Empati - Part 1
Setiap manusia berakal pasti mampu untuk menunjukkan empati terhadap sesama. Berempati itu mudah selama kita mau mengenali masalah yang dihadapi orang lain. Munculnya empati tidak terpengaruh oleh jarak. Artinya kita mampu berempati terhadap orang jauh, asalkan kita mengenali masalah yang dihadapi orang jauh itu.
Namun berempati dengan optimal tidak semudah seperti yang kita bayangkan. Sebab, berempati selalu diiringi dengan konsekuensi. Sebagai contoh, katakanlah kita berempati terhadap kesehatan orang lain. Maka kita tidak mungkin membuat asap yang menganggu kesehatan orang lain. Namun mengapa kita melihat banyak perokok yang membiarkan asap kreteknya tercium oleh orang lain. Jawabannya adalah karena perokok tersebut tidak berempat terhadap kesehatan orang. Sebab mereka tidak mau mengorbankan keinginan mereka untuk merokok di manapun demi menjaga kesehatan orang di sekitarnya.
Di luar itu, ternyata masih ada tipe perokok yang menghindari merokok dekat orang lain. Alasannya karena perokok itu masih memiliki emapti. Sebagai konsekuensinya, sang perokok harus mengurangi intensitas merokok. Sebab ia tidak mungkun bisa menghindari interaksi antar manusia sepanjang hari. Jika perokok tersebut terus meningkatkan empatinya, maka ia akan berhenti merokok. Sebab selama orang-orang masih merokok sekalipun itu jauh dari orang, mereka akan tetap membahayakan orang lain karena memperburuk kesehatan diri hingga merepotkan orang juga.














