinggi POLRI, yang notabene adalah boss dari bokap gue. Huft. • So, pengajaran tentang etika dan norma (yang lumayan mengekang gue) ini ditanemin ke gue semenjak gue umur 7-8 tahun, dan pelajarannya terus berlaku dan diterapkan sampe sekarang. Ulalaaa. Pengajaran yang akhirnya jadi manual book hidup gue ini, lambat laun jadi kebiasaan dan rutinitas dalam kehidupan sehari-hari. Di depan temen-temen gue, sahabat gue, rekan sepelayanan gue, bahkan hampir semua orang yang baru gue kenal, gue bersikap sesuai dengan “the manual book”. • Tapi, ada saatnya gue melupakan “the manual book” yang nyokap dan bokap gue kasih, karena gue mau meluapkan ekspresi yang berlebih. Ketawa cengengesan lah, becanda teriak-teriaklah, lari-larian di mall gede lah (kayak anak kecil sih ini), yang dimana gue lakukan semuanya itu untuk berekspresi, heheyyy. Nah, saat dimana gue melupakan “the manual book” ini, adalah saat dimana gue ketemu sama temen-temen karib, keluarga deket, dan sahabat gue yang asik, dan yang kenal banget sama gue. • So, ekspresi gue (yang berlebihan ini) akhirnya terbawa dalam pelayanan gue, karena gue menganggap gereja sebagai rumah gue sendiri, dan menganggap juga anggota pelayanannya pun adalah seperti keluarga gue sendiri. Tapi, hmm, semua orang nggak berpersepsi yang sama dengan gue. Mereka merasa annoyed dan ngomongin gue dari belakang. Sometimes, mereka bilang gue “anak autis”, “anak gatau malu”, “kutu kupret”, “toa lampu merah”, dan banyak lagi. • Akhirnya gue mulai kembali bersikap biasa, mengekang diri gue, dan mulai menempatkan diri dengan situasi-kondisi, serta lingkungan sekitar gue. Seolah-olah untuk menyenangkan hati banyak orang, padahal itu nggak gue banget. Yes, gue pengen banget menyenangkan hati orang, tapi nggak dengan membatasi gue berekspresi. Dan akhirnya, gue kembali ke “the manual book”-nya gue, yang membatasi gerak-gerik gue dalam berekspresi. • Hari ke hari, gue akhirnya nanya dong ke Tuhan: “Tuhan, kenapa sih aku harus ‘memakai topeng’ dalam pelayanan? Emang aku harus menyenangkan hati semua orang? Aku nggak bisa. Aku pengen banget nyenengin hati setiap orang yang ketemu sama aku, cuman kan setiap persepsi dan penilaian orang beda-beda. Susah untuk beradaptasi dengan mereka satu per satu,” dan gue mulai beraspirasi sama Tuhan. Hmm. • Akhirnya muncul satu ayat di hati gue, yaitu 1 Korintus 10:33. • “Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.” -1 Korintus 10:33. • “Hamba-Ku Paulus dalam pelayanannya berusaha menyenangkan hati semua orang, bukan karena kemauannya dia, atau supaya dia disukai banyak orang, tapi karena dia mau menyelamatkan orang-orang, dengan cara memperkenalkan Aku dengan mereka,” kata Tuhan. • Dan muncul lagi ayat dari Efesus 6:5-7. • “Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia.” -Efesus 6:5-7. • “Aku tau kalo kamu tuh pengen nyenengin hati semua orang. Hatimu memang seperti itu. Tapi, kamu juga harus ngerti bahwa bukan itu tujuan kamu melayani di gereja. Pleasing Me first, then after that you can pleasing others. Kamu dalam pelayanan harus mengerti bahwa menyenangkan hati semua orang bukan yang jadi prioritas utama kamu, tapi harus tetep kamu jalani. Supaya apa? Supaya lewat kelakuanmu, kemuliaan-Ku dinyatakan. Supaya lewat perbuatanmu, Aku bisa terlihat dalam hidupmu.” • “Aku tau kamu pengen berekspresi tuh, Aku tau. Tapi Aku ngajarin kamu hari ini, untuk bisa memilah dengan siapa kamu berekspresi dan bertutur kata. Paulus, ketika dia berbicara dengan orang Yahudi waktu dulu, dia berusaha menyenangkan hati mereka demi mengenalkan Aku kepada mereka. Tapi ke orang-orang percaya, dia pemimpin yang berintegritas, teman yang ramah, bapa rohani yang berwibawa, dan rasul yang menyampaikan hukum dan perintah-Ku dengan tegas, namun juga dengan belas kasihan,” kata Tuhan. • Akhirnya gue belajar untuk tetep nyenengin hati orang, tapi dengan tujuan yang bener, bukan untuk gue dilihat orang baik, tetapi supaya mereka melihat pribadi Kristus dalam hidup gue. • Dan akhirnya, satu perkataan terakhir yang Tuhan kasih: • “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” -Kolose 3:23. • “Tanemin dalam hatimu mulai sekarang, bahwa kamu menyenangkan hati mereka bukan untuk dirimu, bukan untuk supaya hati mereka seneng. Kamu menyenangkan hati mereka, karena kamu pengen menyenangkan hati-Ku.” • Terima kasih, Tuhan.
