Pertemuan pertama yang tidak disangka.
Terbuai tatapan matamu yang sendu sedap. Lalu tergetar hati ini sambil bersedekap. Kaukah yang nanti membuat lengkap? Atau hanya menjadikan rasa seperti di sekap. Senang lalu lelap.
seen from Russia
seen from Russia
seen from China
seen from United Kingdom
seen from Uruguay
seen from United States
seen from Russia

seen from Saudi Arabia
seen from France
seen from United States
seen from China

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from Saudi Arabia

seen from Saudi Arabia
seen from China

seen from Malaysia
seen from China
seen from Saudi Arabia
Pertemuan pertama yang tidak disangka.
Terbuai tatapan matamu yang sendu sedap. Lalu tergetar hati ini sambil bersedekap. Kaukah yang nanti membuat lengkap? Atau hanya menjadikan rasa seperti di sekap. Senang lalu lelap.
Penantianku Membiru #II
Cerita ini terjadi di sekolah menengah pertama swasta. Bel yang berbunyi menandakan kegiatan belajar akan dimulai, suara entak kaki beriringan berjalan menuju kelas masing-masing. Saat langkah kaki bergerak, entah kenapa sepasang mata menoleh ke gerbang sekolah dan melihat seorang gadis polos yang turun dari mobil, dengan langkah yang penuh ceria gadis itu berlari menuju keruangan kelas. Paras wajah yang datar dan dengan kaca mata hitam yang melekat di kepala dan rambut yang diikat, membuat hati berangan - angan untuk menjadikannya gadis yang spesial. Jam kelas pun terasa lama jadinya, karena penantian akan jam istirahat, hendak untuk melihat dan mencari tau siapa gadis polos itu, dan berusaha mengingat setiap raut dan ekspresinya. Bel sekolah untuk jam istirahat pun berbunyi, hati yang tak sabar menunggu merangsang otak untuk memulai melangkahkan kaki, untuk memulai menemukan dan mencari tau siapa gadis polos itu, ketidaksabaran pun membuahkan hasil, gadis polos yang diinginkan hati ialah adik kelas, dan bernama Tamara Meryanna Saiska. Gadis polos yang menarik hati, penuh dengan keceriaan, dan senyum yang manis, membuat hati bingung dan bertanya, Bagaimana kesanggupan diri untuk mengenalnya ?. Waktupun berlalu dengan cepat, hampir tiap hari hati semakin bingung dan selalu menemukan jawabannya. Dan tak sabar menunggu hari esok, untuk melihat gadis yang sama.
Pertemuan Pertama
Siang itu, selepas salat Jumat, aku pulang ke rumah. Gawai berdering dan satu pesan masuk darimu. Kubaca lalu aku tersenyum. Segera aku mematut diri di depan cermin, tak lupa memilih pakaian terbaik untuk bertemu denganmu. Ada rasa senang yang hinggap, meskipun dibarengi takut yang menyergap. Maklum, pertemuan pertama.
Kurang dari sepuluh menit aku sampai. Sebelum masuk kedai itu, kupastikan dirimu telah datang. Kuperhatikan dari luar dan kucari-cari di manakah dirimu duduk. Beruntung kedai itu sepi, dengan mudah aku menemukanmu.
Aku melangkah dengan tenang, seraya menenangkan hati yang resah. Takut belepotan ketika berbicara denganmu. Baiklah, akhirnya aku duduk tepat di hadapanmu.
Memandangmu membuatku bersyukur tiada berkira. Betapa luar biasa nikmat Tuhan yang satu ini. Lebih dari ekspektasi. Ah, masya Allah. Terima kasih untuk kesekian kalinya.
Kuucap salam padamu. Kaubalas salam itu. Merdu. Suasana mencair dengan obrolan kita yang seru. Dari hal remeh temeh sampai pada inti pembahasan. Di akhir obrolan, kita berjanji untuk mempertemukan dua keluarga. Satu langkah pasti telah terlewati menuju restu dan doa di hari nan syahdu.
