Pembiasaan
Kata ‘biasa’ akhir-akhir ini menjadi hal yang paling berbahaya-setidaknya menurut analisis saya. Bagaimana tidak?
Sifat keras kepala dan mau seenaknya manusia telah menjadikan kata ‘biasa’ menjadi sebuah pewajaran.
Dahulu, kata ‘biasa’ dijadikan alat untuk sebuah pembiasaan yang baik bagi manusia. Imam syafi’i, biasa mendengarkan Al-Qur’an sejak ia lahir karena ibunya yang terus mendengarkan Al-Qur’an. Lama-lama menjadi pembiasaan baginya untuk mendengar Al-Qur’an. dan pembiasaan itulah yang membuatnya bisa menjadi Hafidz di umur yang sangat kecil.
Okelah, jika kalian protes kepadaku. Itu kan sudah jaman dahulu kala, sebelum adanya era globalisasi. Wajar saja pembiasaan seperti itu. Benar kan, pertanyaan ini muncul karena sifat keras kepala kalian.
Baiklah, akan kuberi contoh yang lebih nyata.
Ada seorang anak, lahir dari keluarga yang tidak terlalu mendalami islam. Sejak kecil dipaksa untuk terbiasa oleh orang tuanya untuk menyaksikan sinteron televisi. yang isinya sangatlah tidak jauh dari orang pacaran. Sehingga itu sudah menjadi pembiasaan bagi dirinya sejak kecil, bahwa pacaran itu wajar.
Lalu kemudian, menginjak remaja, bersekolah dan bergaul dengan banyak orang-orang yang tertarbiyah, anak ini mulai terbiasa mendengar kajian. Dan sudah menjadi sebuah pembiasaan bagi dirinya untuk dekat dengan Sang Pencipta. sehingga sudah menjadi pembiasaan bagi dirinya untuk tidak menyentuh yang bukan muhrim, apalagi pacaran.
Bagaimana? satu contoh nyata, bukan? dan sekedar tambahan, anak ini bukan sekolah di sekolah Islam, namun sekolah negri. Jadi tidak ada alasan untuk mengelak.
Kembali lagi ke awal. Kalau sekarang, kebanyakan manusia menjadikan sebuah pembiasaan terhadap hal yang tidak seharusnya menjadi sebuah pewajaran.
Pembiasaan menyontek. orang yang tidak pernah menyontek sebelumnya, saat pertama kali menyontek akan sangat gugup. namun kemudian menjadi sebuah pembiasaan, dan lama-lama menjadi pewajaran. “Ah, biasa aja kok. Kemaren aja ga ketauan.”
Pembiasaan korupsi. Ada dua sisi dari jenis pembiasaan ini. Pertama dari yang melakukan korupsi. Awalnya tidak biasa, pertama kali melakukan dan terus menjadi sebuah pembiasaan, lama-lama menjadi pewajaran. “Dari kemarin sudah ambil uang rakyat, kalau mau ambil sekalian aja yang banyak.”
Sisi kedua dari yang mendengarkan. Pertama kali ada kasus korupsi, pendengar akan marah, ambil sikap, tidak terima, dan hal lain sebagainya. Namun karena korupsi sudah menjadi pembiasaan, lama-lama menjadi terbiasa-bukan wajar. “Korupsi lagi? ya ampun Indonesia udah biasa banget korupsi.”
Berbahaya bukan? hanya sebagian kecil dari contoh pembiasaan yang dilakukan masyarakat saat ini. Semua itu tergantung kemana kita membawa sebuah pembiasaan. Semoga pembiasaan bisa dijadikan pelajaran.













