Z Bagian 5
“Bagaimana?”
“Hmmm.. aku bingung,” jawabku seadanya, aku baru saja selesai membaca cover bagian belakang buku berjudul Z itu. Buku yang baru dibeli Terry bulan lalu. Temanku ini seorang pecinta buku terlebih buku-buku romance maka aku tidak salah jika menanyakan kasus yang tengah kuhadapi kepadanya.
Aku adalah seorang perempuan dengan kaca mata kotak, aku juga seorang pecinta buku namun aku menyukai buku-buku detektif dan horor, bagiku itu lebih menantang dari pada buku-buku romance. Terkadang aku merasa heran dengan mereka para pecinta buku romance, apa asiknya cerita romance? Membosankan! Maka dari itu aku menemui Terry.
“Mau langsung ke ending? “
“Nggak, nanti nggak asik baca bukunya hehehe,”
“Baiklah.” Terry menyesap jus mangganya. Anak-anak masih saja sibuk dengan obrolan mereka.
“Sebenarnya apa si yang kamu suka dari cerita romance?” tanyaku ke inti dari semua ini.
“Bagiku cerita romance itu asik apalagi kalau kamu seorang melankolis hihi., itu sie yang aku rasain.” Terry diam sejenak, “Menurutku hampir nggak ada cerita yang sia-sia, semua cerita itu mengandung pesan minimal pesan kehidupanlah. Kenapa seseorang itu jahat? Pasti ada alasannya. Kehidupan ini pun nggak lepas dari yang namanya cinta maka sangat asik untuk membahas cinta. Setiap orang punya devinisi sendiri perihal cinta. Kisah cinta pun dari yang aku perhatikan cukup laku di pasaran. Jika seorang penulis bijak ia bisa menjadikan cinta ini sebagai media berbagi ilmu, di tengah kisah cinta ia selipkan masalah-masalah keagaman, sosial bahkan politik. Kamu tahu kan kalau banyak orang yang gagal dalam percintaan? Ia bisa belajar menjalin percintaan dengan baik melalui sebuah cerita.
Tapi tidak bisa dipungkiri pula jika buku percintaan ini kerap kali hanya dijadikan media bisnis yang tidak jarang merusak moral bangsa. Bayangkan saja jika terdapat cerita yang mengajarkan sex bebas? Bagaimana jika si pembaca mencontohnya? Hmmm. Maka para penulis pun harus mengikuti tren untuk terus memajukan bangsa. Jika yang sedang laris buku percintaan maka buatlah buku percintaan dengan pesan di dalamnya, jika yang laris buku horor maka buatlah buku horor dengan pesan di dalamnya. Jika pernulis tidak mengikuti tren maka habislah ia, dunia ini penuh persaingan kawan!” Terry mengakhiri ucapannya sembari tersenyum. Ia tidak melihat ke arahku, ke depan sana, di mana seorang lelaki yang telah mencuri hatinya tengah asik bercakap-cakap dengan anak-anak.
“Aku nggak paham kenapa Ran bisa ninggalin kamu? Apa yang kurang dari kamu? Kamu cantik, baik, pintar, romantis, dewasa penuh pengertian pula. Oiya, kamu juga setia, aku tahu kok kalau Dio anak kelas sebelah pernah nembak kamu waktu masih sama Ran dan kamu nolak cowok yang gantengnya luar biasa, Ran mah nggak ada apa-apanya dibanding Dio! Apalagi Ran itu mulutnya nggak di jaga!” Gerutuku perihal Ran. Aku jadi makin kesal dengan lelaki itu terlebih ucapannya barusan masih terekam jelas oleh ingatanku.
“Sudahlah. Kamu mengenal Ran tidak seperti aku mengenalnya, dibalik sifat buruknya terdapat sifat baik. Ran pasti punya alasan atas semua ini, esok atau lusa mungkin aku akan paham.”
“Apa jangan-jangan karena buku ini kamu masih suka sama Ran? Kok bisa ya Rain sama Ran ada dalam cerita ini?”
“Hihihi, tanyakan saja pada penulisnya,” Terry tertawa kecil.
“Woy, pulang yuk! Sudah sore ni!” Suara Glen tertuju kepada kamu berdua dan benar saja anak-anak yang lain sudah bersiap untuk pulang.
“Terry, aku pinjam bukunya ya!”
“Ok.”
***
Senja di kota hujan, bau khas tanah yang menyeruak, adzan magrib yang terdengar samar-samar, menghentikan laju sepeda ontel yang dinaiki oleh dua anak manusia beberapa detik kemudian sepeda itu kembali melaju menuju surau terdekat.
Kisah ini belumlah usai, pernikahan hanyalah awal dari sebuah kisah baru. Janur kuning telah melengkung. Rain telah menerima kenyataan, ia masih muda, untuk saat ini ia tidak ingin berurusan dengan cinta, ia akan fokus pada pekerjaannya. Kayla telah menyesal, tidak ada gunanya ia iri, semua itu malah membuat hidupnya menjadi kacau dan Pande berusaha ikhlas atas semua ini, bukankah ia yang telah menyuruh Dee untuk kembali kepada Ran? Sesak mungkin ada namun ia tak akan berlarut. Dee hanyalah salah satu perempuan dari sekian banyak perempuan di dunia ini, ia tidak akan menjadi orang bodoh yang menunggu bus di sebuah stasiun. Jika satu pintu hati tertutup maka masih ada pintu hati lainnya yang siap membuka.
“Jodoh itu kadang kala sesederhana magnet tapi dalam kapasitas dan kekuatan terbesarnya. Karena apapun yang ditakdirkan bersama kita, maka seberapa jauh dia dilemparkan, seberapa jauh dia terpisah, dia akan tetap kembali menempel ke magnet tersebut.”
-Tere Liye-
Pukul 21.30 aku menyelesaikan buku berjudul Z itu. Terungkap sudah kenapa Dee takut hujan? Kenapa Pande pergi? Kenapa Ran pergi? Bagaimana bisa surat dari Ran terpotong menjadi dua? Kenapa Kayla iri? Kenapa Rain mencintai Ran? Kenapa Ran dan Dee bisa saling jatuh cinta dan tak ketinggalan pula kenapa buku itu berjudul Z. Aku pun menjadi paham kenapa orang-orang menyukai cerita romance ternyata ia tidak seburuk yang aku kira.
Selesai.
Ran dalam cerita Z, terinspirasi dari seorang lelaki melankolis, pecandu kopi dan coklat. Terimakasih sudah hadir, semoga Tuhan megizinkan kita melihat senja bersama suatu hari nanti dan melewati hari tua bersama pula.
Harap maklum jika terdapat keanehan dalam penulisan cerita.
Ttd
Manusia biasa, perempuan tanpa sayap.
cerita sebelumnya : http://naskahsenja.tumblr.com/post/154851481921/z-bagian-4
@kitajabodetabek















