Kamu tidak harus melupakan segalanya. Tentang orang-orang yang menyakitimu, orang-orang yang mengambil keuntungan darimu, orang-orang yang mengabaikanmu, orang-orang yang tak peduli padamu, orang-orang yang meremehkanmu, orang-orang yang tak menghargai dirimu. Tidak semua bisa kamu terima, aku tahu. Memang jika dirasa lagi, itu menyakitkan. Bila diingatkan kembali, itu amat menyesakkan dada.
Saat kamu telah memberikan seluruh hatimu padanya, lalu mereka berpaling begitu saja. Ketika kamu menyampaikan segala perasaan yang begitu sulit kamu ungkapkan, mereka pura-pura tak mendengar sama sekali. Di waktu kamu menguatkan diri setelah berpikir terlalu lama atas ketakutan penolakan dari mereka, dan ternyata mereka mengabaikan usahamu begitu saja. Aku tahu, bagaimana rasanya.
Aku bilang, tidak apa-apa.
Kamu sudah melakukan terbaikmu. Kamu sudah bertumbuh. Atas luka-luka yang telah mereka beri. Yang sudah kamu dapatkan.
Tidak seharusnya kamu menolak perasaan sakit itu. Tidak pula kamu harus membentengi dirimu dari rasa tidak nyaman itu. Tidak juga kamu membenci hal-hal berkaitan dengan kejadian itu lantas menutup dirimu dengan benteng yang kokoh. Tidak harusnya kamu melupakan segalanya. Tidak.
Sebab kamu harus mulai belajar melihat kembali halaman yang kelabu itu. Terhadap hal yang membuatmu begitu tersakiti hingga terasa sulit untuk bernapas. Titik terburuk saat mereka semua menyakitimu tanpa ampun. Sedikit demi sedikit. Perlahan demi perlahan. Kamu harus mulai melihat dari segala sisi kejadianmu. Menarik lebih jauh ke atas. Sebab semua hal yang terjadi bisa kita dapatkan pelajarannya hanya saat kita kembali melihat ke belakang dengan hati yang lebih tenang dan dengan cara yang lebih luas.
Lalu lihatlah kembali, bahwa rasa sakit itu sudah tidak terasa sesakit dulu. Saat kamu mengetahui bahwa mereka melakukan itu karena mereka harus melakukannya, tidak lain dan tidak bukan untuk diri kita sendiri. Karena, lihatlah dirimu sekarang.
Betapa hebatnya kamu yang telah bertahan sejauh ini. Setahun, lima tahun, sepuluh tahun, lima belas tahun, atau mungkin dua puluh lima tahun yang lalu. Kamu bertahan hingga detik ini, membaca tulisan ini.
Kamu mungkin tidak sadar sudah berapa ribu purnama yang sudah kamu lewati. Berapa putaran jarum jam yang berjalan kembali ke angka 12. Sudah lebih miliaran, triliunan bahkan kuadriliun helaan napas yang kamu lakukan setiap saat. Kamu masih ada di dunia ini. Lihatlah, kamu hebat.
Kamu melalui hari-harimu menjadi bulan, lalu berubah tahun. Meski sesekali ingatan tentang rasa sakit itu sering menyapa, lihatlah, kamu tetap bertahan hingga di titik ini.
Sudah waktunya kamu mulai merelakan rasa sakit dan perasaan tidak nyaman itu pergi dalam memorimu. Ingatlah bahwa semua itu yang menempamu menjadi seseorang yang saat ini berdiri di sini. Anggaplah semua orang yang melakukan hal buruk padamu waktu itu, mereka yang membantumu menjadi lebih kuat di waktu ini. Buatlah keyakinan bahwa kamu menjadi lebih baik, tegar, berani, siap, peduli, lebih menghargai sesuatu, lebih memerhatikan hal kecil, lebih taat pada Pencipta, lebih penyayang dan lebih-lebih lainnya. Yakinlah kamu sudah berbeda level dari dirimu yang dulu dan sekarang jauh diatasnya. Maka relakanlah semua yang sudah terjadi dihidupmu.
Kamu tidak harus melupakan segalanya, tapi kamu harus mengingat segalanya untuk membuatmu bersyukur karena telah menjadikan dirimu saat ini.
Terima kasih sudah bertahan,