Tak ada lagi waktu untuk menunggu. Tak ada lagi cara untuk bertahan. Dari sekian lama keadaan yang tidak menyehatkan hatiku ini, aku baru menyadari, bahwa aku--terlambat pergi.
seen from China
seen from China
seen from Belarus
seen from China
seen from China
seen from Netherlands
seen from China

seen from Italy
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from China

seen from Canada

seen from Canada
seen from United States
seen from China
seen from Ukraine

seen from United States
seen from Japan
seen from Australia

seen from Canada
Tak ada lagi waktu untuk menunggu. Tak ada lagi cara untuk bertahan. Dari sekian lama keadaan yang tidak menyehatkan hatiku ini, aku baru menyadari, bahwa aku--terlambat pergi.
Apabila dalam suatu hubungan hanya kamu yang berusaha, berarti bukan cinta yang sedang kamu hadapi, melainkan seseorang dengan peliharaan egonya.
Aku Yang Biasa
Aku. Orang yang seringkali kamu bohongi ini, sebenarnya memiliki banyak peluang untuk menyakiti. Aku, orang yang kamu anggap bodoh ini, sesungguhnya orang yang paling pintar dalam menjaga perasaan kekasih. Aku, orang yang mungkin jarang sekali kamu hargai ini, adalah orang yang paling banyak punya alasan untuk pergi. Namun, inilah aku. Mempercayakan dusta lalu menerima penyangkalan, sudah menjadi hal biasa. Mengucap maaf meski bukan aku yang bersalah, sudah terbiasa. Mempertahankan dan memperbaiki, sudah menjadi kebiasaan. Apa karena hal itu, kamu menganggapku terlalu biasa?
Sayang, ketahuilah, apa yang kamu anggap biasa ini, adalah hal luar biasa bagi siapapun yang ingin memilikiku. Walaupun aku tahu, kamu tak takut akan kehilangan, semoga nanti kamu tak bertemu dengan penyesalan.
Ia marah pada dirinya sendiri. Kebohongannya tak pernah sempurna. Ia marah, aku menebak isi hatinya. Ia marah, aku menjebak apa saja yang ada di dalam hatinya. Ia marah, kalau aku selalu membahas masa lalunya. Ia marah, karena ia tahu, aku benar.
Terlalu banyak yang tidak aku ketahui dibelakangku, sehingga terlalu sulit untuk aku percaya apa yang ia lakukan dihadapanku.
Ku biarkan kamu berlalu, agar kamu menyadari siapa yang mencintaimu dengan terlalu.
Jika hanya ada satu di dalam hati, mengapa harus ada dua di dalam kepalamu? Jika hanya ada satu jalan yang bisa membahagiakanmu, mengapa harus berputar arah mencari kebahagiaan lagi?
Seseorang Yang Hanya Tuhan Pinjamkan
Jika ia pernah lepas dari genggaman, lalu sempat menggenggam tangan lain, dan pada saat dirinya kembali, aku genggam seerat yang aku bisa. Apa aku salah?
Ia pernah membuka jalan untuk hati yang lain memperjuangkannya, lalu saat ia kembali padaku dan aku berjuang untuk menutup jalan itu kembali sekeras yang aku bisa. Apa aku salah?
Pun ia pernah menunjukkan pada dunia, bagaimana hati yang lain menunjukkan cintanya. Bagaimana hati yang lain masih memperjuangkannya. Namun, saat ia memilih kembali dan aku hanya ingin ada aku dalam dunianya saja, apa aku salah?
Apa ini salah? Bila pada akhirnya kamu mendekap erat kembali yang pernah pergi dan berbagi pada hati yang lain?
Sebab ia pernah terlalu cepat menghempaskan, oleh karena itu ketika ia kembali, aku sulit membebaskan. Tapi bila kebebasan yang benar ia inginkan, mungkin perlahan aku akan belajar lebih keras lagi untuk memahami, dia bukan milikku seutuhnya.
Dia, seseorang yang hanya Tuhan pinjamkan.