Kira-kira pada tahun 97-an, aku tak sengaja mendengar nasihat simbah kepada seseorang yang tak kuketahui persis personalitasnya di sebuah dusun yang belum memasang aliran listrik dari PLN. Simbah menuturkan nasihatnya dengan kelembutan khas Jawa: "Le, sekolahlah ke Jogja. Raihlah gelar doktorandus untuk mengangkat derajat keluarga. Setelah itu, jadilah priyayi di dusun ini..."
Tiap ujaran yang disampaikan simbah kepada pemuda--kira-kira berusia 18 tahun--samar-samar terrekam oleh ingatanku. Meski tak sepenuhnya persis sama isi nasihat beliau, setidaknya kata "priyayi" itulah yang membuatku mengerenyitkan dahi tanda tak tahu menahu maknanya.
Barulah ketika aku masuk ke bangku sekolah dasar kelas 3, kata yang tak kumengerti itu malah ditambah dengan pertanyaan lain: apa kaitannya antara "priyayi" dan "meraih doktorandus?" Beberapa tahun setelah itu, kubiarkan pertanyaan asing tersebut mengendap dipikiranku.
Mulai masuk universitas, muncul lagi pertanyaan yang telah mengendap beberapa tahun sebelumnya itu ketika sedang belajar di kelas. Namun, pada kesempatan tersebut, jawaban atas pertanyaan lama itu mulai tampak.
Aku bersyukur, pendidik di almamaterku menugasi kami (sekelas) untuk membaca Novel Para Priyayi karya Umar Kayam. Aku masih ingat betul: novel yang dicetak oleh P.T. Pustaka Utama Grafiti tahun 2000 (cetakan ketujuh) itu kupinjam dari perpustakaan kampus.
Karena diriku masih awam dan benakku digelayuti pertanyaan lampau, kuputuskan untuk fokus pada kata kunci "priyayi" disaat sedang membaca novel dengan tebal 308 halaman tersebut.
Menarik! Saat proses pembacaan, seolah-olah aku berada di dalam ceritera di novel Para Priyayi. Umar Kayam begitu mumpuni untuk menarasikan setiap peristiwa di sana: sungguh realis.
Akhirnya, sampailah pada tuturan nasihat oleh Romo Seten Kedungsimo: "Priyayi yang baik itu, Le, harus sadar akan roso rikuh..."
Saat meresepsi kalimat itu, pertanyaanku malah bertambah. Apakah ada kaitannya antarai roso rikuh, doktorandus, kharismatik, dan sebagainya itu dengan identitas kepriyayian seseorang?
Akhirnya, sampai sekarang aku belum memahami makna di balik kata priyai...