Ada siswa yg nanyain aku gegara motorku haha. Katanya wajahku sangar. Mgkn karena jarang senyum ya jadi sangar 😂 #praktikan #oberschule #lehrerin #kein #Lächeln (at SMA Negeri 1 Kepanjen)
seen from Canada
seen from United States
seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from Canada

seen from Singapore
seen from China
seen from United States

seen from United States
seen from Malaysia
seen from T1
seen from Türkiye
seen from Canada
seen from Australia
seen from United States

seen from South Africa
seen from Australia

seen from United States
seen from Singapore
seen from China
Ada siswa yg nanyain aku gegara motorku haha. Katanya wajahku sangar. Mgkn karena jarang senyum ya jadi sangar 😂 #praktikan #oberschule #lehrerin #kein #Lächeln (at SMA Negeri 1 Kepanjen)
Hilangnya yang ‘dulu’
Sebentar lagi minggu tenang kandas. Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, maka nikmat minggu tenang mana yang kau dustakan? Hari ini Yogyakarta semakin syahdu dengan guyuran hujan sepanjang hari semenjak subuh tadi. Agaknya langit sedang asyik sampai membuat orang-orang tumbang akhir-akhir ini. Panas-mendung-gerimis-deras bisa satu paket didapatkan dalam satu kali perjalanan berangkat dari rumah menuju kampus. Dari basah kuyup sampai kering lagi yang akhirnya memang tubuh sedang diuji imunitasnya. Mau tak mau memang tubuh harus beradu ketahanannya karena UAS dan praktik lahan didepan mata.
Sebelum minggu tenang ini sudah nampak wajah-wajah muak bosan menjalani kuliah. Ntahlah, semacam sindrom ingin cepat nikah lulus. Mungkin aku pun salah satu yang mempunyai wajah itu. Masih teringat saat dulu semester 2, saat penempatan praktik klinik di rumah sakit terasa sangat mendebarkan sekaligus menyenangkan. Banyak sedikit berbeda dengan kondisi saat ini.
Adakah yang salah dengan mahasiswi yang katanya semester tua ini? Atau ini adalah proses yang wajar dialami?
Sedikit flashback. Semester 3, praktik klinik di puskesmas. Pagi itu hari pertama dinas pagi, diawali dengan survei lokasi satu hari sebelumnya, rasanya pagi itu masih melekat erat jiwa mahasiswa-yang-haus-akan-pengalaman berangkat menggunakan seragam kebangsaan lengkap dengan atributnya. Bergegas menuju puskesmas dan tiba di depan gerbang pukul 06.30. Yakin tidak terlambat, lebih dari itu ternyata gerbang masih terkunci dan tidak nampak seorangpun penjaga puskesmas yang bisa dimintai tolong membukakan gerbang. Tak berapa lama kemudian datang seorang bapak membukakan gerbang, habis mengantar anaknya sekolah ternyata. “Puskesmas bukanya jam setengah 8 mbak, tapi biasanya jam 7 sudah ada yang datang”, kata bapak itu. Okelah dihari pertama aku menunggu sekitar satu jam sebelum bertugas. Praktik kali ini kami dijatah satu bulan oleh kampus untuk merodi mengabdi di puskesmas dan mengejar target yang sudah ditentukan. Target pada praktik ini adalah seputar kehamilan, imunisasi, dan KB. Kebetulan puskesmas yang aku tempati adalah puskesmas rawat jalan, tidak menyediakan fasilitas persalinan. Berbeda dengan beberapa temanku yang mendapatkan puskesmas rawat inap yang tersedia fasilitas persalinan, untuk mahasiswi semester 3 saat itu pengetahuan kami terhadap proses persalinan tidak lebih dari tayangan video melahirkan yang kami tonton di youtube. Jadi betapa beruntungnya yang bisa mendapat kesempatan melihat persalinan pada saat itu, padahal kami belum ada target persalinan.
Masih tentang target, setiap target yang kami dapatkan harus dibuat laporan tulis tangan di kertas folio bergaris dalam bentuk Asuhan Kebidanan (askeb) dan dikonsulkan ke pembimbing klinik dari puskesmas baru setelahnya dikonsulkan ke pembimbing akademik dari kampus. Beberapa waktu lalu, aku membuka kembali target-target yang sudah ku capai itu, senang membacanya. Memang tak terasa sudah menjalani banyak praktik sampai ada di semester 7 ini.
