Membuat Character Sheet a.k.a Biodata Tokoh
Untuk postingan kali ini saya ingin membahas tentang character sheet atau bisa juga disebut dengan biodata tokoh cerita. Let’s just admit it, pertama kali kita merancang tokoh baru untuk cerita kita pasti begini:
Tanggal lahir: 12 Januari 1998
Sifat: Baik hati, suka menolong, rajin menabung
Hal yang disukai: Sepakbola, tiramisu
Hal yang dibenci: Dikhianati, cowok berantakan.
Dan tidak lupa sketch dari si karakter tersebut di samping profilnya.
“Lho emang salah ya kalo bikinnya begitu?”
Nggak, itu sama sekali nggak salah. Hanya saja, apa yang ditulis barusan bukanlah hal yang benar-benar penting dari sang tokoh. Character sheet tokoh Pinky itu tidak mencerminkan hal terpenting yang seharusnya ada di dalam character sheet semacam itu. Which bring me to the first point…
Personality is the most important thing in a character.
Personality alias Kepribadian. Yes, it’s the most important thing, dan itu tugas penulis untuk membuatnya sejelas mungkin.
Sekarang, berdasarkan profil yang dibuat tadi, mari kita tes sang tokoh. Si tokoh sedang mengerjakan ujian dan melihat teman sebangkunya sedang menyontek. Apa yang akan dia lakukan? Melapor? diam saja? Bisakah kita menjawabnya dengan profil yang baru saja dibuat tadi?
Karena yang kamu masukkan hanya hal-hal trivial bagi tokoh mu, bukan kepribadiannya, bukan hal yang benar-benar berarti bagi si tokoh.
Padahal poin terpenting dalam proses ini adalah untuk mendapat rancangan kepribadian si tokoh sejelas mungkin. As clear as possible.
Kalau kepribadian si tokoh tidak dibuat sejelas mungkin, besar potensinya bahwa kamu pasti akan menemukan kebuntuan di tengah-tengah cerita. Kebuntuan yang terjadi karena kamu nggak tahu bagaimana cerita selanjutnya akan berjalan karena kamu nggak tahu reaksi tokoh mu sendiri pada situasi seperti itu.
Saya nggak bilang kalo hal-hal trivial itu nggak penting lho dalam cerita karena kita sendiri kadang menyukai sesuatu tanpa alasan yang jelas. TAPI, tanpa kepribadian yang jelas kita tidak tahu bagaimana tokoh tersebut akan berpikir, bicara, atau bertindak. That’s why I said personality is important.
Ketika kita tidak tahu apa yang akan diucapkan, dipikirkan, atau dilakukan oleh sang tokoh selanjutnya, kemungkinan besar kita belum sepenuhnya membuat kepribadian dari tokoh tersebut. Dalam character-driven story, kepribadian para tokoh harus dibuat sejelas dan senyata mungkin karena, well— it’s a ‘character driven story’… cerita yang plotnya melaju karena perbuatan yang dilakukan atau tidak dilakukan para tokoh yang sangat berhubungan dengan kepribadiannya.
Appearance first, personality later?
Biasanya kebanyakan orang ingin membuat desain karakter yang ada di benak mereka terlebih dahulu sebelum akhirnya menentukan sifat-sifat apa yang cocok untuk sang tokoh berdasarkan desain penampilan luar yang dibuat.
“Hmm… rambut merah ya…? Ya udah dibikin galak deh”
“Cowok rambut putih, mata merah? Wah ini mah dia harus baik hati, ganteng, tapi masa lalunya kelam”
Menurut saya boleh-boleh saja membuat rancangan tokoh seperti ini, bahkan saya juga masih melakukannya kok kalo lagi kehabisan stok ide.
Yang harus diingat adalah seganteng-ganteng apapun tokoh mu, sehebat apapun dia, pembaca akan mulai membencinya jika kepribadiannya tidak konsisten.
Kalian pasti pernah baca setidaknya satu dua cerita yang tokohnya punya kepribadian yang nggak konsisten seperti itu.
“Wah ya ampun dia pemalu banget”
“Oh oke.. Jadi dia ternyata kuat ya.. Hmm”
“Lho? Bukannya dia takut sama cowok? Kok dia beraninya ngajak ke kamar tanpa mikir gitu sih?”