Pedoman dalam Pelayanan
Malam ini, gue sangat diberkati dengan nasehat dari Paulus buat jemaat di Filipi. Nasehatnya ditulis di Filipi 2:1-11.
Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia.
Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan Ia telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama diatas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Dalam hidup gue, teladan gue adalah Tuhan Yesus. Satu-satunya Pribadi yang mutlak harus dijadiin teladan oleh orang Kristen, adalah Tuhan Yesus. Mau lo boss, karyawan, pegawai, anak sekolahan, mahasiswa, pejabat, orang terkenal, orang kaya, orang kurang mampu, orang biasa-biasa--siapapun lo selama lo adalah orang Kristen, yang mutlak jadi teladan lo dan gue adalah Tuhan Yesus.
Gue menjadikan Dia teladan, salah satunya dalam pelayanan gue. Bisa dibilang dalam hidup gue, yang paling gue banggakan adalah pelayanan gue. Karena lewat pelayanan gue, gue merasa Tuhan bekerja dalam hidup gue. Tuhan bilang: "Jika kamu mau melayani Aku, kamu harus meneladani setiap sifat dan karakter yang Aku punya; setiap apa yang ada pada-Ku harus kamu pelajari."
Dan ayat ini keluar. Lewat pesan Paulus ke jemaat di Filipi ini, Tuhan berbicara. "Jadikan pesan Paulus ini sebagai pedoman kamu melayani Aku, karena setiap kata yang keluar dari hati Paulus, mewakili apa yang Aku mau ketika kamu melayani Aku dan setiap jemaat," gitu kata Tuhan dalam hati gue.
Gue langsung baca dan renungkan setiap ayatnya; kata per kata, kalimat per kalimat. Akhirnya, pesan Paulus ini jadi rhema buat gue.
Dalam Kristus ada nasihat, penghiburan kasih, persekutuan Roh, kasih mesra dan belas kasihan (ayat 1). Semua ini harus gue pahami, pelajari, dan praktekkan dalam pelayanan dan kehidupan gue sehari-hari. Ketika gue butuh jalan keluar, Dia punya nasihat. Ketika gue sedih, Dia menghibur gue. Ketika gue pengen ketemu Tuhan, gue bisa ketemu Dia dalam Roh. Ketika gue nggak dihargai siapapun, Dia mengasihi gue apa adanya.
Dalam pelayanan gue, gue harus sehati-sepikir dalam satu kasih, satu jiwa, dan satu tujuan. Gue nggak boleh egois, nggak boleh suka-suka dalam pelayanan, nggak boleh menjadikan gue sebagai yang terpenting; justru gue harus merendahkan diri gue dan mengutamakan kepentingan orang lain (ayat 2).
Dalam pelayanan gue, gue nggak boleh mencari pujian yang sia-sia dan mencuri kemuliaan Tuhan. Gue harus mengutamakan Pribadi yang gue layanin, baik itu Tuhan ataupun orang. Gue harus berhati hamba untuk melayani Tuhan dan orang-orang. Lagi, gue harus merendahkan hati, merendahkan diri, dan mengutamakan kepentingan orang lain (ayat 3).
Dalam tim pelayanan gue, gue harus punya rasa toleransi dan kepekaan. Gue harus menyelami apa yang orang lain pikirkan, merasakan apa yang orang lain rasakan. Gue harus baik-baik memposisikan diri gue, mengatur cara bicara gue, mengatur sikap dan perilaku gue, supaya gue nggak membuat orang lain sakit hati dan kepahitan sama gue. Setiap kali gue menyakiti orang dalam satu tim gue, gue harus minta maaf (ayat 2-5).
Gue harus mengambil rupa seorang hamba, merendahkan diri gue, dan taat sampai mati dengan otoritas yang Tuhan percayakan dalam hidup gue, sama seperti Tuhan Yesus. Kenapa? Karena gue menjadikan Tuhan Yesus sebagai teladan gue (ayat 6-8).
Gue nggak boleh gengsi dan mempertahankan apa yang jadi hak gue, apa yang jadi milik gue. Karena, Tuhan-pun sama. Tuhan nggak membawa status-Nya yang adalah Allah ke dalam dunia ini. Ayatnya bilang: "Ia tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan." Tuhan aja rela untuk nurunin statusnya dari seorang Tuan jadi hamba (ayat 6-8), masakan gue nggak bisa nurunin gengsi dan status gue?
Gue harus mencoba meneladani Yesus. Lewat nama-Nya, kemuliaan Allah dinyatakan di seluruh bumi. Gue juga harus punya semangat, hidup gue harus bisa menyatakan kemuliaan Allah, sampai seluruh bumi mengaku bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan (ayat 9-11).
Gue harap, pesan Paulus untuk jemaat di Filipi bisa kita praktekkin dan menjadi pedoman dalam pelayanan dan kehidupan sehari-hari kita semua.