Amenangi jaman edan;
Ewuh aya ing pambudi;
Melu edan ora tahan;
Yen tan milu anglakoni;
Boya kaduman melik;
Kaliren wekasanipun;
Ndilalah karsa Allah;
Begja-begjane kang lali;
Luwih begja kang eling lan waspada
(Mengalami hidup pada jaman edan; memang serba repot;
Mau ikut ngedan hati tidak sampai; Kalau tidak mengikuti;
Tidak kebagian apa-apa;
akhirnya malah kelaparan;
namun sudah menjadi kehendak Allah; Bagaimanapun beruntungnya orang yang “lupa”;
Masih lebih beruntung orang yang “ingat” dan “waspada”)
Diatas merupakan bait ke tujuh dari Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Ronggowarsito. Meski serat ini ditulis sekitar tahun 1860an, namun masih relevan dengan kondisi saat ini. Dimana orang-orang dilema dalam hidupnya. Jika mengikuti arus zaman yang semakin gila ini, ada yang tidak pas dengan hati nurani. Namun jika melawan arus, maka akan terdepak dari lingkungan kehidupan. Maka dari itu hal yang bisa membentengi diri kita dari keraguan semacam itu yakni senantiasa mengingat Allah, agar diberi petunjuk jalan yang benar, serta berhati-hati (waspada) terhadap orang yang suka menjerumuskan pada kebathilan. Dengan begitulah kita akan menjadi lebih beruntung dibanding orang lupa yang beruntung.
Kelas Etika PNS
E105, 9 Sept 16