Flying...
"Until you spread your wings you have no idea how far you’ll fly.”
Seekor elang tidak akan pernah terukur seberapa jauhnya ia terbang, sebelum ia merenggangkan dan mengepakkan sayapnya hingga sampai ke tujuan.
Seorang pelari profesional tidak akan pernah terukur seberapa jauh ia berlari sebelum ia melangkahkan langkah pertamanya, lalu berlari kencang hingga ke garis finish.
Atau seorang pelukis tidak akan pernah bisa dinilai seberapa indah karyanya, sebelum ia menggoreskan tinta pertamanya hingga menghasilkan sebuah karya.
Terkadang, diri kita hanya perlu melakukan hal sederhana untuk dapat terbang. Terbang meraih ekspektasi dan mimpi-mimpi kita. Bicara soal ekspektasi dan mimpi, saya teringat ucapan Dosen saya, Ibu Endang Asliana, " Manusia itu mimpi aja takut, padahal mimpi itu gratis loh..."
Benar, kenapa kebanyakan manusia takut untuk ber-ekspektasi?
Tidak jarang kita dengar ungkapan, "udahlah, jalanin aja hidup yang sekarang". "buat apa ber-ekspektasi kalo hasil akhir (realita) nggak pernah sesuai dengan ekspektasi", dan ungkapan-ungkapan lainnya.
Yups, banyak orang yang mengalami hal seperti ini bahkan saya juga pernah berfikir seperti ini, ini merupakan sebuah masalah. Bagaimana mau terbang, kalau realitanya kita nggak punya sayap. Setiap manusia pasti punya hope to be better, harapan untuk menjadi lebih baik lagi, apapun itu bentuknya, kepribadian, finansial, pengetahuan, dll. Hal ini sama dengan bagaimana kita mau menuju penghidupan yang lebih baik,tapi kita tidak mau berupaya menuju penghidupan yang lebih baik tersebut.
Kita akan selalu dihadapkan dengan realita kehidupan, yang isinya adalah masalah dan segala hambatan-hambatan yang menghalangi kita untuk mencapai ekspektasi kita. Disinilah sikap dan mental kita menjadi salah satu faktor penentu, meninggalkannya atau memperjuangkannya.
Idealnya, ketika kita berani ber-ekspektasi, kita juga berani memperjuangkaannya. Karena ekspektasi adalah sebuah semangat hidup, semangat untuk meyakini bahwa hidup kita memiliki tujuan.
Berani memperjuangkan, berarti kita berani berproses, berani menikmati dan mencintai segala proses dalam mewujudkan ekspektasi kita. Karena kebanyakan manusia hanya mau menikmati hasil akhir, tanpa mau menikmati proses.
Berproses adalah persoalan waktu, secepat atau selambat apa pun, kita akan mengetahui apakah ekspektasi kita sudah benar atau belum benar, karena ternyata ada takdir Maha Kuasa yang juga menjadi penentunya.
Tenang saja, Upaya (ikhtiar) kita tidak akan sia-sia, itulah mengapa kita harus selalu menyandingkan harapan (do'a) dan upaya (ikhtiar) kita dengan tawaqal (berserah), karena ini yang tidak akan membuat kita kecewa.
"Tuliskan semua mimpi dengan pensil. Dan berikan penghapusnya pada Allah, Biarkan Allah menghapus bagian yang salah dan menggantikannya dengan sesuatu yang lebih indah"
A®-27 Rabiul Akhir 1440 H













