Sebuah Projek dari Mbak Nida dan Mbak Sarah untuk membantu para singlelillah mempersiapkan diri menuju pernikahan. Ini adalah bacaan yang tepat bagi muslim/muslimah yang belum siap untuk membaca buku yang lebih berat (buku fiqh). Kayaknya, sekarang kalau bicara tentang pernikahan, sudah bukan waktunya untuk dicie-ciein ya. Karena menikah merupakan sebuah ibadah seumur hidup, proses belajar sepanjang hayat, dan karier paling panjang bagi seseorang, jadi harus dipersiapkan sebaik mungkin. Orang yang mempersiapkan pernikahan sejak dini bukan berarti kebelet untuk nikah, tapi mempersiapkan diri lebih awal jauh lebih baik dan akan membantu kita untuk lebih siap saat jodoh datang menjemput. Karena perihal jodoh kita tidak pernah tau kapan datangnya kan.
Buku ini dibagi menjadi 4 bagian. Bagian pertama tentang apa-apa yang harus dipahami sebelum memutuskan untuk menikah, bagian kedua tentang persiapan menuju pernikahan, bagian ketiga tentang perjalanan menuju pernikahan (ta’aruf), dan bagian terakhir tentang kisah rumah tangga muda kedua penulis buku ini.
“Menikah adalah sarana ibadah kepada Allah. Persiapan adalah ikhtiar terbaik seorang hamba Allah. Kesiapan timbul karena keyakinan atas ketetapan Allah.” (Nida Muthi Athifah)
Nah, sebelum membicarakan mengenai persiapan menikah dan teman-temannya, buku ini mengajak kita untuk terlebih dahulu mengenal diri sendiri. Ya, kita harus paham siapa diri kita dan untuk apa kita diciptakan di dunia ini. “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah kepada-Ku”(QS: adz-Dzariyat;56). Selain itu, tujuan penciptaan manusia juga untuk menjadi khalifah di muka bumi ini (Qs. Al Baqarah: 30). Di sini kita harus sadar sepenuhnya bahwa kita diciptakan untuk beribadah, dan salah satu saran beribadah kepada Allah adalah melalui pernikahan.
Kemudian kita harus punya alasan untuk menikah. Nah ini, niatnya harus benar ya, untuk beribadah kepada Allah. Kalau selama ini niat kita untuk menikah masih yang lain, coba diluruskan dulu niatnya. Terus, apakah kita harus segera menikah? Jawabannya bisa iya, bisa tidak juga. Karena dalam islam ada lima hukum menikah, yaitu:
Wajib: apabila seseorang telah mampu untuk menikah dan jika tidak segera menikah dikhawatirkan akan berbuat zina.
Sunah, apabila seseorang ingin menikah, tapi dia mampu mengendalikan diri dari berbuat zina.
Makruh, apabila seseorang memiliki cukup kemapuan atau tanggung jawab untuk berumah tangga serta dapat menahan diri dari perbuatan zina, namun tidak memiliki keinginan atau tekad yang kuat untuk memenuhi kewajiban sebagai suami/istri.
Mubah, bila seseorang ingin dan mampu untuk menikah. Jika tidak menikah, dai mampu menahan diri dari perbuatan zina. Jika menikah, dia mampu memenuhi kebutuhan suami/istri.
Haram, jika tidak memiliki kemampuan menikah. Walaupun dia punya keinginan untuk menikah, tapi masih mampu untuk menahan diri dari perbuatan zina.
Kita ada di kondisi yang mana?
Dan sebelum memutuskan untuk menikah, kita sudah harus selesai dengan diri kita sendiri. Terutama urusan kita dengan masa lalu, baik dengan orang lain ataupun dengan diri kita sendiri di masa lalu. Yuk, coba kita tengok sebentar diri kita di masa lalu. Jika ada luka, mari sembuhkan dan maafkan. Berdamai dengan diri sendiri, yuk!!!
Selanjutnya, kita ngobrolin tentang persiapan menikah. Apa aja bekal yang harus dipersiapkan? Persiapan ilmu, mental (psikologis), spiritual, persiapan menjalani peran, fisik, dan finansial, serta persiapan sosial. Semua persiapan ini bisa kita dapatkan dengan membaca buku, mengikuti kajian atau seminar, bahkan dari kehidupan sehari-hari kita bisa belajar untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan pernikahan.
Menentukan target menikah? sah sah saja, tapi jangan terlalu kaku juga, karna kembali lagi perkara jodoh hanya Allah yang tau. Kriteria calon pasangan? Silahkan buat kriteria calon seperti apa yang kita inginkan. buat kriteria yang bisa ditolerir dan tidak bisa ditolerir, karena tidak ada manusia yang sempurna jadi ada beberapa hal yang bisa dinomorduakan. Rendahkan ekspektasi dan sederhanakan keinginan, supaya tidak kecewa. Nah, persiapan lain yang tak kalah penting adalah merancang visi misi pernikahan. Rumah tangga ibarat sebuah organisasi yang jalannya mengikuti visi misi yang dibangun sejak awal pernikahan. Makanya penting untuk mencari pasangan yang se-visi, agar perjalanan rumah tangga selalu berkah.
“Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta. Semoga kita bertemu pada visi yang sama terhadap Al Qur’an, keluarga, dan pendidikan.” (Randy Mandala)
Di buku ini juga dibahas cara menyampaikan keinginan menikah pada kedua orang tua. Biasanya kita malu atau bahkan takut ya untuk membicarakan keinginan menikah kepada orang tua. Nah tipsnya adalah berbicaralah dengan adab yang baik, carilah waktu yang tepat untuk berbicara, lakukan secara terus menerus, berkaca atau introspeksi diri, dan berdoa. Sebagai anak pasti kita paham karakter orang tua kita seperti apa, jadi pintar-pintarlah memilih situasi untuk berbicara tentang pernikahan ini.
Sebelum menikah, pilih pacaran atau ta’aruf? Pacaran jelas dilarang ya, tapi ta’aruf juga bukan satu-satunya jalan menuju pernikahan. Yang terpenting sebenarnya kita tidak melanggar norma dan mendekati maksiat, seperti berkhalwat. Kalau kita ingin memiliki pernikahan yang berkah, maka harus ditempuh dengan proses yang berkah juga. Mulai dari ta’aruf, khitbah, hingga walimah.
Nah, untuk yang saat ini sedang menunggu jodohnya, yuk pantaskan diri kita. Jadi produktif, maksimalkan peran kita sebagai hamba Allah, sebagai individu di masyarakat, dan sebagai anak tentunya sebelum menambah peran sebagai suami/istri dan sebagai orang tua. Jangan merasa iri melihat teman-teman kita yang sudah menikah. Menikah bukan ajang balapan. Tidak harus tergesa, namun disegerakan. Wallahu a’lam.