Pada suatu hari aku bertemu dengan teman masa TK ku, seorang ibu Rumah Tangga dengan 2 orang anak. Bermula dari pertanyaan tentang toko yang baru disewanya, lanjut dia bercerita bahwa saat itu sejak punya toko dia pisah rumah dengan orangtuanya (sebelumnya tinggal bersama orangtua) dan memilih tinggal di toko bersama keluarga kecilnya. Dia bertekad ingin belajar mandiri dengan segala kesulitan yang mungkin dia hadapi.
"Karena dari dulu segala printilan ibuku yang ngurus dan sekarang jadi semua yang aku kerjakan di masa awal pindah aku nangis hampir setiap hari. Hehe lebay yaa... Tapi memang rasanya kaget waktu itu, keteteran dan ingin rasanya balik ke rumah." Ujarnya menceritakan masa-masa awalnya pindah.
"Terus cerita sama ibu, dan ibu cuma nasehatin "nduk bagi seorang ibu itu kuncinya cuma 1 biar semuanya beres dengan nyaman. Yaitu kamu harus bangun pagi. Kerjakan semua urusanmu di pagi hari nanti kamu akan mudah menjalani sepanjang hari itu."" Ceritanya.
"Aku dengerin tuh nasehat ibu dan aku bener-bener praktekin. Pagi-pagi setelah subuh aku udah mulai masak nasi, bersih-bersih, cuci baju, mandiin anak, eh beneran aku pagi-pagi itu udah santai duduk-duduk depan toko." Ceritanya lebih lanjut tentang pengalamannya.
Aku terinspirasi oleh percakapan singkat dengan teman masa TK ku itu. Aku langsung refleksi bagaimana pagi hariku sehari-hari. Walaupun aku adalah morning person tapi kegiatan pagiku tak benar-benar produktif. Biasanya setelah shalat aku hanya akan main gadget hingga akhirnya kelabakan karena sudah kesiangan. Aku menyadari ini tapi pada prakteknya masih timbul tenggelam belum cukup konsisten.
1. Decluttering Barang di Rumah
Aku harus mengakui bahwa barang dan perabot di rumahku itu banyak dan aku tidak cukup berani untuk mendonasikan peninggalan orangtuaku itu tanpa ijin kakak-kakakku. Suatu hari tetanggaku mengalami kebakaran. Dan aku berinisiatif menyumbangkan dipan beserta kasurnya dan beberapa kursi dan meja peninggalan bapak dan ibu. Alhamdulillah di acc kakak. Cukup memberi ruang yang tadinya penuh.
Aku dan suami juga memilah pakaian yang masih layak dan bisa dibagikan. Dan alhamdulillah isi lemari tidak sesak lagi. Aku lumayan rutin melakukan ini jika dirasa sudah penuh. Barang-barang yang sepertinya akan dipakai tapi tak kunjung dipakai akan berakhir dibuang atau ditukar ke abang rongsokan.
2. Rancangan Sistem Kerja Manajemen Rumah Tangga
a. Aku Menghapus Aplikasi Sosmedku di Ponsel
Karena aku rasa aplikasi Sosmedku terlalu banyak jadi aku decluttering aplikasi di ponselku. Walau tak banyak tapi lumayan mengurangi distraksi karena sosmed. Sehingga jadi lebih rajin bebersih dan olahraga.
b. Aku Sedang memulai 40 Days Challange untuk membuat kebiasaan.
Di sini suami sebagai mentorku memintaku untuk mencari 1 hal sederhana aja yang bisa ku kerjakan setiap hari tanpa putus. Dan suamiku memilihkan "membersihkan tempat tidur" sebagai challenge pertamanya. Karena memang sebelumnya aku kurang konsisten membersihkan tempat tidur. Dan alhamdulillah tanggal 30 Juli ini genap 40 hari aku tuntas menyelesaikan challenge ini. Yeay. Next target adalah meletakkan barang di tempatnya utamanya kain-kain tidak ada yang di kursi meja dst.
c. Jadi Morning Person Sejati
Selanjutnya aku akan mengkonsistenkan diri menjadi morning person seperti temanku itu. Menjadi tonggak pertama kokohnya rumah tangga. Aseeek hehe.
3. Job Description Keluarga
Hal-hal yang sudah berjalan dan menjadi kebiasaan dalam keluarga kami, yaitu:
Suami: lipat bajunya sendiri (yang tidak perlu disetrika), cuci bajunya sendiri, nyapu ngepel, buka/tutup jendela, menghidupkan lampu, menguras kamar mandi, mengisi bak mandi WC, kadang mencuci piring, memastikan sepeda motir aman terkendali, dst.
Istri: membersihkan tempat tidur, membersihkan debu, memasak, menyetrika, cuci baju sendiri, kadang mencuci piring, memberihkan dapur, membuang barang yang tak terpakai, dst.
Alhamdulillah semoga semakin kompak dan punya rumah yang bersih nyaman dan aman untuk sehat jiwa raga. Aamiin