Dini hari ini terlintas perkataan seseorang, “tanpa disadari sifat mahasiswa itu idealis, akan ada saatnya mereka akan menjadi realistis”. Hmm, ini bukan soal idealis dan realistis bagiku. Semoga juga bukan soal omong kosong yang terucap dari mahasiswi semester tua.
Lalu, kemana perginya jiwa-jiwa mahasiswi praktikan yang datang ontime bahkan kelewat ontime sampai pintu belum dibuka?
Kemana sembunyinya mahasiswi praktikan yang ‘kejar target’ dengan usaha banget nyari kasus?
Sebelum penerjunan semua mahasiswa harus mengikuti ujian OSCE sebagai syarat mengikuti praktik lahan. Barang siapa tidak lulus, tidak dapat mengikuti praktik lahan dan harus mengulang tahun depan. Ujian ini semacam uji kelayakan sebelum dilepas ke pasien langsung. Dulu, waktu luang sebelum ujian ini mereka berbondong-bondong memenuhi lab untuk latihan. Sekarang? Mereka menjadi anak yang lebih berbakti karena memilih untuk pulang kampung demi memanfaatkan waktu luang karena hari liburnya terenggut oleh praktik.
Dulu, saat pembekalan sebelum penerjunan di lahan praktik, mahasiswa memenuhi ruangan pembekalan dimulai dibarisan depan, sekarang? Mahasiswa menjadi lebih rendah hati dengan mempersilakan teman yang lain lebih dulu datang dan duduk didepan sementara ia mengalah untuk datang akhir dan duduk dibelakang.
Dulu, pembagian rumah sakit menjadi sangat mendebarkan, sekarang? Semua ikhlas ditempatkan dimana saja sambil terselip doa agar mendapatkan tempat yang strategis supaya bisa disambi garap tugas akhir dan skripsi.
Dulu, mereka saling cemburu karena melihat teman yang lain sudah lebih dulu bisa lihat persalianan sebelum ditargetkan, sekarang? Boro-boro cemburu, sekarang mereka lebih dermawan dengan bersedekah pasien kepada teman yang lain.
Dulu, setiap ada pasien inpartu semua praktikan yang jaga berebutan untuk menolong persalinannya, sekarang? Mereka semakin dekat dengan Tuhan dengan selalu berdoa semoga saat shift jaganya tidak ada yang lahiran.
Dulu, pasien melahirkan adalah langka di puskesmas. Sampai mereka rela meninggalkan nomor hp di meja nurse station UGD dan bersedia menjadi praktikan on call yang siang malam tunggu panggilan jika ada pasien inpartu perawat jaga akan menelpon praktikan dan mereka segera meluncur ke puskesmas untuk menolong persalinan. Sekarang? Mereka membuat citra menjadi mahasiswa sibuk agar tidak diminta kembali jaga diluar jadwal shift mereka.
Dulu, laporan Askeb terurai rintik-rintik dengan rapi dan sangat lengkap, sekarang? Mereka mengutamakan efektivitas dengan menulis laporan sesingkat, sepadat, dan sejelas mungkin karena tujuan utama adalah syarat minimal target terpenuhi.
Dimana jiwa-jiwa praktikan ‘dulu’ ini? Hilang ditelan realita bahwa praktik kali ini harus disambi dengan mengerjakan tugas akhir dan skripsi diwaktu yang bersamaan?
Dimana jiwa-jiwa praktikan ‘dulu’ ini bisa ditemukan? Apa mereka ada dibalik alasan dari 250 target, mereka sudah mencapai 188 yang berarti 75% dari target sudah terpenuhi, dengan begitu sudah mencapai syarat minimal target agar bisa lulus?
Kemana larinya jiwa-jiwa praktikan ‘dulu’ ini? Sibukkah mereka dengan perasaan gelisah mereka karena melihat kawan di fakultas lain sudah seminar proposal sedangkan mereka mulai skripsi aja belum?
Apapun alasannya, dimanapun mereka berada, jiwa-jiwa ‘dulu’ itu sangat dirindukan dan dibutuhkan :) satu semangat yang pasti adalah ketika menempatkan semuanya untuk ibadah. Semoga bukan omong kosong. Jika alasan mereka semua adalah mengenai skala prioritas, maka tidak akan pernah ada kata salah baginya. Tulisan ini hanya karena balada praktikan yang kurang piknik. Tidak semua dari mereka seperti yang tertulis diatas, tapi tidak sedikit juga yang seperti tertulis diatas. Ambil positifnya aja. Selamat pagi.
4 Desember 2016 | 01.30
#birthday #cake dari #praktikan #farset #B1 .. #surprise on the #morning :3