Penyebaran Polusi Udara Yang Semakin Memburuk di Jakarta Dikhawatirkan Akan Mengancam Kesehatan Masyarakat
Kota yang mendapatkan julukan sebagai kota J-Town di dunia Internasional ini sekarang sedang menghadapi satu masalah yang sebenarnya sempat disepelekan oleh masyarakat karena hanya dianggap sebagai ‘kabut’ belaka. Pada tahun 2022, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Dodo Gunawan mengatakan terlihat kabut di langit DKI Jakarta karena peningkatan aktivitas kendaraan. "Untuk kualitas udara ada peningkatan karena aktivitas kendaraan, yang mana masyarakat sudah mulai beraktivitas secara normal," ujar beliau dilansir Antara, Rabu (30/3). Jakarta memang terkenal sebagai kota yang sangat sibuk dan padat, terutama di jalanannya. Maka dari itu Jakarta sangat dikenal dengan kemacetannya, tidak heran apabila kabut di langit-langit Jakarta mulai menjadi polusi bagi kota tersebut.
Menurut Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) KLHK, Sigit Reliantoro, ia mengatakan bahwa penyebab polusi udara di Jakarta adalah karena telah dipengaruhi angin dari wilayah timur. "Jadi kalau dari segi siklus memang bulan Juni, Juli, Agustus itu selalu terjadi peningkatan pencemaran di Jakarta karena dipengaruhi oleh udara dari timur yang kering," kata Sigit di Direktorat Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, Kebon Nanas, Jakarta Timur, Jumat (11/8/2023). Selain itu, memang tidak dapat dihindari bahwa salah satu penyebab yang selalu ada di dalam isu polusi Jakarta yaitu berkaitan tentang kendaraan.
Faktanya, sektor transportasi telah menyumbang emisi terbesar, yakni hingga 44%. "Jadi kalau dari segi bahan bakar yang digunakan di DKI Jakarta itu bahan bakar itu adalah sumber emisi, itu adalah dari batu bara 0,42 persen, dari minyak itu 49 persen, dan dari gas itu 51 persen. Kalau dilihat dari sektor-sektornya maka transportasi itu 44 persen, industri 31 persen industri energi, manufaktur 10 persen, perumahan 14 persen, dan komersial 1 persen," ujar Sigit Reliantoro. Apabila lebih di detailkan lagi, ternyata SO2 (sulfur) memang berasal dari PLTU, manufacturing. Bapak Sigit Reliantoro mengatakan bahwa manufacturing PLTU terdapat 61,90 persen, sedangkan yang lainnya yaitu NoX, Co PM 10, PM 2,5, black carbon, kemudian organic carbon itu sebagian besar disebabkan oleh kendaraan bermotor," papar Sigit lebih lanjut. Selain itu, menurut Direktur Jenderal Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum) Kementerian LHK, Rasio Ridho Sani memaparkan, ada dua sumber utama polusi udara di Jakarta dalam beberapa pekan terakhir, yakni berasal dari asap kendaraan bermotor dan pembangkit listrik.
"Pertama, sumber-sumber kendaraan bermotor. Kedua, sumber-sumber dari kegiatan industri, termasuk di dalamnya pembangkit listrik maupun kegiatan-kegiatan pembakaran terbuka yang dilakukan oleh masyarakat maupun pihak-pihak lainnya," kata Rasio dalam konferensi pers di kantornya, Rabu (23/8/2023). Berdasarkan dari pernyataan-pernyataan tersebut, Presiden Indonesia, Joko Widodo, membuka suara atas polusi akhir-akhir ini. Bapak Jokowi juga menyerukan gotong royong kepada semua pihak untuk mengatasi polusi di wilayah DKI Jakarta. "Ini memang perlu kerja total, kerja bersama-sama tetapi memerlukan waktu, nggak bisa langsung," kata Jokowi saat berkunjung ke SMKN Jawa Tengah, Semarang, Rabu (30/8/2023). Bapak Jokowi juga menyarankan masyarakatnya terutama yang berada di wilayah DKI Jakarta untuk beralih terlebih dahulu dari menggunakan kendaraan pribadi ke transportasi umum atan menggunakan kendaraan listrik. Selain itu, bapak Jokowi rencana akan menutup seluruh pabrik industri yang memungkinkan untuk memperburuk polusi yang ada di wilayah DKI Jakarta sebagai salah satu penanganan agar polusi ini tidak semakin parah.
Apabila hal ini terus berlanjut dan tidak adanya kerja sama para warga untuk mengurangi polusi ini, maka tentu ini akan mengancam kesehatan para warga. Umumnya, dampak pencemaran udara dari asap kendaraan, asap pabrik, asap rokok, dan lain-lain bisa memicu terjadinya gangguan pernapasan, seperti asma, ISPA, dan kanker paru-paru. Selain itu, pencemaran udara juga bisa berakhir pada berkurangnya kadar oksigen di dalam tubuh manusia (prudential.co.id). Kenapa hal itu bisa terjadi? Faktanya, tidak sedikit kasus yang muncul tentang masalah sistem pernafasan ini berhubungan dengan polusi udara. Beberapa penelitian lokal di Indonesia pun menunjukkan polusi udara berhubungan dengan masalah kesehatan paru seperti penurunan fungsi paru (21% sampai 24%), asma (1,3%), PPOK (prevalensi 6,3% pada bukan perokok), dan kanker paru (4% dari kasus kanker paru).
Bayangkan apabila para warga dan masyarakat tidak ada yang ingin sadar diri terhadap kemungkinan buruk yang akan terjadi kepada mereka dalam mengatasi polusi ini, maka akan menjadi sulit bagi seluruh masyarakat terutama pemerintah dalam menangani isu ini. Maka dari itu, walau memang akan membutuhkan waktu yang lama, ujar bapak Jokowi, tidak ada salahnya bagi kita untuk mencoba dan membangun semangat berjuang agar polusi yang ada di Jakarta tidak semakin parah hingga kemungkinan yang buruk adalah sampai ada korban jiwa. Sebagai pelaku yang berperan serta atas kejadian yang terjadi di wilayah kita, maka akan menjadi tanggung jawab bagi kita semua untuk merawat dan menjaga serta berpikir luas agar apabila ada hal-hal atau isu-isu seperti ini kita dapat menelaah dan mengetahui apa yang terbaik untuk kita lakukan agar kita bisa menjadi masyarakat yang berguna bagi bangsa dan negara.