Setelah selesai, awalnya aku ingin langsung pulang. Tetapi, hatiku berkata lain. Aku mengikutimu untuk berbelanja. Ah, senang sekali rasanya. Kau tentu tak lupa kejadian kala itu. Jaketmu tertinggal. Beruntung pemilik kedai sigap mengembalikannya padamu.
Puas berkeliling untuk berbelanja di supermarket, kita akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Terima kasih untuk pertemuan hari ini, pertemuan yang selalu kuingat selamanya. Pertemuan dua insan bercita menggenap atas segala luapan rasa dalam dada. Sampai jumpa pada Ahad pagi di rumahmu.
Sampai berjumpa pada pertemuan selanjutnya.
Pertemuan Pertama, Kau yang Mencuri Hatiku
Kamu yang duduk jauh di persimpangan jalan Mencuri pandanganku tanpa segan Hembusan angin membawa tubuhku dengan ringan Dalam diam mataku merekam, seperti api yang menerkam kertas dengan baranya Begitulah cinta seketika hadir dengan indahnya Pandanganmu beralih kepadaku Hitam legam matamu menjamah diriku Membawaku hanyut dalam semu yang terengkuh Dan disitulah aku tahu, bahwa kamulah kamuku Seperti kaki yang tak berpijak pada bumi seperti tanah yang merindu pada hujan Dibalik sapa "Hai" yang terucapkan Aku menaruh pengharapan..
Bertemu Pendengar
Setelah enam tahun lalu diperkenalkan oleh seorang teman di lini masa. Saling menjadi followers dan following untuk masing-masing pertama kalinya.
Setelah lima tahun terakhir menjadi teman ber-sms, teman chatting, dan teman menelepon.
Setelah lima tahun ini menjadi teman berbicara, teman bercerita, teman bercanda, teman bermimpi, teman berbagi, teman berkeluh kesah, teman bersedih, teman berbahagia.
Setelah beragam kisah patah hatimu yang berulang pada lelaki yang berbeda. Setelah kisah cinta yang juga berulang dijatuhkan pada lelaki yang berbeda pula. Dia dia yang selalu diharapkan menjadi the last one in your whole life, the one and only, tapi nyatanya selalu berakhir tak bahagia.
Setelah beragam kisah serupa yang kuceritakan padamu, tentang aku yang selalu menjadi seseorang yang mencintai diam-diam. Berulang kali aku jatuh hati dan namun berulang kali juga patah hati, sama sepertimu. Namanya juga hati, harus diajari bagaimana rasanya jatuh yang baik, serta bagaimana rasanya patah yang baik. Agar terbiasa, agar kuat. Seperti pertemanan kita.
Setelah malam-malam panjang yang dihabiskan dengan berkisah via telepon. Kisah keseharian, kisah mereka di sekitar, kisah dia dia yang kita inginkan, kisah bahagia diselingi sedih. Setelah tawa, tangis, dan mimpi yang kita bagikan.
Setelah waktu-waktu di sela kerja yang diisi dengan chatting membahas beragam hal. Mulai dari kehidupan idola kita bersama, gosip masa kini, update pergaulan terbaru, hingga persoalan negara.
Setelah janji-janji pertemuan yang kerap terlontar namun tak kunjung terlaksana.
Setelah akhirnya kamu mengambil cuti kerja dan berlibur ke tempatku. Kita bertemu. April tahun lalu. Pertemuan pertama yang berkesan, karena akhirnya aku menjumpai seorang sahabat.
Aku bertemu pendengarku yang baik. Pendengar yang baik. Mendengar tanpa pernah memarahi. Menasehati tanpa menggurui. Pendengar yang tengah sama-sama belajar. Tentang hidup. Tentang cinta.
Terima kasih. Semoga pertemuan pertama bukanlah pertemuan terakhir kita. Semoga setelah ini, kesetelahan ini tidak berhenti.
Terima kasih, Ivro Vauryn Anggadhika (@ivrovauryne)