Mungkin, Ada Alasan Lain Mengapa Kita Dipertemukan
Berhentilah sejenak, jangan berlari terlalu jauh. Ada jarak yang harus kautempuh sebelum benar-benar yakin bawah garis akhir yang dituju benar-benar tepat untukmu. Mungkin waktu memang terlambat tiba untuk mempertemukan; kau harus menempuh patah hati berulang kali dan aku harus terus menerima kekalahan tanpa henti.
Mungkin, di sebuah persimpangan jalan, kita memang ditakdirkan untuk saling beririsan tanpa bertukar kata. Sampai, suatu hari, kita mulai saling menemukan melalui puisi demi puisi. Di dalamnya, kau membakar kembali perasaan yang telah lama mendingin. Pun denganku, menyiapkan segalanya; berjaga-jaga harus kalah kembali. Namun, terlepas dari segala takdir yang kelak kita bicarakan, bisa saja Tuhan menyiapkan cerita yang berbeda. Menyiapkan plot yang takpernah kaupikirkan. Bagaimana jika kau bertemu denganku hanya untuk belajar bahwa cinta tidak hanya perihal memiliki? Ada kekuatan besar hidup di sana dan kau harus belajar bahwa menemukan tidak serupa mencoba sesuatu yang membuatmu penasaran. Menemukan ialah sebuah proses yang akan membawamu pada bahagia atau hati yang patah. Mencintai ialah perihal menyatukan segala yang hidup di kepala dan dadamu; akhir dari kisah yang selama ini kautuliskan di dalam tetiap kata-kata. Pun denganku, bagaimana jika bertemu denganku ialah untuk belajar bahwa terlepas dari segala kekalahan aku tetap mampu dicintai oleh seseorang lain? Ada penyesalan besar dari tetiap keputusan mundur yang diambil, tetapi bukan berarti menjauh ialah akhir dari segalanya. Bukan berarti bahwa di balik patahnya harapan, tiada yang mampu menggantikannya. Mungkin, bertemu denganmu ialah caraku belajar untuk menyadari penantianku di masa silam; mencintai ialah memelukmu seutuhnya. Baik dan buruk. Sekali lagi, pertemuan kita mungkin telah direncanakan oleh Takdir, tetapi bisa saja Tuhan telah menyiapkan cerita yang berbeda. Jakarta, 14 Juli 2019