“Eh.. Kok dia tiba-tiba ngeflirt terbuka gitu, ini orang gimana sih sebenernya?!”
Bedakan ya antara tokoh yang tidak konsisten dan tokoh yang sedang berkembang. Tokoh yang sedang berkembang adalah tokoh yang pembacanya mengerti sifat dasar dan sekilas tentang hidupnya, yang sekalipun si tokoh melakukan hal-hal di luar kebiasaannya, pembaca akan mengerti alasan kenapa dia melakukan itu— atau malah mendukungnya karena tahu hal itu akan membuat sang tokoh bisa menuju arah yang lebih baik.
Tokoh yang tidak konsisten berarti kebalikannya. Kita nggak tahu kenapa dia melakukan itu, kita nggak tahu pasti sifat dasar yang ada dari si tokoh, dalam kasus yang parah kita jadi bosan dengan tokoh tersebut karena dia bisa berubah seenak jidat dan nggak dapet masalah sama sekali dari perubahan itu. Tokoh semacam ini nggak bisa membuat pembaca bersimpati. Pembaca lebih suka melihat si tokoh berusaha karena pembaca merefleksikan dirinya pada tokoh tersebut. Mereka bisa merasakan bagaimana sulitnya untuk berjuang dan membuat keputusan sulit hingga pada akhirnya pembaca akan bersimpati pada sang tokoh.
Jadi, bagaimana cara menulis character sheet yang benar?
Sebelumnya harus dipahami dulu bahwa membuat character sheet itu tidak ada aturan bakunya. Semua tergantung pada kalian untuk menambah informasi macam apa pada si tokoh. Kalau masih bingung coba cari di internet contoh-contoh character sheet, I swear you will find tons of them.
Jujur saja, saya sendiri sebenarnya lebih sering menyebut character sheet sebagai personality sheet. Ini karena dalam biodata tokoh yang saya buat saya selalu membuat penjelasan se-detail mungkin tentang kepribadian sang tokoh daripada aspek yang lain.
Enough talk, let’s dive in! Berikut adalah beberapa hal yang biasanya saya isi untuk membantu saya memahami tokoh saya sepenuhnya:
Seperti apa sifat tokoh ini nanti? Galak? Baik? Suka ngatur? Berkreasilah sesuka mu di sini. Golongkan sifat-sifat si tokoh menjadi kelebihan dan kekurangannya.
Tidak semua orang akan selamanya galak dan selamanya baik, terkadang orang yang suka ngatur dan obsesif ternyata juga dermawan dan sensitif. Hal-hal tidak terduga bisa muncul dengan sedikit mix and match.
Pilih banyak sifat untuk tokoh mu, tapi buat salah satu sifat paling menonjol dibanding yang lain dan sangat mempengaruhi cara tokoh mu berinteraksi.
2. Pandangan terhadap dunia
Pemikirannya soal bagaimana cara dunia bekerja meskipun dia sendiri tak tahu apakah itu benar atau salah. Misalnya: orang miskin selalu teraniaya, bangsawan harus tinggal di istana, dan lain-lain. Ini akan sangat penting untuk tokoh dalam cerita genre fantasi.
3. Pandangan terhadap diri sendiri.
Apakah si tokoh merasa percaya diri dengan kemampuannya? Apa dia malu dengan beauty mark yang ada di keningnya? Apa dia tahu kelebihan yang dimiliki? Apa dia sadar dengan kelemahannya?
Pandangan terhadap diri sendiri tidak harus sama dengan sifatnya. Bisa saja sifatnya sok kuat tapi dia selalu berpikir bahwa dirinya lemah dibanding orang lain.
You know this one. Hal-hal yang kamu hargai, yang kamu anggap penting dan kamu pegang teguh. Misalnya nilai kejujuran, kebenaran, dan keadilan.
Tidak harus sama dengan sifat si tokoh. Bisa saja dia pelitnya bukan main tapi dia menghargai sifat dermawan yang dimiliki orang lain.
Bisa saja tokoh tersebut memegang prinsip untuk selalu jujur dan membantu sesama, tapi ketika temannya membunuh seseorang dan meminta si tokoh untuk merahasiakannya sang tokoh harus memilih untuk jujur atau membantu temannya. Ketika salah satu prinsipnya dilanggar, si tokoh akhirnya mengalami emotional conflict.
