Pilihan Hidup
Antara keinginan dan kebutuhan seringkali hanya beda sekian mili, bahkan perbedaannya tampak samar. Seolah sama, padahal tidak.
“Sebenarnya, membedakan antara kebutuhan dan keinginan itu mudah. Ketika menginginkan sesuatu, kita coba biarkan dulu keinginan itu dipendam dalam hati beberapa hari. Jika sampai hari ke sekian kita masih ada rasa menginginkannya, bisa jadi itu benar-benar kebutuhan. Tapi, kalau beberapa hari kemudian keinginan itu menguap begitu saja, kamu lupa akan keinginanmu itu, ya berarti benar. Itu cuma keinginan, bukan kebutuhan.” Kurang lebih begitu nasihat guru kami pada suatu pertemuan di suatu pagi.
Persoalan mencermati dengan benar antara kebutuhan dan keinginan bukan hanya diaplikasikan dalam membeli barang saja seperti yang banyak terjadi pada kaum hawa yang hobi menumpuk keranjang di aplikasi belanja online. Tidak semua kaum hawa sih, cuma ini dari pengamatan saya yang banyak menemukan kawan-kawan saya rata-rata begitu.
Persoalan mencermati dengan benar antara kebutuhan dan keinginan juga bisa diaplikasikan dalam berbagai situasi kehidupan. Mencermati antara kebutuhan dan keinginan adalah perkara menentukan keputusan atas pilihan-pilihan dalam kehidupan yang nantinya akan memberikan konsekuensi atas apa-apa yang diputuskan.
Bukankah keseharian kita adalah persoalan tentang menentukan pilihan? Memilih antara bangun pagi atau bangun siang. Memilih untuk beraktivitas di pagi hari atau tetap memeluk guling hingga siang bolong. Memilih untuk bahagia atau bersedih hati. Memilih untuk terus membenci atau memaafkan. Memilih untuk diam atau bergerak. Dan berbagai pilihan lain yang mungkin jauh lebih kompleks.
Tapi, seringkali kita terjebak. Kita mengira kita memilih pilihan yang tepat, ternyata salah. Bukan hanya sesekali, melainkan berkali-kali. Bukan karena tidak tahu atas konsekuensi dari pilihan kita, tapi kita terlalu menuruti hawa nafsu. Akhirnya pilihan-pilihan yang kita ambil adalah pilihan yang membawa kita kepada konsekuensi yang memilukan.
Menyesal? Setelah itu menyesal. Tapi herannya diulangi lagi. Tenang, setelah ini kita masih bisa memperbaiki semuanya. Coba lagi, tentukan pilihan yang tepat agar konsekuensi yang kita terima membahagiakan di masa depan.
Teruntuk kamu yang sedang dihadapkan pada pilihan-pilihan rumit, semoga pilihanmu tepat. Semoga kamu bisa menjalaninya dengan renteten konsekuensinya dengan keikhlasan:) Bismillah.















