As I say, the days went by in a kind of dream. I looked at everyone I met in a new light
Agatha Christie, The Moving Finger

seen from Poland

seen from France
seen from United States
seen from United States
seen from China
seen from China
seen from China
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Japan

seen from United Kingdom

seen from Sweden
seen from United Kingdom
seen from Argentina

seen from Australia
seen from United States
seen from United States
seen from Russia
As I say, the days went by in a kind of dream. I looked at everyone I met in a new light
Agatha Christie, The Moving Finger
Kita, Wanda, dan Keinginan
WandaVision.
Sebuah TV Series yang tayang di platform streaming disney+.
Karya dari Semesta Marvel Cinematic Universe dan sebuah terobosan dari Marvel untuk membuat series original MCU untuk pertama kali.
Bagi yang mengikuti MCU tentu mengetahui dua karakter ini, Wanda dan Vision.
Singkatnya, Wanda adalah seorang perempuan asal eropa yang memiliki kekuatan semacam sihir, khususnya untuk memanipulasi pikiran, telekinesis, dan beberapa kekuatan lain yang belum terungkapkan. kemudian Vision, robot yang sudah seperti manusia. dua makhluk ini sama sama memiliki kekuatan dari sebuah batu yang dinamakan mindstone.
Tapi yang menarik adalah dari serial wandavision ini, kisah dua insan berbeda jenis ini dikemas menarik dan lebih mendalam. kita tidak akan membahas ceritanya, namun sisi lain yang menjadi inti dari serial ini.
Wanda membentuk sebuah realita, sebuah dunia sendiri sebagaimana yang ia inginkan menggunakan sihirnya. sihir yang ia tak sadari ternyata mampu membuat sebuah dunia sendiri yang terpisah dari dunia nyata.
Mengapa semua terjadi?
Ternyata sesederhana manusia yang mengalami patah hati. Manusia yang memiliki angannya sendiri. Manusia yang tak senang dengan takdir dari Tuhan dan mengharap naskahnya sendiri yang ia ingin wujudkan sebagaimana maunya.
Rupanya tak hanya Wanda, kita semua adalah Wanda di dunia kita masing-masing. Realita yang kita ciptakan. Sebuah ilusi dimana kita membayangkan bahwa kita pemilik panggung dan manusia lain adalah pemeran pendukung.
Imaginary Audience, orang-orang yang kita anggap sebagai pendukung dari kisah yang kita bangun. Kita punya fairytale kita masing-masing. Sebagaimana tokoh protagonis yang kita saksikan di film film kesukaan kita, yang kemudian mendapat pasangan yang ideal sesuai yang diharapkan. kisah manis seperti dongeng yang juga punya istilah ilmiah, personal fable.
Wanda mampu membuat orang orang di sekitar lokasi tempat ia membangun realita itu sebagai pemeran pendukung dari kisahnya.
Maka serial ini amat konkret memperlihatkan betapa bahayanya ketika kita terlarut dalam dongeng yang kita percayai sebagai takdir kita.
Di episode ke sekian, akhirnya serial ini menunjukan bahwa ternyata para tetangga wanda yang dimanipulasi pikirannya untuk bisa menjadi figuran di realita ciptaan wanda tersebut tidak bahagia. mereka punya kehidupan masing-masing. mereka terpaksa terbawa dalam rasa sakit wanda yang juga ditekan dalam dalam dengan ditipu menggunakan naskah indah dalam realitanya.
Bahkan ketika akhirnya satu karakter lain yaitu Monica Rambeau berhasil sadar dan menemui Wanda secara langsung, Monica berkata
“Aku juga kehilangan orang yang dekat denganmu. hal terburuk yang pernah kubayangkan sudah terjadi.. dan aku tak bisa mengubahnya, aku tak bisa membatalkannya. aku tak bisa lagi mengendalikan rasa sakit ini.. aku tak ingin lagi mengendalikannya karena inilah realitaku”
Maka itulah, gambaran dalam hidup kita.
Monica menggambarkan seseorang yang sudah lelah dengan membohongi kenyataan. bukan karena ia tak ingin mengubahnya. Melainkan karena ia sudah menyadari bahwa terus menolak kenyataan dan berusaha mengubahnya itu melelahkan. semua harus didekor sedemikian rupa seperti yang kita inginkan padahal itu tidak memberi manfaat apapun sama sekali bagi kita.
Bukankah kita juga demikian?
Seringkali berusaha menjadi Wanda, namun menolak menjadi Monica.
Jadi, sudahkah kita melepaskan hari ini?
Sudahkah kita menyadarkan diri kita bahwa kita tak pernah punya sesuatu yang kekal di dunia ini?
“The Personal Fable is a belief held by many adolescents telling them that they are special and unique, so much so that none of life's difficulties or problems will affect them regardless of their behavior.”
Hubris is infectious.
Featuring a 50-reference bibliography!
A man who lies to himself, and believes his own lies becomes unable to recognize truth, either in himself or in anyone else, and he ends up losing respect for himself and for others. When he has no respect for anyone, he can no longer love, and, in order to divert himself, having no love in him, he yields to his impulses, indulges in the lowest forms of pleasure, and behaves in the end like an animal. And it all comes from lying — lying to others and to yourself.”
Fyodor Dostoevsky
I'm so frickin paranoid I think I have 7 billion followers.
Marco Aldendorff
Why do we think we’re so special?
Adolescent Egocentrism
"It is the belief that others are preoccupied with his appearance and behavior that constitutes the egocentrism of the adolescent"
Adolescence egocentrism leads teens to a self-absorbed and distorted view of their personal uniqueness and importance in the world. As such, they develop three defined thought processes:
Personal fable: Teens develop a personal fable, in which they over-differentiate their feelings and believe they are the only ones capable of experiencing their unique emotions; this is why teens often express sentiments such as “Nobody understands me!” and “Things aren’t the same as when you were young!”
Imaginary audience: Teens develop an imaginary audience, in which they believe they are living life on a stage with everyone looking and noticing everything they do. "It is an audience because the young person believes that he or she will be the focus of attention; and it is imaginary because, in actual social situations, this is not usually the case (unless he or she contrives to make it so)"
Risk taking: Teens develop “an exaggerated sense of invulnerability” that leads to risk taking because they do not consider any risks previously encountered by others to be applicable to their personal situation (why should they when, according to the personal fable, nobody has ever encountered their unique situation?).
Elkind and his associates discovered that such egocentrism is most prevalent in early adolescence, peaks at about the age of 14 to 16, and declines in young adulthood (Elkind & Bowen, 1979). This is the point when maturing brains should take the next step to conceptualize others’ thoughts without projecting their own thoughts onto them. After progressively testing his “personal fable” and “imaginary audience” against peoples’ reactions in reality, the young adult discovers that his thoughts are subjective and that others are not obsessively thinking about him.