Hal yang diinginkan si tokoh, baik yang terlihat maupun tidak terlihat. Misalnya ingin bertemu kembali dengan keluarganya, ingin mencari cinta sejati, ingin dihargai orang lain, dsb.
Tidak ada tokoh yang tidak menginginkan sesuatu, sekalipun si tokoh tidak tahu apa yang dia inginkan, penulis harus tahu persis si tokoh buatannya menginginkan apa.
Perasaan terbesar yang mereka rasakan sepanjang hidup yang telah mereka lalui. Sangat berhubungan dengan masa lalu si tokoh.
Misalnya: Depresi, kesepian, atau easy going.
Perwujudan dari sifat, keinginan, prinsip, dan hal-hal yang sudah saya tulis di atas. Tampilan luar dari sang tokoh. Setiap perbuatan yang dia lakukan akan mencerminkan apa yang sebenarnya tokoh itu alami dan percayai seumur hidupnya.
Misalnya: saat bohong bicaranya makin cepat, menggigit kuku saat gugup, mendengarkan musik saat gelisah, dll
Sikap yang saya maksud di sini adalah sikap normalnya sehari-hari. Bisa jadi si tokoh punya kelakuan seperti bangsawan di hal-hal terkecil sekalipun atau selalu kelihatan malas apapun yang dia lakukan
9. Masa lalu yang mempengaruhi hal-hal di atas
Masa lalu si tokoh yang memiliki peran besar dalam membentuk hal-hal di atas tadi. Misalnya si tokoh punya trust issue karena dulu dia dikhianati sahabatnya sendiri. Bisa juga si tokoh takut pada lelaki karena ayahnya sering menyiksanya waktu kecil.
Bagian ini tidak harus ditampilkan dalam cerita tapi penulis harus tahu apa yang menyebabkan sang tokoh menjadi seperti itu. Memasukkannya dalam cerita akan membuat pembaca mengerti kenapa mereka memiliki sifat tertentu tapi tidak semua peristiwa ini harus dijelaskan oleh penulis.
Hal-hal yang bisa ditambahkan nanti:
10. Penampilan: sederhana? Sepeti binaraga? Prince-like?
11. Gaya bicara: lembut? Cepat? Seperti orang marah-marah? Sering mengatakan kalimat-kalimat tertentu?
12. Hobi: kalian sudah tahu ini apa jadi tidak perlu dijelaskan
13. Kebiasaan/kemampuan khusus: menyipitkan mata saat tersinggung? bisa tidur seharian penuh? (I know I did)
14. Hal yang disukai & tidak disukai: the fun part. Just mix and match!
By the way, sebagai contoh ini adalah personality sheet Alex yang masih sederhana yang saya buat dengan poin-poin di atas. Kalian bebas untuk menambah detail sebanyak apapun. Tulisan ini menggunakan bahasa yang kayak tahu campur (Inggris-Indonesia) dan berisi spoiler. So read at your own risk:
Biasanya, setelah membuat personality sheet saya menyuruh seseorang membacanya hingga paham dan saya uji dia dengan pertanyaan sulit seperti pertanyaan di awal postingan tadi. Pertanyaan seperti: “jika si tokoh sakit dan sahabatnya membutuhkannya apa yang akan si tokoh lakukan?” Jika teman saya bisa menjawabnya saya bisa memberi tepuk tangan untuk diri sendiri. Omg akhirnya dia pahaammm, dia paham kepribadian tokoh gue setelah frustasi 3 jam nulis kayak gini.
Sebaiknya segala hal yang kamu tulis tadi berkaitan satu sama lain, tapi itu tidak harus juga kok karena seperti yang saya bilang barusan, manusia pun bisa menyukai atau membenci sesuatu tanpa alasan yang jelas. Yang terpenting di sini adalah supaya kalian sudah mendapatkan gambaran mengenai sifat tokoh yang dibuat. Jadi ketika kalian bingung mengenai reaksi tokoh dalam plot cerita, kalian bisa selalu kembali ke personality sheet ini dan mendapat jawaban yang kalian butuhkan.
Remember! Without personality, humans is just a mere of walking flesh.
Semoga postingan kali ini berguna~! :3