Hijab Dulu atau Hati Dulu?
‘Hijab dulu atau hati dulu?’
Pertanyaan itu sudah ratusan kali aku dengar, ataupun dilontarkan kepadaku. Kegalauan muslimah ingin menghijab hati atau fisiknya terlebih dahulu, seringkali menjadi alasan penundaan untuk menjalankan perintah-Nya.
Alasan. Sekali lagi ku tekankan. Itu hanya alasan. Karena aku juga termasuk dari salah satu yang berhijab melalui proses. Jadi juga pernah memiliki alasan yang sama.
Percayalah, hijab itu bukan hanya perkara hati, namun perintah fisik.
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka.” (QS. an-Nûr:31)
Namun bukan berarti tidak memperbaiki hati. Perbaikilah bersamaan dengan memakai hijab secara fisik.
Karena jika fisik sudah tertutup oleh hijab, maka otomatis hati akan mengikuti. Ketika ingin berbuat dosa, maka seringkali teringat bahwa diri memakai hijab, sehingga menjadi urung melakukan dosa itu.
Lalu bagaimana dengan banyak orang yang sudah berhijab namun pergaulannya masih belum benar? Bukankah lebih baik tidak pakai sama sekali?
Ya didoakan saja. Setidaknya mereka sudah berusaha berhijab dan masih berusaha memperbaiki hati dan sikapnya. Justru lebih baik dia memakai jilbab, setidaknya kita tahu dia muslim dan bisa didoakan, bukan?
Berbicara tentang proses memakai hijab, aku teringat salah satu teman dekatku yang aku kenal sejak penerimaan mahasiswa baru dulu saat di kampus. Pertama kali bertemu dengannya dulu, ia masih belum berhijab kala itu. Kami selalu satu kelompok saat ospek. Dan takdirnya lagi, selama satu semester di semua mata kuliah kami satu kelas. Sehingga kami menjadi dekat dan menghabiskan waktu bersama. Seringkali saat bersama, dia melontarkan pertanyaan seputar hijab.
“Cit, gue pengen deh pake jilbab.” Ucap gadis itu suatu hari.
“Ya pake aja. Kan emang disuruh.” Jawabku datar.
“Tapi takut.” Aku memandangnya heran.
“Hem… entah deh. Kayaknya gue belom dapet hidayah.”
“Hidayah itu kan dicari. Bukan ditunggu. Kenapa ga dimulai aja? Sebagai pembuktian bahwa elu lagi ngejer hidayah?” Gadis itu terdiam. Menunduk perlahan dan berkata, “Iya sih…”
Dalam hati dulu, aku berpikir. Sepertinya dulu aku kelewatan mananggapi pertanyaanmu dengan menjawab terlalu ringan seperti itu tanpa tahu kondisimu. Dan tanpa bertanya terlebih dahulu apa yang membuatmu takut.
Lain waktu, gadis itu membahas lagi tentang hijab.
“Cit, gue pengen pake jilbab tapi gue pengen jelasin alesan kenapa gue takut.”
“Pertama, gue takut secara penampilan gue ga cocok pake jilbab. Gue takut muka gue bulet.” Aku mengernyitkan wajah mendengarkan alasannya yang pertama. Rasanya ingin segera membantah alasan tersebut, namun tidak sampai hati dan memilih mendengarkan lanjutan kalimatnya.
“Lalu alasan yang kedua, gue takut karena hati gue belom siap. Belom siap disini maksud gue adalah gue belom jadi perempuan baik. Gue khawatir nanti ketika gue pake jilbab dan sikap gue ga baik, orang-orang akan beranggapan malu-maluin tuh jilbab.” Aku terdiam, masih menunggu gadis itu menyelesaikan kalimatnya.
“Udah, itu alesan gue. Silahkan tanggepin, cit.”
“Hemm… untuk alesan pertama. Elu lebih khawatir mana, penampilan lu dihadapan orang lain atau dihadapan Allah? Untuk alesan kedua. Yaelah, peduli amat sama kata orang. Ga ada lagi orang yang sempurna. Masa iya sekali berhijab orang harus sempurna. Orang berhijab masih manusia keles. Wajar buat kesalahan. Yang terpenting kan berusaha perbaikin diri. Allah juga menghargai proses kok.”
Gadis itu hanya mengangguk-angguk mendengar tanggapanku. Aku paham dalam dirinya sedang berusaha mencari hidayah agar segera menutup auratnya.
Beberapa hari kemudian aku dan gadis itu mengikuti kajian kemuslimahan. Rasanya aku menyaksikan secara langsung dari sebuah kalimat yang berkata, ‘Apabila seorang hamba berjalan merangkak untuk mendekat, maka Allah akan berlari mendekatinya.’. Tema kemuslimahan saat itu adalah tentang hijab.
Aku masih ingat dengan baik saat itu, jumat siang setelah kajian itu, gadis itu duduk termenung di pojok musholla. Aku berjalan mendekat, menanyakan apa yang salah. Gadis itu mengangkat wajahnya. Aku kaget. Matanya berkaca-kaca.
“Gue bingung cit sama diri gue.” Aku menurunkan tubuhku untuk merangkulnya. Berusaha menenangkan isak tangisnya.
“Bingung, apalagi yang gue tunggu. Kenapa sesulit itu buat gue untuk berhijab?” Ucapnya sambil menangis. Aku hanya diam sambil menenangkannya. Dia orang pertama yang menangis didepanku karena frustasi ingin berhijab namun bingung karena keraguannya.
Itulah kenapa Rasul menyarankan umatnya untuk meninggalkan keraguan.
Setelah di hari jumat dia menangis, hari seninnya aku melihat gadis itu tersenyum dengan cerahnya. Dengan hijabnya.
Aku berjalan mendekat sambil tersenyum ke arahnya.
“Cantiknyaaaa….” Ucapku sambil tersenyum memandangnya.
“Hehe… Doain istiqomah ya. Bener juga ya, kenapa kemaren gue masih ragu. Padahal perintah hijab datangnya dari Allah langsung. Dibilang di Al-Qur’an bukan di hadits. Doain ya cit, hati masih pelan-pelan diperbaikin.”
“Saling mendoakan lah. Hati gue juga belom baik, wkwkw.”
Jika sekali lagi kau bertanya kepadaku hijab dulu atau hati dulu?
Jika keduanya bisa dibarengi lebih baik. Jika tidak, hijab saja dulu, yang penting mulai dulu. Kalau nunggu hati, maka kapan akan beres? Terlebih setan sangat sering membisikkan ke hati manusia. Mulai dari luar dulu juga tidak apa, bukan?